PART 2

6.9K 526 10
                                        

--Selamat atas terbangunnya jalan raya baru oleh Bapak Abid Abraham--

Tulisan itu terpampang di sebuah spanduk berukuran cukup besar yang melintang di jalan. Orang-orang berdiri dengan sebucket bunga juga senyum lebar di wajahnya. Tampak seorang pria berusia 50 tahun-an akhir berdiri dengan jas hitamnya di dampingi dua orang berbadan besar dan tinggi. Bisa terlihat bahwa ia begitu bahagia saat ini.

"Saya berharap jalan raya baru ini bisa sangat membantu kalian semua, khususnya kepada penghuni Panti Asuhan Kasih Ibu. Karena dengan adanya jalan baru ini, mereka yang ingin membantu ataupun menyumbangkan kebutuhan untuk anak panti pasti akan lancar dan nyaman saat perjalanan. Saya Abid Abraham turut bangga atas antusias kalian semua. Terima kasih."

Kalimat sambutan Abraham disambut oleh antusias para warga. Gemuruh tepuk tangan beberapa orang yang hadir membuat jalan itu kian ramai.

"Sukses Pak Abraham!" ujar seorang wanita berambut ikal dengan antusias.

"Kami akan selalu mendukungmu!" teriak pria berkacamata di belakangnya yang tak ingin kalah.

"Hidup Bapak Abraham!" teriak beberapa orang dengan mengangkat kepalan tangannya di udara.

Abrahan tersenyum sambil melambaikan tangannya. Terlihat bahwa orang-orang begitu menghargai dan mengaguminya. Bahkan beberapa orang menyanjung kebaikan pria yang sangat dihormati oleh semua warga kota.

*****

"Ada apa ini? Kenapa jalan begitu ramai orang?" tanya Zayyan dengan mengamati jalan dari balik kaca mobilnya. Matanya menjelajahi tiap orang yang berdiri di sana.

"Ah itu, peresmian jalan raya baru oleh Pak Abraham." jawab Juna dengan mengeluarkan ponselnya untuk melihat sesuatu.

Zayyan menaikkan satu alisnya dan menoleh ke arah Juna di sampingnya.

"Pak Abraham? Bukankah dia seorang politikus? Kenapa turut hadir?"

Juna sedikit tersenyum, ia memaklumi perkataan rekannya yang biasanya tak mempedulikan seorang politikus.

"Ya, kudengar dia juga seorang aktivis dan sponsor terbesar untuk Panti Asuhan Kasih Ibu di sana. Dilihat dari sikapnya, tampaknya dia orang yang benar-benar dapat dipercaya." ujarnya dengan mengisap rokok dan mengamati satu per satu orang pada kerumunan warga yang hadir.

Zayyan mendecak dengan raut khas nya. Raut yang penuh keraguan.
"Ck, aku tidak percaya masih ada orang bodoh yang bicara tentang kepercayaan pemerintahan dan loyalitas." ucapnya dengan memutar bola matanya malas.

"Zay, kau mulai lagi. Kita sebagai detektif yang bekerja pada-"

"Bukankah itu orangnya?!" tanya Zayyan sembari merebut ponsel Juna yang kini menampilkan foto tersangka yang sedang mereka cari.

Obrolan mereka seputar politikus yang sedang berada di jalan yang sama dengan mereka, mendadak terhenti.
Zayyan dan Juna melihat gerak-gerik yang mencurigakan dari salah satu pria di sana.

Mereka tampak kesal namun juga senang. Bagaimana tidak? Dua hari mereka melakukan pengintaian terhadap tersangka, dan sebuah kebetulan jika tersangka muncul di sebuah peresmian jalan raya baru. Entah pria itu bodoh atau memang sengaja ingin menyerahkan dirinya.

Juna membuang putung rokonya lewat jendela mobil dan membuka pintu mobil dengan raut marah.
"Sial! Berani-beraninya dia muncul di situ!"

Zayyan dan Juna berlari mengejar tersangka yang menggunakan jaket dan topi berwarna hitam. Mereka tak mempedulikan kerumunan orang yang mulai ketakutan dan memperhatikan mereka.

BLACK CODETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang