YAMAZA - BAB 4

1.3K 107 36
                                        

Seragam

Topi upacara

Jas almamater

Buku PR Matematika

Buku paket Bahasa Inggris

Kamus

Catatan kecil pelajaran Bimbingan Konseling

Buku catatan rumus Fisika

Ruby memastikan semua buku dan keperluan untuk hari Senin sudah lengkap. Satu persatu ia masukkan ke dalam tas—kecuali jas warna biru dengan logo warna hitam putih yang tidak ikut masuk. Ruby menggantungnya bersama seragam atasan putih dan rok kotak-kotak, lengkap dengan dasi bermotif senada dengan rok.

Setiap Senin—selain topi—sekolah mengharuskan para siswa memakai jas almamater saat upacara.

Ruby orang yang perfectsionist. Dia mempunyai kebiasaan selalu menyiapkan semuanya pada malam hari agar tidak ada yang tertinggal keesokan harinya.

Ekor matanya melihat jaket biru tua yang sudah wangi, tergantung di tiang menyerupai ranting pohon di dekat pintu. Jaket milik Oska yang baru tadi sore diantarkan pelayan ke kamarnya.

Dua hari kemarin Ruby sempat mengunjungi kelas XI IPA 1 untuk mencari pemilik jaket. Dia hanya ingin bilang kalau jaketnya belum bisa dikembalikan karena masih dicuci. Namun teman sekelasnya menjawab Oska tidak masuk karena sakit. Ruby menerka, apa mungkin karena insiden pingsan waktu itu? Tapi dia kan cuma pingsan, masa tubuhnya selemah itu sampai harus meninggalkan pelajaran selama dua hari.

Ruby menggeleng, merasa tidak punya alasan apapun untuk mencari tahu lebih banyak tentang cowok itu. Ia lipat jaket, memasukkan ke dalam tas. Besok Ruby akan mengembalikannya. Pasti anak bernama mirip nama bocah itu sudah masuk. Dan semuanya selesai. Tidak ada hutang budi apapun lagi. Jaket kembali dan Ruby sudah meminjamkan motornya pada Sachie untuk mengantar anak itu. Lunas kan?

"Byyyyyyy ..."

Ruby mendengar panggilan dari luar kamar. Namun ia bergeming, memilih duduk di kursi belajar, sibuk menyerut pensil, menyiapkan pensil refill, pulpen, marker pen, stabilo warna merah muda dan hijau.

Jangan heran kalau buku paketnya penuh dengan tanda warna-warni mirip tembok Taman Kanak-kanak. Menurutnya, setiap poin penting harus ditandai untuk memudahkannya dalam belajar.

Penghapus, tipe-x, penggaris, jangka dan printilan yang lain juga tersedia di dalam tas. Sachie selalu meledek kalau tasnya itu mirip kantong ajaib Doraemon. Lihat saja, di dalam tempat pensil—di luar alat tulis yang lain—Ruby selalu memasukkan tiga pulpen, dua pensil, dua penghapus. Padahal dia tidak pernah ganti-ganti pulpen sebelum yang dipakai habis.

Ruby hanya tersenyum mendengar ledekan Sachie. Sahabatnya itu tidak tahu saja, Ruby sengaja membawa cadangan banyak bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk Sachie juga. Kesibukan Sachie di luar sekolah membuat anak itu sering ceroboh.

Waktu SMP, Sachie pernah lupa membawa alat tulis. Pulpen satu-satunya yang ia miliki, dipinjam sang nenek untuk keperluan mencatat kasbon para pembeli di warung. Sachie lupa memasukkannya lagi ke dalam tas. Terpaksa dia harus merelakan uang sakunya yang tidak seberapa untuk membeli pulpen di koperasi sekolah.

Ruby tidak mau itu terjadi lagi.

Baginya, Sachie bukan hanya sekedar sahabat, tapi sudah seperti saudara. Saudara tak sedarah yang terikat oleh hati, kasih sayang dan ketulusan.

Auriga Sachieanza—gadis 8 tahun, datang mendekati mobil keluarga Ruby yang belum lama berhenti. Tangan kecilnya memeluk boneka beruang, senyum manisnya mengembang. Dia mengenalkan diri sebagai penghuni rumah yang berada tepat di seberang rumah baru Ruby.

Starlight for YamazaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang