Sembilan Belas : Kala

3.2K 159 6
                                        

Hujan membungkus kota, jam yang berada di handphoneku menunjukan pukul 10, baru beberapa menit aku kembali dari apotik dan ketima kan menjalankan mobil Pak Hanif yang aku pinjam, hujan turun dengan deras, beberapa kali suara petir saling bersautan di langit.

Aku takut.

Aku memutuskan untuk tetap berada dalam mobil.

Memejamkan kedua mataku dan menutup telingaku.

Berharap hujan malam ini tidak akan berlangsung lama.

Namun, hingga satu jam kemudian jam menunjukkan pukul 11 malam, hujan tidak kunjung berhenti.

Aku menjadi cemas sendiri.

Di sisi lain, aku sangat trauma dan takut. Di sisi lain lagi, aku sangat mencemaskan keadaan Pak Hanif.

Tiba-tiba handphoneku berdering dan sebuah nama hadir di sana, tanpa menunggu lama aku segera mengangkatnya sambungan telpon tersebut.

"Assalamualaikum Pak Hanif."

"Walaikumsalam, kamu di mana?"

"Masih di apotik."

"Pulang." Hanya satu kata yang ia keluarkan namun justru kata itu membuatku bahagia, satu kata yang menandakan jika ia mengkhawatirkanku.

"Aku-"

"Pulang Ra, nggak baik jam segini wanita masih ada di luar rumah."

"Iya Pak Janif, aku ngerti tapi-"

"Pulang sekarang Zafira, apa yang kamu harap di luar sana? Kesenangan apa yang membuatmu lupa akan keberadaan suamimu sendiri!?" Sambungan telpon itu di akhiri oleh sepihak.

Dan, semua yang barusan Pak Hanif sampaikan benar-benar menusuk hatiku.

Mengapa ia bisa mempunyai prasangka seperti itu, kala aku memberanikan diri untuk membeli obat ke apotik malam-malam dan saat hujan tengah turun?

Aku menghembuskan napas pelan, aku harus segera pulang dan harus segera menjelaskan semuanya kepada Pak Hanif agar ia tak lagi salah paham.

***

Tepat jam dua belas malam, akhirnya aku sampai di rumah, dan Alhamdulilah hujan sudah berhenti beberapa menit setelah aku memutuskan untuk pulang.

Aku segera memasuki kamar Pak Hanif yang tidak di kunci, namun lelaki itu tidak berada di atas ranjangnya.

Aku mencarinya ke kamar mandi, dan liatlah sekarang ia tengah memuntahkan isi perutnya, aku segera melangkah kearahnya, mengusap lembut punggungnya.

"Pak Hanif gapapa? Apa kita ke Dokter aja?"

"Gausah."

"Pak Hanif sebenernya diare atau jarang makan sih?" Aku bertanya, seraya membantunya melangkah ke arah ranjang.

"Saya mau istirahat, silahkan keluar kamar saya." Ia berkata ringan, tubuhnya sudah berganti posisi, siap untuk tidur.

"Minum obat dulu," Aku membuka obat yang sudah aku beli di apotik tadi, menyodorkannya dengan segelas air putih yang entah sejak kapan sudah berada di sana.

"Makasih." Ujar Pak Hanif setelah meminum obatnya. "Oh ya, tadi saya minjem laptop kamu karena laptop saya ketinggalan di kantor, saya pikir saya akan bisa menyelesaikan pekerjaan malam ini, namun sungguh yang saya dapatkan adalah sebuah kekecewaan, kala saya melihat sebuah email dengan pernyataan cinta yang manis."

Tiba-tiba pikiran ku terhenti pada sebuah email yang Raffa kirimkan padaku kemarin malam, sebuah email yang menyatakan bahwa ia mencintaiku dan sebuah email yang membuat Pak Hanif salah paham.

Dear Imamku (IS 1) ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang