Lima : Sebuah Perpisahan

3.7K 186 0
                                        

Satu minggu telah berlalu dan kini, telah datang saatnya di mana aku harus menjawab pertanyaan Pak Hanif, selama tujuh hari itu aku isi dengan sholat istikharah, melibatkan Allah dalam keputusan yang aku ambil.

Hingga kini, tibalah saat yang juga terasa mendebarkan, aku duduk tepat di samping Abi dan Umi, sebelumnya aku sudah membicarakan hal ini kepada mereka dan sejatinya, mereka selalu mendukung apa yang aku putuskan, selama itu baik, selama aku mempunyai alasan yang kuat. Sesungguhnya mereka tidak memaksaku untuk menerima lamaran Pak Hanif, namun mendengar Abi yang selalu memuji Pak Hanif, aku jadi berpikir untuk menerimanya.

Bismillah, atas nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

"Aku udah pikirin semuanya, aku udah ngobrol sama Abi dan Umi dan yang paling penting aku sudah melibatkan Allah dalam keputusanku." Aku menjeda ucapanku, menelan ludah, rasanya sesak sekali. "Bismillah, aku akan menerimanya."

"Alhamdulilah." Saat itu kata syukur memenuhi langit-langit ruang keluarga, beberapa kali aku mencoba untuk menatap Pak Hanif, beberapa kali juga ia mencoba untuk membuang pandangannya. Namun, satu yang ku tahu tentangnya, ia tengah menjaga pandangannya.

"Jadi tanggal berapa pernikahan mereka akan di laksanakan?" Seru Ayah dari Pak Hanif, hening seketika, hingga akhirnya beliau menyambung ucapannya. "Saya harap secepatnya, karena sudah sejak lama sekali saya menginginkan menimang seorang cucu."

Rasanya perutku di aduk-aduk, bisa aku pastikan jika pipiku saat ini sudah semerah kepiting rebus, aku semakin menundukkan pandangan.

"Bagaimana kalau bulan depan?" Ujar Pak Hanif yang membuat kami semua mendonggak searahnya, itu artinya tinggal dua minggu lagi dan apakah itu tidak terlalu cepat?

Oh, Tidak.

Harusnya aku tahu bahwa Pak Hanif selalu mengejutkan.

***

Keesokan harinya, ketika baru saja selesai melaksanakan sholat isya, aku di kejutkan dengan kedatangan Bang Gafar dan Bang Jafar, bukannya harusnya mereka pulang satu minggu lagi? Lalu mengapa mereka harus pulang sekarang?

"Assalamualaikum Zafira." Salam Bang Gafar, ia menyodorkan tangan kanannya kearahku untuk kemudian ku cium tangannya, selanjutnya Bang Jafar juga melakukan hal yang sama.

"Walaikumsalam Bang. Loh, kenapa Abang pulang sekarang? Bukannya Abang pulang satu minggu lagi ya?" Aku menjeda ucapanku, memberikan mereka waktu untuk menjawab. Namun, karena tak kunjung menjawab akhirnya aku meneruskan ucapanku. "Abi dan Umi lagi keluar kota, mereka mau ngabarin keluar besar kita kalau dua minggu lagi aku mau nikah sama Pak Hanif."

"Justru karena itu kita berada di sini." Ujar Bang Jafar, aku mengenyitkan kening, ini terlihat janggal di mataku, terlebih melihat sikap Bang Gafar yang hanya diam saja, biasanya jika sedang merindukanku dan akhirnya bertemu denganku, ia akan melepas rasa rindunya dengan mencubit habis pipiku atau melakukan hal apapun yang bisa membuatku merengek bahkan sampai menangis.

"Ada apa?" Itulah sebuah pertanyaan yang pada akhirnya menghancurkan ketegaran hati Bang Gafar, menghancurkan ucapan receh Bang Jafar.

***

Dunia,

Seakan aku berdiri di sana sendiri, seakan tak kuat lagi untuk berdiri.

Aku mengadu pada semuanya, pada orang-orang yang ku temui dan menemuiku ketika aku tengah bersedih dan menangis seperti ini.

Suara tangis itu sudah tak terdengar lagi, serak suara ini, habis semua ini..

Semuanya bagai mimpi terburuk yang benar-benar tidak pernah aku harapkan.

Dear Imamku (IS 1) ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang