10.Kajian

1.8K 169 1
                                    


Tak terasa dua minggu sudah Luna berada dipondhok pesantren Al bachtiar. Dan selama itu pula ia belum pernah lagi bertemu dengan sang Mama. Hanya komunikasi lewat handphone yang bisa ia lakukan. Itupun Mamanya masih sembunyi- sembunyi, takut ketahuan dengan Rudi.

"Mi, Luna berangkat kampus dulu ya. Salam buat Abi."

Memang benar Luna disuruh umi Aisyah untuk tinggal di ndalem saja. Katanya jika gadis itu diasrama maka rumah akan terasa sepi, mengingat anak Umi Aisyah yang keduanya lelaki semua. Jika ada Luna di rumah wanita itu bisa mengajaknya untuk masak bersama.
Lagipula Semua putra Umi Aisyah juga jarang pulang.
Putra sulungnya seorang dosen yang mengajar salah satu universitas diJakarta. Ia lebih memilih untuk tinggal diapatermen yang jaraknya lebih dekat dengan kampus. Lagipula ia sering lembur, jika harus pulang kerumah hanya akan membuatnya semakin lelah. Kalau pulang itupun hanya memenuhi tanggung jawabnya sebagai Ustadz untuk mengajar para santri setelahnya pulang lagi ke apatermennya. Dan selama itu pula Luna belum pernah melihat putra sulung Umi Aisyah secara langsung, oleh karenanya Luna tak mengenalnya sampai sekarang.
Mengenai Abidzar, pria itu tengah fokus mengenyam pendidikannya di Bandung.

"Sarapan dulu Nak,"kata Umi Aisyah seraya menata piring dimeja makan.

"Dikantin aja Mi, Luna ada Ulangan soalnya. Jadi harus berangkat awal."

Gadis itu merapikan penampilannya. Hari ini Ia mengenakan jeans panjang yang dipadukan dengan kaos putih polos. Rambutnya Ia  cepol tinggi sehingga menampakan leher jenjangnya. Sepatu keats menjadi perpaduan stylenya.

"Kamu, serius kuliahnya pakai baju seperti itu?"tanya Abi Rasyid berhati-hati. Ia takut menyinggung perasaan Luna.

Luna menelisik seluruh penampilannya. Gadis itu mengernyitkan dahi bingung.

"Emangnya ada yang salah ya Bi? Bukannya bisanya Luna juga pakai seperti ini?"balas Luna.

Gadis itu memang sudah mau sholat dan mengaji, tapi lain jika berbicara tentang penampilan. Ia masih sama menganakan baju sehari-harinya seperti saat dulu belum di pondok. Luna rasa, ia masih nyaman tampil seperti itu. Dan untuk kembali berhijab, dirinya masih belum siap. Prinsip Luna jika luar baik maka dalamnya harus lebih baik. Didunia ini tidak ada yang instant, semuanya butuh proses untuk berubah.

Umi Aisyah menginjak kaki Abi Rasyid agar suaminya itu tidak banyak bicara.

Mengerti maksud sang istri, Abi Rasyid mengalihkan pembicaraannya.
"Tidak Luna, yaudah kamu berangkatnya hati-hati ya Nak,"

Luna mangangguk semangat.
Setelahnya Ia menyalami tangan Umi Aisyah dan menangkupkan tangan didepan dada kepada Abi Rasyid.

Luna menunggu angkot untuk dijadikan tumpangan. Ia sudah tak seperti dulu lagi yang hidup berkelimangan  harta. Namun hal itu samasekali tak menyurutkan semangatnya. Ia malah bersyukur dengan hidupnya saat ini yang penuh dengan kedamaian.

Selang lima menit angkot sudah ada didepan mata. Ia menikmati setiap hembusan angin diperjalanan. Banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, membuat jalanan itu sedikit macet.

Tepat pukul 07.30 Luna sudah sampai dikampusnya. Dengan semangat 45 Luna memasuki gerbang  penuh senyuman.

Saat berjalan melewati koridor, gadis itu melihat pria tampan dengan kadar kecuekan yang cukup tinggi. Selainnya, juga ada Alana yang berpapasan. Terlihat sekali jika Alana sedang cari perhatian saat Ia menghadang langkah Alif. Luna hanya berdecih.

"Pak Alif, nanti siang makan bareng yuk!Saya yang traktir. Bapak tau nggak sih kalau kemaren saya abis ul--"

"Saya gak ada waktu."
Tanpa menunggu balasan Alana, pria itu melenggang pergi. Alana mengerucutkan bibirnya sebal.

Alone in Love (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang