Chapter 30 [Querencia Prologue]

9.5K 1.3K 677
                                        

2 years later.

Naeul dan bayinya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.

Taehyung masih mengingat rentetan kalimat itu dengan jelas. Seakan-akan ada sebuah alat pemutar di dalam kepalanya yang siap memutar kembali setiap ingatan itu dengan amat baik, sampai-sampai Taehyung tidak tahu harus melakukan apalagi untuk menghentikan semua kenyataan pahit itu. Dunianya mendadak runtuh tepat di atas kakinya, semuanya benar-benar menjadi jelas ketika melihat wanita itu benar-benar masuk ke dalam tempat pembakaran bersama sisa perasaannya yang tertinggal di sana seorang diri.

Kini, semuanya telah menjadi kenangan. Hal yang paling Taehyung benci adalah ia tidak cepat menyadari segala sesuatunya. Mendadak dua tahun yang berjalan di bawah kakinya terasa berjalan sangat lama. Seolah-olah tuas waktunya telah mati bersama dengan setiap kenangan yang terkubur di bawah setiap rasa sakit.

Pada akhirnya, semua yang pergi justru hanya akan meninggalkan kenangan yang menyakitkan sekalipun itu adalah kenangan yang paling indah.

"Aku benar-benar terlambat menyadari semuanya." Taehyung tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri di depan sebuah gundukan tanah yang lembab sisa gerimis yang sempat datang beberapa waktu lalu, saat Taehyung baru saja tiba. "Tidak bisakah semuanya kembali seperti semula?"

Dia masih melanjutkan dengan pandangan sulit. Kedua netranya tidak berhenti mengeluarkan air mata saat merasakan dadanya ditekan nyeri yang teramat sangat─jelas bahwa ia merasa sangat kehilangan, meski faktanya Naeul telah pergi tepat dua tahun yang lalu. Tetapi semuanya seakan masih begitu segar di dalam ingatannya. "Kau tidak bisa pergi seperti ini."

Menggenggam tangkai bunga krisan di dalam genggaman hingga nyaris membuat telapak tangannya terluka, Taehyung hanya tengah mencoba mengendalikan setiap perasaannya yang mendadak akan berakhir pilu di atas kakinya. Seakan-akan seluruh kebahagiannya telah pergi bersama Naeul. Tidak ada lagi tempat paling baik selain menangis berulang kali dalam sehari, terhitung selama hampir dua tahun. Ini tidak mudah, sungguh.

Taehyung rasanya ingin mati dalam detik yang berlalu ketika setiap ingatan itu kembali, seperti sebuah mimpi paling indah yang akan selalu ia rindukan. Bahkan ketika ia benar-benar menemuinya di dalam sebuah kolase mimpi sekalipun, Taehyung hanya tidak ingin terjaga. Ia ingin dapat merasakan dekapan hangat itu lebih lama menggenggam seluruh kerinduannya. Merasa bahwa opsi terjaga atau hanya sekedar membuka kedua kelopak mata adalah hal paling menjengkelkan di dunia ini setelah tingkah Sua yang mendadak terlihat menjadi sangat menyebalkan.

Dia dapat menyadari dengan jelas bahwa untuk sesaat, di dalam setiap harapannya ketika hendak terlelap malam itu, bahwa mimpinya jauh lebih baik dari sebuah kenyataan yang tragis. Di sana mereka bertemu dengan cara termanis, tidak ada kesedihan, tidak ada yang saling meninggalkan. Tetapi faktanya, mimpi hanyalah sebuah harapan kosong yang diberikan oleh kenyataan.

Jika saja Taehyung tidak melakukan semua hal itu, mungkin ia masih dapat hidup bahagia bersama Naeul juga bayinya yang mungkin akan mulai tertawa dengan kedua gigi susu yang lucu diantara deretan gusi merahnya yang kosong. "Naeul, aku merindukanmu."

Dikemudian hari, di dalam setiap lapisan waktu yang bergerak pergi. Diantara mimpinya yang sepi atau diantara setiap perasaannya yang kosong, Taehyung akan mengingat setiap kenangan mereka dulu dengan semakin jelas. Ketika Taehyung terlelap bahkan terjaga seorang diri (meski faktanya ia terjaga tepat di sisi Sua) semuanya mendadak menjadi sangat menyakitkan. Dia pikir kesedihan itu akan berakhir dengan cepat, tetapi kenyataannya, semuanya bahkan semakin jauh lebih sulit seiring waktu.

Rasa rindu yang buruk itu menyiksanya dengan cara terbaik, terlepas bagaimana Taehyung berusaha menggali kembali setiap rasa penyesalan di dalam setiap tumpukan perasaan yang telah usai.

Terkadang Taehyung akan terjaga dengan air mata yang membentuk danau di atas bantalnya, menemukan Naeul terlelap di sisinya ketika ia terjaga, membuat Taehyung berpikir bahwa wanita itu hanya tengah menikmati istirahatnya yang nyaman. Tetapi semuanya hanya dalam harapannya yang semu. Naeul sudah lama mati dan tidak akan pernah kembali padanya.

Jika sejak tadi pria tersebut hanya menitikkan air mata dengan cepat, kali ini semuanya terasa semakin menyakitkan. Dadanya sesak, Taehyung merasakan tenggorokannya benar-benar sakit saat ia terisak panjang bersama tangisan yang pecah dengan cepat. "A-aku─" dia mencoba mengatakannya dengan sulit, menyeka hidungnya yang berair, kemudian melanjutkan dengan tersendat, "aku mencintaimu."

Angin mendadak bertiup semakin kencang, seolah membawa setiap rasa sakit itu melekat lebih banyak hingga Taehyung benar-benar tidak dapat menahannya lagi. Kaki yang sejak tadi hanya stagnan perlahan bergerak pelan. Bunga krisan cantik yang ia bawa diletakkan di atas tumpukan lainnya yang setiap hari ia letakkan di atas sana hingga menumpuk sangat banyak─nyaris membusuk. Menangis tersedu dengan sulit hingga kehilangan cara untuk bernapas, Taehyung pada kenyataannya masih dapat mendongakkan kepala, menatap awan hitam yang bergerak di atas kepalanya, merasakan dunianya seakan menjadi sangat sepi dan kecil.

Entah berapa lama berada di sana, menangis hingga membuat kedua matanya panas, Taehyung hendak berbalik, berjalan pergi dari tempat tersebut, tetapi anehnya, Taehyung melihat bayangan seseorang di kejauhan. Mengerjap beberapa kali, Taehyung mendadak terdiam. Jantungnya bekerja sangat cepat saat tubuhnya hanya dapat diam tak bereaksi melihat wanita yang ia rindukan berdiri sangat jauh darinya dengan gaun putih menyentuh tanah. Siapapun yang melihat Taehyung mungkin akan mengatakan bahwa pria itu tengah berhalusinasi. Bagaimana bisa seseorang yang sudah meninggal dua tahun yang lalu tiba-tiba muncul di sana, menatap kosong ke arahnya dengan wajah yang murung? Tentu saja itu mustahil.

Tetapi Taehyung yakin, bahwa wanita yang berdiri di sisi tembok krematorium itu adalah Naeul.

"N-naeul." Dia melangkah pelan─setengah tidak percaya. "Benar. Itu Naeul!"

Sayangnya saat Taehyung nyaris melangkah pergi dari situ, ponselnya mendadak berbunyi. Ia merogoh sakunya dengan cepat, buru-buru mengangkat panggilan itu dengan kedua netra yang masih menatap pada satu titik yang sejak tadi hanya diam terpaku menatap lurus ke arahnya.

"I-ibu. Naeul─" menelan salivanya dengan kesulitan, Taehyung lantas melanjutkan, "aku melihat Naeul, Bu."

Nyonya Kim mendadak terdiam. Ada banyak kesedihan yang menyerang hatinya, tetapi lebih besar ketika melihat anaknya tenggelam di dalam rasa bersalah juga depresi selama hampir dua tahun belakangan setelah Naeul meninggal. "Nak, Naeul sudah lama meninggal," Nyonya Kim berujar pelan setengah ingin menangis.

Taehyung sendiri merasa sangat yakin bahwa wanita itu adalah Naeul, dia sangat yakin. "Itu Naeul, Bu. Aku melihatnya menatapku dari kejauhan. Aku harus menemuinya." Seharusnya saat itu Taehyung berlari menghampiri sosok yang hanya berdiri diam di sana dengan langkah cepat, tetapi mendadak pening hebat menghantam kepalanya. Ia berhenti, kemudian nyaris terjerembab. Perlahan tubuhnya jatuh ke atas permukaan tanah, Taehyung yang mengerang hebat membuat Nyonya Kim ditelan panik.

"Tae, kau baik-baik saja?"

"A-aku─argh!" Dahinya mengernyit, napasnya memburu, sesak itu datang lagi. Taehyung hampir tidak dapat bernapas, ia menarik napas dengan sulit hingga membuat wajahnya memerah, mencoba menjangkau apapun untuk tetap membuatnya sadar sebelum kehilangan sosok itu.

Tetapi Taehyung tidak dapat menahannya lebih lama lagi, tepat saat gelombang menyakitkan itu kembaki datang kemudian menghantam seisi kepalanya, Taehyung jatuh ke atas tanah, menimbulkan bunyi yang cukup keras hingga membuat Nyonya Kim sangat panik dan terus memberondongnya dengan pertanyaan agar Taehyung dapat mengatakan dimana ia sekarang.

"Argh!"

Taehyung hampir tidak bisa bernapas, keringat sebesar biji jagung berjatuhan memenuhi dahinya, turun melewati wajahnya dengan cepat. Ia berulang kali mencoba meraup oksigen, tetapi tidak membuahkan hasil, hingga satu-satunya yang ia lihat sebelum semuanya nyaris memudar di dalam pandangannya adalah wajah wanita itu mendadak tersenyum sengit, matanya mendadak berubah merah dengan rambut panjangnya yang menjuntai menutupi separuh dari wajahnya, dan melihat bibirnya bergerak pelan di kejauhan saat mengucapkan sebuah kalimat : "Kau harus menderita dan mati." <>

HelleboreTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang