YAMAZA - BAB 30

1.3K 117 62
                                        

"Ada Rapunzel ... ada Rapunzel!"

"Mana? Mana?"

Bocah perempuan itu berlarian menuju anak tangga, duduk disana bersama bocah laki-laki yang sudah berpegangan pada pagarnya.

"Woah, cantik banget." Mulut si anak laki-laki—Sena—sampai terbuka.

"Itu bukan Rapunzel." Elka—si anak perempuan—meralat. "Bajunya biru muda, rambut dikepang satu kesamping. Itu Elsa Frozen."

"Elsa rambutnya putih. Kalau rambutnya kuning kayak Pikachu gitu namanya Rapunzel."

"Iihhh, Sena. Emang uban, putih? Rambut Elsa itu pirang, blonde terang bukan kuning, sama kayak rambut kakak cantik yang dirangkul Uncle itu. Kalau Rapunzel rambutnya kuning kemerahan agak coklat dan panjaaaaaaaang banget."

"Kuning kemerahan agak coklat itu warna kayak gimana, Elkaaa? Kamu ribet ah."

"Kamu yang ngeyel."

"Ributin apa sih?"

Sena menoleh dan menemukan kembarannya datang. "Eh, Va. Lihat deh. Kata kamu itu Rapunzel atau Elsa?"

Seva mengikuti arah telunjuk Sena. "Itu orang."

Senyum Sena redup. "Cape deh." Yang disambung dengan tawa Elka.

Sejak melangkah masuk, Ruby sudah mendengar kasak kusuk dari arah anak tangga. Andai suasana hatinya sedang baik, mungkin ia akan langsung mendekat dan bergabung dengan ketiga anak manis itu. Ruby akan menyapa dan berkenalan dengan mereka. Ia memang susah dekat dengan orang asing, namun tidak untuk anak-anak. Ruby menyukai anak-anak.

Kemudian dengan senyum ramahnya, Ruby akan menjelaskan bahwa ia bukan Rapunzel yang memiliki kekuatan pada rambut panjangnya. Atau Elsa yang bisa mengeluarkan es dari tangannya. Ia hanya gadis biasa yang baru saja ditampar kenyataan bahwa sahabatnya benar-benar telah tiada. Ia bukan princess yang kuat, ia hanya gadis lemah yang bahkan untuk berdiri tegak menjalani hidup saja rasanya sulit.

Ruby hanya seseorang yang ditakdirkan berteman baik dengan kehilangan dan kesepian.

"Kamu duduk dulu ya," pinta Oska. "Aku akan panggilkan Mam—ah, itu Mama udah datang."

Ruby melihat Tante Lintang datang dari arah dapur. Disusul dua wanita lebih muda yang meminta ketiga anak tadi turun. Ia mengenalinya lewat foto yang pernah Oska perlihatkan dan ia lihat sendiri sosoknya beberapa hari yang lalu. Kak Kasih dan Kak Naya.

Suasana rumah ini ternyata ramai. Ruby tidak tahu harus bersyukur atau mengeluh. Tante Lintang—wanita yang masih saja cantik di usianya yang tak lagi muda—adalah salah satu orang yang Ruby rindukan. Tetapi, ia bukan orang yang pintar berpura-pura. Saat ini perasaannya sedang kacau. Akan lebih baik jika ia mencari tempat yang sepi, bukan?

Demi alasan kesopanan pada tuan rumah, Ruby mengabaikan perasaannya sejenak untuk mendekat, hendak mencium tangannya. Baru satu langkah, tubuhnya terpaku saat Tante Lintang lebih dulu memeluknya.

Hening.

Ruby membeku merasakan usapan lembut pada rambut sampai ke punggung. Rasanya hangat. Dan ucapan Tante setelahnya berhasil membuat dadanya bergemuruh hebat.

"Oska udah cerita semuanya, Ruby harus kuat ya."

Ruby terisak dan membalas pelukan. Kedua telapak tangannya meremas bagian belakang pakaian Tante Lintang kuat-kuat. Pertahanan yang ia jaga selama enam tahun, hari ini runtuh tak bersisa, di pelukan Oska, di makam Sachie dan di pelukan Tante Lintang.

Tante Lintang merengkuh tubuh kurus itu dengan kedua lengannya, seolah tahu tidak ada hal yang lebih Ruby butuhkan selain pelukan. Kemudian ia melepasnya dan memandangi wajah sembab itu. Tante Lintang mengusap air mata di pipi Ruby lalu mengecupnya lembut. Ia mendekatkan bibir pada telinga Ruby untuk membisikkan bahwa semua akan baik-baik aja.

Starlight for YamazaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang