BRAKK!!
Aku menoleh. Meskipun suara itu begitu keras, entah kenapa aku tidak terkejut. Mataku melihat Jimin berdiri di sana dengan penampilan yang berantakan. Nafasnya tersenggal, aku yakin jika dia sangat terburu untuk datang kemari.
"Yoongi hyung..."
Aku segera berdiri lalu berjalan menghampirinya. Entah bagaimana dia bisa sampai di sini. Padahal tubuhnya bergetar hebat, seolah dia bisa ambruk kapan saja. Lagi pula kenapa dia harus datang ke sini tanpa memikirkan dirinya sendiri.
"Jungkook... Dia kenapa, hyung?"
Seharusnya kau mencemaskan dirimu terlebih dahulu, Jimin-ah. Aku khawatir dia akan pingsan setelah ini. Wajahnya benar-benar pucat. "Masuklah dulu." aku menemukan diriku berbicara tanpa seizinku.
Tapi meskipun aku mengatakan itu, Jimin tetap bergeming. Akhirnya aku langsung menariknya masuk dan menutup pintu. "Kau pergi ke sini sendiri?" tanyaku sembari mendudukkannya di sofa.
"Ya." jawabnya singkat. Dia menoleh, memandang Jungkook yang terbaring tak sadarkan diri. Jimin langsung berdiri dan berjalan mendekati maknae itu. "Apa yang terjadi, hyung?"
Aku tetap diam, benar-benar mengacuhkan pertanyaannya. Tapi sepertinya Jimin tidak mempermasalahkan itu dan malah memperhatikan Jungkook yang masih setia menutup matanya. Hanya begitu. Dia benar-benar hanya melakukan itu bahkan hingga beberapa menit kemudian.
Tidak tahan, aku menghela nafas lalu berjalan ke arahnya. Aku langsung menarik sebuah kursi dan meletakkannya di sisi ranjang. Tanpa perlu bersuara aku langsung mendudukkan Jimin di sana. Dia gila ya berdiri seperti itu sedangkan aku yang melihatnya malah nyaris yakin jika dia akan segera pingsan.
"Aku keluar sebentar. Kau di sini saja, oke?"
Dia tidak menjawab, hanya mengangguk singkat. Aku mencoba untuk mengerti dan langsung pergi. Jujur saja melihat mereka—Jimin dan Jungkook—seperti itu membuatku tidak nyaman. Ah, itu tidak ada hubungannya. Aku hanya ingin ke kantin dan membeli minuman.
Jadi memang hanya itu yang aku lakukan. Turun ke lantai dasar lalu berjalan ke kantin, membeli dua botol air mineral, lalu kembali ke kamar rawat Jungkook.
Saat aku kembali masuk ke dalam ruangan itu—dengan nyaris tanpa suara—Jimin sama sekali tidak bereaksi. Aku yakin jika dia memang tidak menyadari kedatanganku. Tapi aku memilih untuk tidak mengganggunya dan langsung duduk di sofa.
Aku tidak bermaksud untuk memperhatikannya, tapi mataku terlanjur ingin melihatnya. Jimin hanya duduk diam di sana sambil menggenggam sebelah tangan Jungkook. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi, tapi aku yakin dia sedang sedih. Kau tahu nama julukannya kan? Aku sih tidak ingin membahasnya.
Baiklah, aku tidak akan diam-diam memperhatikan orang lain seperti ini. Jadi aku langsung mengalihkan pandanganku lalu membuka botol air mineral dan meminumnya. Kalian tahu, awalnya aku ingin memberikan satunya lagi kepada Jimin. Tapi aku tidak ingin menggagalkan adegan dramatis ini. Benar kan, Author-nim?
Diam!
Aku memilih untuk menyalakan ponselku dan melihat beberapa pesan yang muncul. Kebanyakan dari Taehyung atau Jin hyung. Ah, Hoseok juga. Namjoon hanya menanyakan keberadaan Jungkook. Lalu sisanya sama sekali tidak penting.
Karena aku malas membaca deretan pesan dari Taehyung, Hoseok, dan Jin hyung, jadi aku membuka pesan dari Namjoon dan memberitahunya jika Jungkook sedang bersamaku. Jika kalian ingin tahu, maka kuberitahu jika responsnya sama seperti Jimin. Tapi setidaknya dia masih waras dengan tidak memaksa ke sini dan tidak langsung mengabari yang lainnya. Bisa-bisa rumah sakit ini hancur oleh teriakan Jin hyung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Silence [END]
Fanfiction[방탄소년단 x 민윤기] Min Yoon Gi lebih dikenal dengan nama Suga, dewan sekolah yang tampan dan terkenal ternyata mengalami trauma. Entah mengapa dia lebih nyaman mengobrol dengan notebook kecil yang selalu dibawanya kemanapun. Satu hal yang sangat disukain...
![Silence [END]](https://img.wattpad.com/cover/199178695-64-k444697.jpg)