Sepanjang menyurusi jalur pedestrian, tepatnya sejak keluar gudang, Viant sering membisikkan nama Hana. Sebanyak apa pun Juna mengabaikannya, Juna tahu Viant selalu bisa menarik penuh perhatiannya. Viant belum bosan meyakinkannya. "Ayolah, Jun. Dia sama Raisha tadi di kantin samping deket parkiran. Pemandangan langka ada staff cewe ke sana. Aku aka kaget."
Juna tetap melangkah tenang.
"Dan mereka ngomongin kamu."
"Bohong banget."
Viant melenguh panjang, heran dengan kekeraskepalaan sahabatnya itu.
"Nganggur bangeg mereka mengobrol tentangku. Kamu kira aku seleb?"
Viant melepas safety helmet di kepalanya, mengacak rambutnya yang basah oleh keringat, lalu memasang helmnya lagi. Viant mendengus keras. Berbicara dengan Juna kadang gampang-gampang susah. Diberi info begini, harusnya Juna tertarik.
"Kita lewat pintu gedung depan. Aku mau ke pos security depan, cek beberapa list."
Dalam kepala Viant terlintas sesuatu.
"Jun?"
"Apa?" Juna tetap berjalan lurus, tak menoleh.
"Kamu masih ga percaya kalau aku ketemu Hanaya dan dia ngomongin kamu? Dia mikirin kamu..."
"Nope. Ga percaya."
"Bahkan kalau aku ngomong bahwa kamu sempet muji masakan mama kamu?"
Juna memproses kalimat Viant dalam otaknya. Kaki lelaki itu sontak berhenti melangkah, ia berbalik dan menghadap Viant.
"See? Aku ga bohong, kan?" imbuh Viant. "Aku memang senang ngevodain kamu sama Hanaya, Bro. Tapi memangnya kamu pikir aku bakalan bohong? Kamu bukan seleb, kan? Ga satu Indonesia tahu tentang kamu dan mamamu."
Lidah Juna membeku.
"Jadi bener, kamu nyebut-nyebut mama kamu di depan Hanaya? Kenapa?"
Juna mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu... Juna bahkan tak tahu jawabannya. Apa karena berada di dapur membuat lelaki itu ingat masa remajanya dulu? Melihat Hana memasak makanan favoritnya membuat Juna lepas kendali, membicarakan sesuatu yang tak biasa ia bagi dengan orang lain selain Viant---sahabatnya.
"Jun?"
"Mungkin terbawa... suasana. Entahlah."
"Wow."
Juna memandang Viant heran. "Apanya yang 'wow'?"
Viant tersenyum simpul. "Kenyataan kalau kamu membiarkan dirimu sendiri terbuka sama seorang cewe. Dan kamu sepertinya ga menyadarinya. Kukira dari dulu kamu selalu ngutamain karier sejak kamu lulus sekolah. Finally..."
Juna mengalirkan napasnya berat. Tak mendapat jawaban untuk diucapkan pada sahabatnya itu, Juna memilik berbalik---bersiap pergi.
"Jun?"
Juna melirik Viant dari balik bahunya.
"You really did it?"
"Did what?"
"Forgive then forget. Ingat? Dulu kamu bilang papa kamu pernah ngomong gitu ke kamu," ungkap Viant. "Kamu udah memaafkan dan melupakan kesalahan mama kamu?"
"Entahlah."
Viant memandang sayu sosok belakang Juna. Entah kenapa, kadang Viant merasa hidup Juna jauh lebih rumit dari hidupnya.
"Oh, iya, Yan." Juna berbalik lagi. "Kamu ga cerita ke Hana, kan?"
"Cerita kalau orangtua kamu pisah? Tentu saja ga. Itu privasimu."
"Kira-kira apa yang dia pikirkan?"
Viant teringat senyum hangat Hana di kantin tadi. "Sepertinya dia mengira kamu anak mama."
Senyuman Viant menular di mimik wajah Juna.
"Membandingkan masakan mamamu sama masakan Hanaya. Manis sekali."
"Diamlah."
****
Karena beberapa security sedang sibuk mengecek para pegawai yang pulang kerja, Juna dan Viant memutuskan kembali ke gedung kantor. Keduanya berjalan pelan dan memasuki lobby, mendiskusikan akan mencari makan malam di mana---mumpung Juna berada di Bandung. Viant berjalan mendahului Juna kegika diliriknya Juna sempat menghentikan langkah untuk membaca pesan yang masuk di ponselnya.
Juna melangkah lagi. Namun lelaki itu terlihat heran ketika Viant menoleh ke belakang dan menyeringai ke arahnya. Juna mengerutkan alisnya. Viant tersenyum lebar, lalu berbelok. Tepat sedetik setelah Viant menghilang di belokan, sosok Hana muncul.
Perempuan itu sama kagetnya dengan Juna ketika tatapan mata keduanya bertabrakan.
Hana sempat berhenti melangkah sejenak. Tapi perempuan itu kembali melangkah maju---menuju pintu keluar lobby. Begitu jarak keduanya hanya dua langkah, Hana tersenyum, membungkuk sedikit untuk menyapa sopan pada Juna.
Juna membeku.
"Saya pulang duluan, Pak."
Juna tak sempat merespons balik. Perempuan itu sudah melangkah lagi, berjalan melewatinya.
Satu hal membuat Juna termenung. Perempuan itu membawa bunga mawar yang Juna tinggalkan di meja Hana. Lelaki itu menoleh ke belakang, menatap sosok Hana yang menjauh. Perempuan itu melewati pintu kaca lobby. Ia terlihat tersenyum ketika berbelok turun, mendatangi sebuah mobil yang baru saja parkir.
Cewe suka luluh sama bunga.
Juna tak bisa menahan senyumnya sendiri.
****
[Selasa, 13 Agustus 2019]
KAMU SEDANG MEMBACA
perfect love
Fanfiction𝐟𝐭. 𝐤𝐢𝐦 𝐬𝐞𝐨𝐤𝐣𝐢𝐧 "If God can take away something you never imagined losing, then God can replace it by something you never imagined owning."
