YAMAZA - BAB 22

829 101 61
                                        

"Orang tuanya Oska baik, ya, By? Apalagi Tante Lintang—ops, sori, maksud gue Mama Lintang. Dia perhatian dan keibuan, bahkan sama tamu-tamu imut kayak kita dia tetap ramah, sampai-sampai lo dibawain sekotak bahan-bahan herbal. Mertua idaman banget, nggak kayak nyonya-nyonya tajir yang ada di TV—"

Ruby yang sedang menyetir melirik Sachie. "Kebanyakan nonton sinetron azab lo."

"—Om Langit juga kocak. Lo nggak lihat, sih, ekspresi cengo-cengo kagetnya waktu lo pamitan sambil bungkukin badan."

"Lupa gue. Kebawa kebiasaan kalau ketemu keluarga Jepang."

"Lo berasa lihat Izanagi-san, ya? Emang perawakan mereka ada mirip-miripnya gitu, sih. Tinggi, murah senyum, cuma badannya agak gedean Om Langit. Oh, satu lagi, brewok tipisnya. Bokap lo mukanya bersih. Eh, btw, lo suka cowok brewokan atau enggak, By?"

"Nggak penting, gue lihat gimana orangnya."

"Bybyy~ Pilihannya itu brewokan atau enggak."

Ruby memutar kemudinya sambil berbelok dengan santai. "Mending cemilin tuh makanan dari Tante Lintang daripada ngocehin brewok."

"Mama, By."

"Iya."

Sachie melirik makanan-makanan yang dibawakan Mama Lintang di kursi belakang, lalu mengabaikan. "Kita 'kan udah kelar ujian, By. Boleh dong sekarang ngobrolin cowok, nggak melulu bahas rumus yang bikin mumet."

"Kenapa? Lo ada suka sama cowok?"

"Iya."

Sachie langsung membekap mulutnya. Ruby menoleh tajam.

"Eh, maksud gue—"

"Siapa?" Ruby mengusap ibu jarinya pada kemudi perlahan.

"Maaf, By. Gue nggak bermaksud mengkhianati kesepakatan kita berdua dengan menyukai cowok sebelum lulus, tapi—"

"Gue kenal orangnya?"

"By, jangan marah."

"Gue cuma nanya. Apa gue kenal orangnya?"

Sachie memainkan jemarinya, kemudian mengangguk. "Dekat kok sama kita."

Deket sama kita? Bian? Napas Ruby tertahan. "... udah lama?"

"Apanya?"

"Lo suka dia. Atau ... kalian udah ... jadian?" mata Ruby terpejam sesaat.

"Gue nggak tahu sejak kapan, kita sering ribut, debat nggak jelas, tapi sering bercanda juga, dan—"

Mereka berdua juga sering ribut.

"Ngg—Nanti aja deh gue ceritainnya, setelah acara perpisahan. Gue nggak mau lo kaget, kepikiran dan akhirnya nggak fokus. Lo bukan cuma akan main piano buat pertunjukan kita, tapi mengiringi paduan suara juga."

"Apa menurut lo gue akan sekaget itu?"

"Kayaknya. Dan mungkin lo nggak bakal nyangka."

Ruby menghela napas pendek. "... oke. Tapi, gue boleh minta tiga clue-nya? Maksud gue, seenggaknya gue yakin dulu pilihan lo bisa dipertimbangkan. Gue nggak rela dunia akherat kalau lo suka sama cowok sembarangan."

"Dua aja, ya, clue-nya, kan tadi udah tahu kalau dia dekat sama kita, dan bukan orang sembarangan yang bisa dekat sama elo, kan?"

Ruby mengangguk kaku, mencoba fokus pada jalan, walaupun sulit. Dia kepikiran Oska.

"Dari segi fisik, orangnya putih, tinggi, seperti yang sering lo bilang kalau cari cowok itu yang lebih tinggi dari kita, biar serasi kalau berdiri jejeran."

Starlight for YamazaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang