"Beristirahatlah yang benar. Lukamu itu cukup parah." itu adalah ucapan Namjoon. Kami mengantar Jungkook pulang ke rumahnya. Jin hyung yang membawa mobil dan dia juga yang menyetir.
"Baiklah. Terima kasih, hyung." ucap maknae itu disertai senyum.
"Kalau begitu kami pergi."
Setelah Jungkook mengangguk, Jin hyung menjalankan mobil kembali. Aku masih memandang Jungkook yang sedang melambai ke arah kami. Perlahan tubuhnya kian mengecil di pandanganku. Aku dapat melihat gurat putus asa di sana. Ada apa dengannya?
"Yoongi hyung, kau sudah baik-baik saja?" Aku menoleh ke arah Jimin yang duduk di sebelahku. Kenapa dia tiba-tiba menanyakan itu? Padahal aku sudah melupakan kejadian siang tadi. Mengapa dia harus mengingatkanku lagi?
"Aku masih memiliki cukup tenaga untuk membuatmu menangis." ujarku dingin.
Tapi Jimin justru tertawa mendengar ucapanku. Dia ini selalu menganggap aku main-main, ya? "Aku tidak akan menangis hanya karena kau membentakku, hyung. Itu sudah terlalu biasa." ujarnya.
Benarkah? Rasanya aku tidak sering membentaknya. Apanya yang terlalu biasa? Aku lebih sering membentak anggota dewan sekolah yang lambat bekerja. Lagi pula aku tidak punya waktu untuk disia-siakan bersama mereka.
Aku mengambil note book dan pensilku. Kebiasaanku saat sedang tidak melakukan apapun, menulis lagu. Aku juga bingung kenapa inspirasi bisa datang kapanpun dia mau. Contohnya saat aku sangat ingin menghancurkan senyum bang**t dari wajah Jimin itu.
"Wah, kau selalu menulis lagu di saat yang tidak bisa ku pikirkan. Aku penasaran dari mana kau mendapatkan ide." Jimin sialan itu kembali menggangguku.
Sudah kubilang, melihat senyum bang**t mu itu membuatku ingin mencela mu di dalam lagu.
"Aku selalu ingin bisa menulis lagu sepertimu. Lain kali ajari aku ya, hyung." Jimin akhirnya mengatakan itu kepadaku sebelum kemudian mengobrol dengan Taehyung yang duduk di belakangnya. Tumben sekali dia pengertian.
Tidak mau memikirkannya, aku kembali fokus pada apa yang ku tulis. Belakangan ini aku tidak hanya menulis lirik lagu. Mungkin karena terbiasa menulis seperti ini, otakku menjadi memiliki lebih banyak ide untuk dituangkan ke media selain lagu.
Apapun itu terserahlah.
"Yoongi-ya, kau ingin langsung pulang?" aku spontan mendongakkan kepada dari note book dan memandang Jin hyung yang barusan bertanya.
"Ya, begitu."
"Kalau dipikir-pikir kau jarang sekali berkumpul bersama kami. Apa yang kau lakukan di rumah?" tanya Jin hyung.
"Tidak ada."
"Lain kali luangkanlah waktu. Kita bisa berkumpul dengan Jungkook juga."
Apa aku memang terlalu sering mengabaikan mereka. Rasanya aku memang jarang berkumpul dengan mereka. Aku harus mengikuti perkataan ibuku dan rajin belajar. Ah, menyebalkan. Apakah setiap hari aku harus selalu terkekang seperti ini? Aku juga ingin bersenang-senang.
"Oh ya, akhir pekan ini ada festival musik di pusat kota. Kalian ingin ke sana, hyung?" tanya Taehyung kepada kami.
"Festival musik? Jarang sekali ada acara seperti itu. Aku sedikit tertarik untuk pergi." jawab Hoseok.
Festival musik, ya? Itu terdengar menyenangkan. Tapi sudah pasti akan ada banyak orang di sana. Aku akan merasa risih jika pergi. Tapi tetap saja aku ingin melihatnya.
"Aku rasa akan ada beberapa lomba juga." Oh, aku tidak tertarik dengan yang satu ini.
"Lomba apa?"
"Hmm... seperti dance cover, song cover, dan... oh ya, Yoongi hyung, kurasa kau akan menyukainya. Mungkin kau tertarik untuk melombakan salah satu lagumu. Jika menang akan dinyanyikan oleh seorang idol." kata Taehyung.
Oh, benarkah? Mungkin aku memang sedikit tertarik dengan yang ini. Aku bosan melihat tumpukan lagu yang tidak pernah aku sentuh belakangan ini. Karena terlalu banyak, aku tidak memiliki waktu untuk melihatnya lagi.
Tapi aku merasa tidak percaya diri dengan laguku sendiri. Aku memang suka menulis dan menciptakan lagu. Tapi melombakannya... aku rasa itu tidak cocok untukku. Aku tidak yakin jika semua orang akan menyukainya.
"Kami akan mendukungmu, hyung. Lebih baik kau mencoba, kan?" kata Namjoon yang duduk di sebelah Jin hyung.
"Lagi pula kau kan sering sekali menulis lagu, hyung. Akan sayang jika itu hanya ditumpuk begitu saja. Kau harus menunjukkan betapa bagusnya lagumu kepada dunia." Jimin menambahkan.
"Kalian mengatakan itu seolah kalian benar-benar mengetahuinya. Kalian bahkan tidak pernah mendengar laguku. Bagaimana mungkin kalian bisa memastikan jika itu cukup bagus untuk didengar banyak orang?" ujarku.
Hening sejenak. Tidak ada yang berbicara lagi setelahnya. Benar, kan? Mereka juga tidak mempercayai kemampuanku. Bahkan aku sendiri tidak percaya, bagaimana dengan mereka.
"Wah, itu kalimat terpanjang Yoongi hyung yang aku dengar hari ini." Hoseok langsung memukul kepala Taehyung begitu mendengar apa yang diucapkannya. Alien itu masih sempat menghitung berapa kata yang aku ucapkan, ya?
"Hyung, aku hanya bercanda. Astaga! Ini sakit sekali." Taehyung berteriak sembari memegangi kepalanya yang barusan dipukul oleh Hoseok. Aku tahu itu pasti sakit.
"Berhentilah bersikap berlebihan, Taehyung." kali ini Jin hyung yang berkata.
"Aku tidak berlebihan, hyung."
"Aku tidak memukulmu sekeras itu, kan?" kata Hoseok.
"Ya! Taehyung, kau kenapa?" teriakan Jimin langsung membuatku menolehkan kepalaku kepada Taehyung. Apa itu... darah?!
"Ada apa?" tanya Jin hyung.
"Namjoon, ambilkan tissue!" perintahku. Namjoon langsung mengambil tissue yang ada di sana lalu memberikannya kepadaku. Aku langsung menerimanya dan menyodorkannya kepada Taehyung.
"Terima kasih, hyung."
Setelah menarik beberapa lembar tissue, dia segera membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya lalu menyumpalnya. Ah, dia sakit? Padahal sedari tadi dia masih sangat cerewet.
"Apa aku benar-benar memukulmu terlalu keras? Maafkan aku." sesal Hoseok.
"Ah, tidak. Kurasa aku hanya kelelahan." jawab Taehyung sembari menyandarkan punggungnya lalu memejamkan matanya.
"Karena membantu petugas perpustakaan menyusun ulang buku lalu berlatih untuk ujian praktik basket?" tanya Jimin.
"Dari mana kau tahu, hyung?"
"Aku yang mengajakmu berlatih setelah kau selesai membereskan perpustakaan, bodoh."
"Oh, benar juga."
Aku memandang mereka dengan tatapan aneh. Mereka ini sedang apa sih? Tapi Taehyung membantu petugas perpustakaan menyusun ulang buku? Ternyata alien ini bisa bersikap baik juga.
Tapi hanya membereskan perpustakaan lalu berlatih bermain basket bisa membuatnya kelelahan? Aku pikir Taehyung tidak selemah itu. Dia pasti melakukan sesuatu yang lain.
Ya sudahlah. Apa urusanku? Biarkan saja dia melakukan apapun yang dia inginkan. Selama itu tidak merugikanku, untuk apa aku peduli.
"Kau baik-baik saja? Apa perlu ku antar ke rumah sakit?" tanya Jin hyung.
"Tidak perlu, hyung. Aku hanya ingin cepat cepat pulang dan beristirahat." jawab Taehyung.
"Baiklah kalau begitu."
Aku memandang Taehyung sekali lagi. Ah, aneh sekali. Kenapa hari ini dua dongsaengku sakit? Aku curiga dia dan Jungkook sudah sepakat akan sakit hari ini.
Ah, otakku bermasalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Silence [END]
Fanfiction[방탄소년단 x 민윤기] Min Yoon Gi lebih dikenal dengan nama Suga, dewan sekolah yang tampan dan terkenal ternyata mengalami trauma. Entah mengapa dia lebih nyaman mengobrol dengan notebook kecil yang selalu dibawanya kemanapun. Satu hal yang sangat disukain...
![Silence [END]](https://img.wattpad.com/cover/199178695-64-k444697.jpg)