Saya tidak tahu apa yang mebuat Zafira menunduk dengan tubuhnya bergetar di sudut kamar, yang saya tahu hanyalah sebatas ia pergi dari rumah kedua orang tua saya.
Sebenarnya, saya sangat ingin berada di sisinya kala ia tengah berada di dalam posisi terendah dalam hidup. Namun, semua keingin saya harus benar-benar saya singkirkan, mengingat mungkin ia butuh waktu untuk sendiri.
Dan, jika nanti ia sudah lebih tegar, maka saya akan menanyakannya baik-baik.
Akhirnya, saya memutuskan untuk keluar kamar Zafira, jujur rasanya perut saya sakit sekali karena tidak isi. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas, dan saya yakin sekali bahwa Zafira tidak masak, setelah berdebat dengan pikiran saya mengenai tidak baiknya pengaruh mie instan bagi tubuh, akhirnya saya menyerah kala cacing di perut kembali terdengar.
Saya membuka laci, dan menemukan beberapa mie instan dengan berbagai macam rasa, saya mencoba mencari rasa yang sekiranya saya sukai dan pilihan saya jatuh pada mie instan rasa ayam bawang.
Rasa yang standar.
Saya menambahkan telur dan sayuran kedalam mie instan yang tengah saya masak, beberapa menit kemudian mie instan selesai dan siap di nikmati.
Suara petir yang begitu mengelegar membuat saya menghentikan sejenak tangan saya yang hendak menyuapkan suapan pertama kedalam mulut saya. Jujur, saya merasa kaget.
Lagi, saya harus menghentikan tangan saya ketika hendak menguapkan suarapan pertama ketika melihat Zafira, ia tersenyum kearah saya, seolah kepedihan tak menimpa dirinya, seolah ia tidak pergi berada di sudut kamar dengan tubuh yang bergetar, dan suara tangisan pilu.
"Pak Hanif udah pulang?" Tanyanya, ia duduk di hadapan saya, meski ia berusaha untuk tersenyum sebaik mungkin kepada saya, namun saya tetap bisa melihat matanya yang merah dan mendengar suaranya yang agak serak. Ia sudah menangis, tidak salah lagi.
"Iya." Jawab saya.
"Loh? Pak Hanif kok makan mie instan sih? Zafira kira Pak Hanif sudah makan di luar, jadi Zafira nggak masak. Maaf ya." Ia meminta maaf kepada saya, seolah sudah melakukan hal yang cukup besar. Namun, saya tidak merasa masalah karena ia tidak masak, saya tidak apa-apa, saya mengerti dengan keadaanya sekarang, meski ia selalu menyembunyikannya dari saya.
"Kamu belum tidur?" Saya bertanya seraya menyuapkan mie instan kedalam mulut saya.
"Belum."
"Kenapa?"
Ia terlihat sedikit berpikir. "Belum ngantuk."
"Kenapa pulang duluan dari rumah kedua orang tua saya? Ada yang membuat kamu tidak nyaman?"
Ia mengeleng pelan, kemudian tersenyum kecil. "Enggak."
"Kenapa harus pulang?"
"Banyak baju kotor Zafira harus nyuci."
Sungguh, jawaban yang ia berikan terhadap saya tidak lebih sebagai lelucon untuk saya, saya tidak percaya jika ia akan mengatakan hal sereceh ini, hal setidak masuk akal seperti itu.
"Kamu yakin?" Saya kembali bertanya untuk menyakinkan, dan berharap bahwa ia akan jujur kepada saya, namun seharusnya saya sudah mengetahui tabiat Zafira sebelum bertanya seperti itu.
"Pak Hanif." Ujarnya.
"Iya?" Saya menjawab, sajenak saya menghentikan kegiatan makan saya, untuk kemudian memandang wajahnya yang pilu, yang di dalam matanya terlihat sebuah beban yang berat.
"Zafira mau ngomong serius, tapi Pak Hanif nggak perlu ngeberhentiin kegiatan Pak Hanif untuk makan, makan aja Zafira tahu Pak Hanif lapar." Bodohnya, saya menuruti perkataannya, sebelum akhirnya saya tahu jika ia juga merasa lapar.
"Pak Hanif," Ujarnya kembali, saya mendonggak dan kala itu, saya melihat matanya yang berkaca-kaca yang lagi membuat saya menghentikan kegiatan saya untuk makan. "Ihh, Pak Hanif lanjutin aja makannya."
"Saya nggak bisa makan dengan tenang kalau kamu mau nyampain hal yang penting."
"Yaudah kalau gitu, Pak Hanif lanjutin dulu makannya, nanti aku ngomongnya kalau Pak Hanif udah selesai makan." Ia menjeda ucapannya, berdiri dari duduknya. "Pak Hanif mau minum apa? Biar Zafira bikinin."
"Jus Alpukat."
"Ihh, Jus Alpukat kan nggak ada, Pak Hanif kira rumah kita ini restoran apa?"
Saya terkekeh pelan dengan ucapannya, saya salut kepadanya, meski tengah merasa sedih, ia selalu bisa membuat saya tertawa. Tingkahnya, yang lucu membuat saya selalu ingin untuk lagi dan lagi mengodanya.
"Kan tadi kamu nanya saya mau minum apa? Ya, saya jawab saya mau Jus Alpukat, nggak salahkan?"
"Maksud Zafira, Pak Hanif mau minum apa dengan minuman yang ada di rumah? Kopi? Susu? Teh manis? Teh tawar ? Atau air putih?"
Saya mengaruk belakang kepala saya yang tidak gatal, seolah benar-benar berpikir, sedangkan di ujung sana Zafira menunggu jawaban saya dengan rasa kesalnya.
"Saya mau air putih aja, Ra."
"Tinggal bilang mau air putih aja susah amat." Ia bergumam, kemudiam melangkah untuk mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih. Saya, masih setia memperhatikannya dari sini, hingga saat ia berbalik pandangan kami menyatu. Saya, bisa melihat pipinya yang berubah menjadi kemerah-merahan, lucu sekali.
"Pak Hanif jangan liatin Zafira kayak gitu." Katanya setelah menyimpan segelas air putih di meja, saya hanya bisa terkekeh pelan dengan kelakuannya yang sekarang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa saya nggak boleh ngeliatin kamu?"
"Zafira malu."
"Kenapa kamu harus malu pada suami kamu sendiri?"
"Berhenti deh buat menyampaikan pertanyaan menjebak kayak gitu." Ujarnya, tangan saya terulur untuk mengambil kedua tangannya yang menutup wajahnya, entah mendapat dorongan dari mana ketika saya menyecupnya dengan lembut.
Ia terlihat kaget dengan apa yang saya lakukan. Ya, walaupun ia memang selalu kaget dengan kontak fisik yang saya lakukan.
Saya menatap matanya, mengusap lembut tangannya.
"Kamu kenapa nangis?"
"Maksud Pak Hanif?" Saya tidak mungkin melihat sesuatu yang tidak beres di kamar Zafira. Saya, yakin sekali bahwa yang menangis di sudut kamar adalah Zafira bukan sosok lain.
"Saya khawatir karena kepulangan kamu yang begitu mendadak."
"Zafira nggak apa-apa." Dan, seberapa keraspun ia mengatakan bahwa ia tidak apa-apa, tetap saja saya yakin jika ia tengah menyembunyikan lukanya.
"Saya menemukan kamu menangis di sudut kamar."
"Mungkin Zafira mimpi, kalau tidur Zafira memang nggak bisa diem."
"Ra." Saya menatap matanya, yang semakin lama semakin berkaca-kaca. "Sekuat apapun kamu menyembunyikan kebohongan itu dari saya, saya tetap akan tahu jika kamu berbohong."
"Kamu selalu menyembunyikan luka kamu sendiri, kamu tidak pernah percaya akan kehadiran saya yang telah Allah ciptakan untuk menjadi kelebihan dan kekurangan kamu."
Tiba-tiba secara sepontan Zafira melepaskan kedua tangannya yang tengah saya gengam, ia menatap saya dengan tatapannya yang begitu kuat.
"Ya, aku memang selalu menyembunyikan semua kepedihan itu sendiri." Ia menjeda ucapannya, berdiri dari duduknya. "Zafira pengen pisah dari Pak Hanif, ZAFIRA PENGEN PISAH DARI PAK HANIF!" Ia mengatakan hal itu dengan suara yang tidak bisa di bilang pelan, kalimat yang berhasil membuat hati saya rasanya di hantam sesuatu.
Ia melangkah pergi, namun sebelum langkahnya semakin menjauh saya menyusul langkahnya dan mengengam tangannya.
"Saya sudah pernah bilang bahwa saya tidak akan pernah melepaskanmu!"
"Lepaskanlah, ia yang tidak pantas." Ujarnya.
"Ra, ini adalah terakhir kalinya saya mendengar hal ini dari kamu, saya akan sangat marah ketika kamu mengatakan hal ini kembali."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Imamku (IS 1) ✔
SpiritualImam Series 1. Dear Imamku 2. Tentang Pencarian 3. Gagal Pisah Pernikahan dalam kamus hidup Zafira adalah salah satu hal yang menakutkan. Trauma di masa lalu serta merta membuatnya diambang kegelisahan, ketika seorang pria bernama Hanif mengunjungi...
