YAMAZA - BAB 11

1K 91 43
                                        

Beberapa kali Sachie mengintip ponsel. Jam istirahat kedua kurang sepuluh menit lagi, itu artinya sebentar lagi genderang perang ditabuh. Mengingat informasi dari Oska tentang Cathy, nyalinya semakin menciut. Bagaimana kalau dirinya kalah? Apa yang akan terjadi hari Senin nanti?

Ia melirik Ruby yang sedang sibuk memindah jawaban Matematika dari kertas coret-coret ke buku. Kebiasaannya sejak dulu agar isi buku tetap rapi.

Sachie pandangi wajah serius sahabatnya dari samping. Gimana kalau Ruby sampai tahu? Dasar bodoh. Ruby pasti akan tahu dan ... marah. Sachie meremas pulpennya. Bagaimana pun caranya, ia harus menang. Kabar baik itu setidaknya akan mengurangi atau bahkan meredam kemarahan Ruby. Kalau kalah? Mati aja lo, Chie. Useless banget jadi makhluk hidup.

Ruby yang merasa diperhatikan akhirnya menoleh dan menemukan Sachie sedang menatapnya, tangannya masih meremas pulpen, bibirnya terlihat saling menggigit. Ruby jadi ngeri.

"Kenapa lo?" Bukannya menjawab, Sachie malah semakin menjadi dengan menjilat bibir dengan tatapan yang tidak berkedip. Ruby makin horor. "Sumpah, muka lo kayak Mr. Krabs liat gunungan dolar. Sachie!"

Guncangan itu menyadarkan Mr. Krabs berponi. "Ya?"

Ruby mendengus, ekor matanya menemukan tangan Sachie yang memutar-mutar ponsel di atas meja. "Dari tadi lo ngelamun, kenapa? Kuota abis?"

Diam-diam Ruby sudah siap mengambil ponsel di laci untuk melakukan pengisian pulsa Sachie melalui M-Banking.

Sachie menaruh ponsel sambil menggeleng. "Enggak kok. Gue cuma abis chat sama Oska." Elaknya dengan sedikit bumbu kebohongan.

Pergerakan diam-diam Ruby terhenti. Dia menoleh cepat, menanti Sachie yang masih membuka mulut. "Ngg—abis ini gue nggak ikut ke perpus ya, By."

Bibir Ruby masih rapat, keningnya berkerut memandangi gerak-gerik Sachie yang tidak berani menatap matanya.

"Gue ... gue mau kasih jamu yang tadi pagi." Sachie menyelipkan rambut ke belakang telinga, berusaha sesantai mungkin. "Tadi istirahat pertama nggak sempat karena kelas Oska ada praktek di lab. Jadi gue—"

"Hmm." Ruby kembali menunduk untuk menulis. Jadi karena Bian.

"Apa?"

"Lo mau ke kelas sebelah 'kan? Ya udah."

Sachie terbelalak, antusias. "Serius?" lirikan Ruby membuatnya salah tingkah dan akhirnya berusaha bersikap setenang mungkin. Jangan sampai Byby curiga. "Maksud gue, nggak pa-pa lo ke perpus sendiri? Soalnya gue nggak yakin bisa nyusul. Gue ... gue mau pastiin Cucu Sultan itu minum jamunya sampai habis. Gue nggak mau dong kalau kerja keras gue nggak dihargai dengan dia buang jamu it—"

"Iya. Take your time."

Sachie langsung berhambur memeluk Ruby, tak peduli seberapa kuat gadis itu menolak, meringis dan tertawa karena risih dan geli. Dan tanpa tahu apa yang dipikirkan sahabatnya.

Iya, selain berisi rumus dan materi pelajaran, kepala Ruby juga memikirkan hal lain. Melihat senyum dan tawa Sachie, membuatnya sadar akan sesuatu. Sesuatu yang pasti akan terjadi, yang menandakan kalau mereka tidak bisa selamanya berdua. Ada satu saat dirinya atau Sachie menemukan kebahagiaan lain. Mencintai seseorang misalnya. Dan mungkin sekarang sudah saatnya.

Ruby pasrah dalam dekapan Sachie. Sesekali melirik gadis berponi yang tidak pernah melunturkan senyum lebarnya. Kalau Sachie yang menemukan lebih dulu, it's ok! Ia harus mulai membiasakan diri ... tentang apapun. Asal Sachie bahagia.

"Gigi lo bisa kering kalau kebanyakan nyengir."

Sachie memejamkan mata saat Ruby tiba-tiba meraup wajahnya, kemudian memeluk lagi. Ruby tidak akan tahu kalau sedari tadi ia tersenyum untuk menutupi rasa gugup.

Starlight for YamazaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang