Beberapa menit telah berlalu. Kalimat terakhir yang diucapkan Zayyan pada Nero bagaikan pisau yang menusuk dadanya. Ucapan dengan nada kasar yang dilontarkan Zayyan mampu membuat batin Nero terluka dalam sekejap. Pria paruh baya itu terduduk lemas di kursinya. Ia memukul-mukulkan tangannya di dadanya sendiri, seakan sesak di dadanya mulai menyebar.
Nero menghela napas, ia berusaha mengontrol perasaan dan pikirannya. Ia membuka telapak tangannya, matanya menatap sendu ke arah telapak tangan.
Perih, pasti perih. Tak hanya perih, namun tamparan di pipi Zayyan juga membuatnya merasa bersalah. Bahkan hingga sekarang, tangannya masih bergetar.
Meskipun pria 27 tahun itu bukanlah anak kandungnya, namun ini adalah kali pertama ia marah padanya hingga melakukan kontak fisik. Nero tahu jika anak angkatnya itu memiliki trauma mendalam akibat kekerasan yang pernah dilakukan Ayah kandungnya dulu, yaitu Derlan. Dan hal itu membuat Nero semakin merasa bersalah dan yakin telah menyakiti hati dan tubuh Zayyan secara bersamaan.
Sejujurnya Nero takut jika kesalahpahaman antara dirinya dan Zayyan tak kunjung usai tanpa penjelasan sekalipun. Namun harus bagaimana lagi? Zayyan terus menyela ucapannya seolah enggan mendengar penjelasannya sedikitpun. Bahkan Nero pun tak sampai hati ketika akan meluruskan semua kesalahpahaman yang Zayyan tuduhkan pada dirinya.
Terbesit di benaknya, akan betapa bencinya pria itu padanya. Tetap saja, Nero harus mencari cara agar Zayyan mau mendengar kisah yang sebenarnya dan alasan dibalik semua kisah masa lalu yang melibatkan mereka dalam situasi yang sangat kacau ini.
Ricky memandang Nero iba, entah kenapa ia mendadak merasakan perasaan sendu yang juga dirasakan dokter di depannya itu.
"Dok, apa kau baik-baik saja?"
Nero memijat pelipisnya, rautnya semakin sendu. Kesedihan nampak jelas dari sorot matanya.
"Baik-baik saja? Tentu saja tidak. Anakku meninggalkanku bahkan sebelum aku sempat menjelaskan semuanya. Dia tidak mengerti apapun tentang ini. Tidak semuanya. Dia hanya mengetahui sebagian kecil dari cerita eksperimen ini."
"Perkataan Zayyan sungguh keterlaluan."
"Aku yang keterlaluan Rick, aku yang memulai semua ini. Aku yang membuat obat itu hingga eksperimen ini. Seandainya saja dulu aku tak membuatnya, Zayyan tidak akan seperti itu."
Ricky menepuk pelan pundak Nero. Ia bisa merasakan penyesalan yang teramat dalam dari pria paruh baya itu.
"Tapi Dok, Zayyan bukanlah anak kandungmu. Kenny adalah anakmu yang sesungguhnya."
Mendengar ucapan Ricky, Nero mendongak seketika. Ia menatap tajam ke arah Ricky dan kemudian menepis tangannya dari pundaknya.
"Apa itu yang kau pikirkan?! Tak peduli status Zayyan adalah anak kandungku atau tidak. Bagaimana pun, aku lah yang merawatnya setelah lepas dari eksperimen gila itu dulu. Aku lah yang membuatnya memiliki kemampuan di luar orang normal. Meskipun begitu, aku menyayanginya layaknya putraku sendiri. Jadi kau jangan pernah berbicara seperti itu lagi!"
Ricky sedikit tersentak dengan perkataan Nero yang diakhiri dengan suara meninggi. Seketika ia merasa menyesal oleh ucapannya baru saja.
'Kenapa mulutku ini tidak bisa di kontrol saat bicara dalam situasi seperti ini? Sungguh bodohnya diriku!' batinnya. Ia mengangguk seketika seraya mengucapkan permintaan maafnya, ia benar-benar merasa tak enak hati pada Nero.
*****
Pukul 22:40
Angin malam berembus pelan, tak begitu dingin tapi cukup sejuk untuk dinikmati pada waktu larut malam seperti ini. Bahkan suara sekecil apapun akan bisa terdengar di malam setenang ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
BLACK CODE
Mystery / ThrillerKasus pembunuhan satu keluarga menuntun tiga orang detektif yang bekerja sama dengan dua dokter forensik untuk menyelidiki suatu kasus besar yang melibatkan perdagangan manusia hingga serangkaian kasus lainnya. Di samping itu, sebuah project besar b...
