YAMAZA - BAB 15

1K 100 100
                                        

Ruby percaya, bahwa setiap orang mempunyai kelemahan. Sebesar apapun usaha untuk terlihat kuat, tetap akan ada waktu dimana kelemahan itu mendominasi, membuatnya bingung pada diri sendiri, tidak tahu harus berbuat apa. Ingin menghindar, tapi hati dan pikirannya memaksa bertahan. Dan yang bertanggung jawab akan lemahnya Ruby kali ini adalah kakaknya.

Mungkin kemarin Oska berhasil—sedikit—mengubahnya jadi lembek seperti bubur bayi dan membuat perutnya melilit seharian efek perasaan ganjil yang datang tanpa bisa dicegah. Namun, apa yang dikatakan Raiden melalui telpon saat di lapangan basket, tetap mengganggu pikiran Ruby.

"Papa drop. Ginjalnya harus dioperasi."

Satu kalimat yang merubah segalanya, membuatnya gelisah, dan akhirnya kalah.

Suara-suara di kepalanya memerintahkan untuk tak acuh: orang itu sudah merusak hidupmu. Menjadikanmu gadis remaja yang kehilangan arah. Mengubah keluarga utuh menjadi tak lebih dari separuh. Orang itu jahat. Penghianat. Sudah selayaknya karma menemani sisa hidupnya.

Tapi, suara hati kecilnya berbicara lain: apapun yang terjadi, dia ayahmu. Papa yang mengajari naik sepeda saat usiamu lima tahun. Papa yang menemani bermain masak-masakan saat Mama pergi arisan. Papa yang mengabaikan sakit flunya demi menuruti keinginanmu bermain salju terlembut di Hokaido. Papamu bukan orang jahat. Izanagi Abe hanya manusia biasa yang pernah melakukan kesalahan, tapi dia bukan orang jahat.

Dia bukan orang jahat.

Dia bukan penghianat.

Dia Papamu.

Idolamu.

Dia—

Papa tetep jahat!

"By?"

Papa nggak pulang berhari-hari!

"Ruby?"

Papa berduaan sama tante berambut cokelat di kamar hotel!

"Ruby? Hey!"

Ruby menggeleng. "Enggak."

"Hah? By? Hello."

"Jahat."

"RUBY!!!" Guncangan di bahunya membuat Ruby tersentak. Keringat sudah bercucuran di kening. "Lo kesambet? Enggak, enggak, jahat. Apaan? Lagi mimpi jadi Cinta-AADC? Gila, keren banget lo berani tidur di jam Pak Bonar."

Sambil sibuk mengusap kening dan mengatur napasnya yang memburu, Ruby menjawab, "Apaan, sih, Tha? Gue nggak pa-pa." Sial. Ia ketiduran saat jam pelajaran. Dan double sialnya, mimpi buruk itu datang lagi. Pasti karena semalam hanya tidur tiga jam.

Lirikannya tidak sengaja menemukan Sutha sedang berkemas, bahkan anak-anak yang lain berangsur keluar kelas menenteng tas. "Loh, kok pada bawa tas? Mau bolos masal?" Mengingat sekarang masih jam 10.

Sutha menutup resleting tasnya. "Makanya jangan tidur mulu. Hari ini pulang cepat, guru-guru ada rapat." Ruby juga bertanya, apakah ada tugas dari Pak Bonar. Sutha menjawab: enggak, dia cuma minta doa untuk kesembuhan kucing kesayangannya yang lagi sakit setelah ditinggal pacarnya dalam keadaan hamil.

Syukurlah. Saat ini Ruby memang sedang dalam mood tidak ingin mengerjakan apapun. Pikirannya kacau.

Bunyi ponsel dan sebuah pesan masuk, lumayan melegakan.

Bian: tungguin ya mbak bayi. saya lagi jalan dari lab. Kimia.

Ruby hanya membalas dengan emot jempol jari. Pandangannya terhenti melihat pesan yang dikirimkan Raiden tadi pagi.

Starlight for YamazaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang