YAMAZA - BAB 14

1K 107 81
                                        

Pagi itu Sachie harus memegangi dadanya kuat, berharap jantungnya yang sedang berdetak kencang, tidak lepas kendali dan akhirnya copot dari tempatnya.

Bukan karena Ruby yang siang ini akan bertanding melawan Cathy. Atau karena kuota internetnya habis—yang sudah dipastikan ponselnya akan sepi. Bukan. Orang di luar rumahnya lah yang membuatnya panas dingin seperti ini.

Sekali lagi Sachie mengintip dari jendela, memastikan. Mungkin saja pria yang datang sepagi ini hanya tukang galon atau gas elpiji. Bisa juga tukang cilok dekat pasar yang dimintai tolong nenek untuk membawakan belanjaan—mengingat di tangannya ada kantong plastik.

Bukan seseorang yang—sial! Dia bukan mereka. Tukang galon langganan warung nenek tidak mempunyai mobil mewah ratusan juta. Tukang gas elpiji lebih sering memakai celana kolor dari pada kaus dan celana bermerek. Dan, tukang cilok dekat pasar wajahnya biasa-biasa saja...tidak seganteng dia.

Langkahnya semakin dekat dengan teras.

Sachie gugup setengah mampus seperti gadis desa mau lepas perawan. Ia mengabaikan rasa sakit dan pegal di tubuhnya untuk berlari ke belakang. Untuk mandi rasanya terlalu lama, tapi setidaknya belek-belek di ujung mata harus dihempaskan dan bau 'naga' dari mulutnya harus ditertibkan.

Jangan sia-sia kan kesempatan. Sachie terus menggumamkannya seperti mantera. Tidak setiap hari dia datang kesini. Tidak setiap hari orang yang selalu membuat jantungmu berdebar tak karuan setiap kali berdekatan, datang pagi-pagi tanpa janjian... dan sendiri.

Jadi, berikan kesan terbaik. Jangan lupa ambil napas banyak-banyak agar jiwamu tidak semakin jungkir balik.

Sachie keluar rumah, sesekali merapikan poninya yang setengah basah. Punggung peluk-able berbalut kaus putih sudah menyambutnya. Sachie mencoba berdehem untuk menyadarkan tentang kehadirannya.

Tubuh itu berputar. "Eh, Chie."

"Ngapain—"

"Nggak sengaja lewat." Sambarnya. Terlalu cepat dan sedikit mencurigakan. "Iya... itu. Gue nggak sengaja lewat depan rumah lo. Mampir deh."

Sachie mengeryit bingung. Jalan depan rumah kontrakannya bukan jalan besar. Butuh tiga menit untuk sampai jalan desa dan satu kilometer menuju jalan raya. Posisinya pun di ujung, slash tidak ada rumah lagi, slash jalan buntu. Dari mana ceritanya 'nggak sengaja lewat'. Nenek-nenek buta main sepatu roda juga tahu, siapapun yang datang kesini, pasti sengaja.

"Maksud gue, lo ngapain berdiri terus, nggak mau duduk? Apa takut bisul lo pecah?" tawa Sachie terasa kaku disaat dirinya setengah mati menyembunyikan kegugupan.

"Oh. Ngg—iya, gue duduk. Tapi—sori." Tubuh Sachi menegang saat tangan itu tiba-tiba menyentuh sudut bibirnya. "Kalau sikat gigi itu yang bener. Dasar bocah."

Kampret! Sachie langsung berpaling, mengusap bibirnya kasar. Bisa-bisanya dia ceroboh dengan menyisakan busa pasta gigi. Apa gunanya ada cermin ajaib di kamar mandi. Malu anjir.

Sachie harus kabur sebentar agar tidak ketahuan pipinya sudah semerah tomat karena malu. "Kalau gitu gue ambilin minum—"

"Nggak perlu. Gue udah bawa."

Sachie urung melangkah, gagal kabur deh.

"Tadi mampir minimarket depan, kebetulan tisu mobil habis. Liat banyak promo, jadi gue beli ini juga." Tambahnya sambil meletakkan plastik belanjaan.

"Minimarket deket pertigaan?"

"Iya."

Sachie melirik roti, biscuit, buah-buahan, air mineral, Yakult, susu kemasan ukuran besar, beberapa botol kaca minuman bervitamin dan cemilan lain, yang sudah dikeluarkan dari kantung plastik. Jenis-jenis makanan dan minuman yang cocok dikonsumsi seseorang yang sedang kurang enak badan, seperti dirinya. Tapi bukan semua itu yang membuat kening Sachie mengerut, melainkan...

Starlight for YamazaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang