YAMAZA - BAB 8

947 96 15
                                        

"Kayaknya teman kamu nggak suka dengan kehadiran aku."

Sachie menghela napas cepat. "Dia emang gitu. Susah sosialisasi sama orang baru."

"Kalau gitu aku pindah meja aja."

"Mau ngegembel di lantai? Atau ngumpet di kolong?" Oska melihat semua meja memang sudah terisi. "Ruby bukan Sumanto yang doyan makan orang. Sebenarnya dia baik, cuma sedikit ansos aja. Nggak usah dipikirin. Eh, lo bawa bekal apa, sih?"

Oska masih tidak enak hati, tapi tetap membuka kotak makannya. "Menu sehat buatan Mama."

"Pasti enak bekal untuk seorang cucu sul—" Sachie menatap aneh makanan Oska. Ikan Salmon, rebusan brokoli, buah blueberry, potongan tomat dan—what? Kacang Kenari? "Itu ... serius bekal lo?"

Oska mengangguk.

"Lo doyan?"

Oska tersenyum getir. "Harus doyan."

"Setiap hari lo makannya kayak gitu? Nggak pake nasi?"

"Aku makan nasi, cuma ada porsinya. Begitu juga dengan jenis makanan tertentu. Kemarin udah banyak makanan kurang sehat yang masuk ke tubuh aku. Iya, setiap Minggu, Mama ijinin aku pilih makanan sesukaku. Karena kalap melebihi jatah yang diijinkan Mama, jadi, untuk tiga hari ke depan, ya kayak gini makananku."

Sachie mengeryit, membayangkan Oska harus mengkonsumsi makanan yang katanya sehat tapi tidak menggugah selera sama sekali. Enakan juga mie rebus pake telor dan irisan cabe. Makanan favorit sejuta umat. Atau baso Mang Urip di kantin ini.

Pandangannya naik memperhatikan Oska yang terlihat tidak bersemangat dengan bekalnya. "Kayaknya lo nggak nafsu sama makanan itu. Nih, kalau mau, cobain baso gue." Sachie mendorong mangkuknya, yang langsung ditahan Oska.

"Daging bukan termasuk makanan yang direkomendasikan dokter, apalagi daging olahan. Aku boleh makan baso hanya saat lebaran dan nggak boleh banyak. Itupun baso buatan Eyang Putri yang benar-benar diperhatikan setiap komposisi adonan dan bumbunya."

Sachie ternganga, memandangi Oska iba. Cucu Sultan ini punya segalanya, uang keluarganya lebih dari cukup untuk membeli makanan semahal apapun. Beli tempat makannya pun pasti mampu. Tapi demi bertahan hidup, Oska tidak bisa bebas memilih apa yang dia mau. Semua serba dibatasi. Kasihan sekali kamu, Nak.

"Emang kondisi jantung lo udah parah banget, ya?"

"Kalau mendapat dua kali serangan itu masuk kategori parah. Iya, aku udah mengalaminya waktu kecil. Sekali lagi jantung ini mendapat serangan ... Tiiittt! Alat pendeteksi jantung pasti menunjukkan garis lurus, pertanda hidup aku berakhir."

Sachie meneguk ludah susah payah. Pantas saja Ayahnya Oska marah besar waktu anaknya pingsan akibat kelelahan. Ibarat game virtual, nyawa Oska ini tinggal satu-satunya, mungkin juga sudah kedip-kedip, alias tinggal nunggu waktu. Nyawa pamungkas yang harus dijaga sebaik mungkin. Sekali kena tembak, BOMB! Game over.

"Ngeliatinnya jangan kayak aku mau mati besok, Sachie. Aku nggak mau dikasihani."

Sachie mengabaikan teguran Oska. "Lo bilang pernah kena serangan waktu kecil, kok bisa? Kelihatannya hidup lo aman-aman aja. Keluarga utuh, hidup berkecukupan, lo juga bukan anak yang petakilan. Apa yang bikin jantung lo berontak—I mean, kena serangan? Dikagetin teman? Liat setan? Atau ada bule telanjang nyasar ke rumah lo?"

Oska terkekeh. "Nggak selemah itu juga. Kalau dikagetin, iya, pasti kaget, tapi nggak sampai harus dilarikan ke UGD. Kata Mama, serangan pertama waktu aku masih balita. Kondisi aku lagi batuk pilek parah, tapi aku susah disuruh berhenti bermain, sampai akhirnya kecapekan dan drop. Yang kedua, waktu liat kakak perempuan aku ribut besar sama Papa. Waktu itu usiaku sekitar 7 tahun, sedangkan Kakak umur 14."

Starlight for YamazaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang