Hai semuanya....
Maaf baru bisa update sekarang.... kemarin-kemarin aku sakit... alhamdulillah sekarang udah baikan...
Semoga kalian masih ingat cerita ini... selamat membaca... (^_^)
*****
"PR mana PR ... semuanya kumpulin sekarang... ayo.. gaeesss...!" Sutha—ketua kelas XI IPA 2 berteriak di depan kelas.
"Gue belum selesai, Tha."
"Bentar lagi."
"Nanti setelah upacara aja sih, Sut."
"Heh, geseran, gue nggak keliatan."
"Paijo, awas iihh! Tangan lo nutupin nomor 8."
"Nama gue Jonathan, Tuyul."
"Nama gue Yuli, bukan Tuyul, Bejooooo."
"Woi, Para Member Klub Pemalas. Jangan berebut, nanti buku PR gue robek."
Macam-macam suara keluhan menggema di penjuru kelas. Ada yang berlari kesana kesini mencari contekan. Ada gerombolan yang sedang menyalin PR milik teman yang sudah selesai.
Sutha mengapit tiga buku di ketiak, menaruh tas warna biru dan bungkusan plastik di meja. Dia kembali menepuk tangan.
"Ayo ... ayo ... selesai nggak selesai kumpulin. Sepuluh menit lagi kita harus ke lapangan."
Sutha berkeliling mendekati teman-temannya sambil meletakkan tas Ruby ke kursinya. Tadi gadis itu menitipkan pada Sutha.
"Sachie, lo ngapain disini?"
"Ikut turnamen gundu." Sachie masih menunduk. "Ya ngerjain PR lah, pake nanya. Sssshhhh ... ini pake rumus yang mana sih, kok nggak ketemu. Ayo, Chie, ayooo ... pikir lagi, pikir lagi."
Sutha mengerutkan kening melihat Sachie memukul keningnya dengan kepalan tangan. "Ngapain ngerjain lagi, Chie? PR lo kan udah jadi. Mending gabung sama anggota PMR yang lain, mereka udah kumpul tuh."
"Udah jadi dari Neptunus? Gue baru dapat empat soal." Tanpa melihat, Sachie mendorong tangan Sutha. "Udah deh, Tha. Kumpulin yang lain dulu sana, jangan ganggu gue."
"Auriga Sachieanza / XI IPA 2 / PR Matematika." Sutha membaca nama pada sampul di salah satu buku yang dia pegang. "Itu nama lo kan? Ya, kecuali ada salah satu setan penunggu kelas ini yang niruin nama lo."
Gerakan tangan Sachie langsung terhenti.
Sutha memperlihatkan satu buku diantara dua buku yang lain—buku PR miliknya sendiri dan milik Ruby. "Tadi waktu Ruby ngumpulin PR, dia nitip punya lo sekalian, katanya ketinggalan di mobil."
Sachie merebut buku itu, membaca nama yang tertulis. Mulutnya terbuka, benar namanya. Kemudian membuka isinya. Tulisan rapi Ruby memenuhi tiga halaman.
Sachie menunduk tertegun. Ruby sudah mengerjakan PR-nya? Kenapa tidak bilang?
Kilasan kejadian di mobil tiba-tiba saling melintas di pikiran. Ruby yang begitu santai. Ruby yang bersikeras memintanya sarapan. Dan juga saat dirinya yang membentak Ruby. Namun yang paling parah dari semua itu adalah waktu dirinya membuang sarapan pemberian Ruby. Tidak seharusnya ia bersikap berlebihan seperti tadi. Sahabatnya itu pasti sakit hati.
Mata Sachie terpejam sesaat dengan helaan napas berat, seolah baru sadar kenapa pagi ini Ruby bersikap 'menyebalkan'.
Ruby tetaplah Ruby. Orang paling gengsian sejagat raya—kepada siapapun itu, termasuk sahabatnya sendiri. Dan betapa bodohnya Sachie tidak menyadari semuanya, padahal mereka sudah lebih dari jutaan purnama bersahabat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Starlight for Yamaza
Ficción General"Dia bukan cowok most wanted dengan segala pesona yang bikin cewek-cewek alay keganjenan kayak cacing kepanasan. Tapi bukan berarti dia cupu. Dia cuma anak pendiam, yang pasrah dengan kondisinya. Satu-satunya cowok yang selalu bawa bekal ke sekolah...
