Bagian 3 : Aku dan Masa Laluku.

1.4K 144 2
                                        

Cerah sekali. Entah berapa kali aku tertawa sendiri. Tidak, aku tidak gila. Hanya saja aku sedang sangat senang saat ini. Bagaimana tidak, aku mendapat pujian dari guruku saat bermain piano di kelas tadi.

Ah, aku senang sekali. Aku akan memberitahukannya kepada ayah dan ibuku. Pasti mereka akan senang mendengarnya. Seharusnya ayah sedang berada di rumah. Ibu? Mungkin dia sedang bekerja di rumah tetangga.

Tidak apa. Setidaknya ayah bisa mendengar ceritaku ini.

Aku berlari-lari kecil memasuki halaman rumah. Dengan senyum yang semakin mengembang, aku membuka pintu.

"Ayah—?!"

Tidak. Ucapanku terhenti. Mataku melotot dan tubuhku tiba-tiba menegang hebat. Aku ditatap oleh sepasang mata tajam di depan sana.

Pandanganku turun. Kini terarah kepada sosok laki-laki yang tergeletak dengan genangan cairan merah di sana. Itu ayah. Itu ayahku. Cairan apa itu? Darah? Aku tidak ingin percaya.

"A...Ayah...?!" bibir mungilku bergerak lirih. Tiba-tiba air mataku meluncur. Dadaku terasa sesak. Padahal otak kecilku tidak mengerti apa yang terjadi di sini.

"Hyung... Apa yang kau lakukan pada ayahku?" dengan polosnya aku bertanya begitu kepada orang itu.

Bukannya menjawab, laki-laki itu langsung mendekatiku. Aku refleks mundur, namun dengan cepat dicekal olehnya.

"Sakit... Lepaskan aku..." Aku hanya bisa meronta saat tangan besar laki-laki itu mencengkeram kasar lengan mungilku. Namun sia-sia. Siapapun tahu jika aku tidak akan bisa melepaskan diri.

"Dengarkan aku, anak kecil." laki-laki itu berbicara kepadaku. Suaranya yang berat dan serak membuatku merinding seketika. "Ayahmu telah mati. Jika kau ingin ikut bersamanya, aku akan membantumu."

Aku menangis semakin keras. Bagaimana tidak, anak berusia enam tahun sepertiku disuguhkan pemandangan mengerikan seperti ini, apa yang bisa aku lakukan?

"DIAM!!" laki-laki itu membentakku. Spontan saja tangisku semakin menjadi. Akhirnya dengan frustasi dia membekap mulut dan hidungku agar tidak bersuara lagi.

Aku mencoba untuk terus meronta melepaskan diri. Namun tidak bisa. Nafasku semakin habis. Kepalaku sakit, semuanya memburam di mataku. Dan akhirnya hanya itu yang tertinggal di ingatanku.

***

Aku tersentak. Mataku menatap nyalang ke depan sana. Nafasku terasa tercekat, terengah-engah tak beraturan. Aku dapat merasakan buliran keringan membasahi dahiku dengan deras.

"Hyung, kau baik-baik saja?"

Aku spontan menoleh dan menemukan sosok Jungkook di sana. Sedang apa—aku menoleh ke sekitarku. Ini adalah rumahku. Dan laki-laki tadi tidak ada di sini. Aku menghela nafas panjang, tak tahu harus merasa apa saat mengetahuinya.

"Ada apa, Hyung?"

Aku masih terdiam, tak menggubris pertanyaannya. Di otakku masih bersarang berbagai pikiran rumit yang tidak mampu untuk ku pecahkan. Aku... Apa yang sedang aku lakukan?

"Hyung, jawablah!"

Aku kembali menoleh ke arahnya. Oh, tidak. Sepertinya maknae itu takut karena aku tak juga menjawab pertanyaannya. Dia... Ah, ya sudahlah.

"Maaf, aku..."

Kenapa ini? Lidahku kelu. Suaraku seakan enggan keluar. Aku tidak tahu apa yang terjadi di sini, tapi ini bukan kabar baik untukku. Suara yang dapat aku keluarkan terdengar bergetar bahkan di telingaku sendiri.

Silence [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang