"Kenapa, Bos? Abis ketemu gebetan kok mendung gitu mukanya?"
Oska melirik Aji yang berjalan di belakangnya. "Sok tahu kamu." Kemudian menoleh kearah jendela kamar Ruby, tertegun sejenak sebelum masuk mobil.
"Lupa, ya. Gini-gini saya tahu banyak tentang Bos dari yang orang lain ketahui." Kata Aji setelah masuk mobil.
Oska tidak menyangkal. Kemana-mana selalu ditemani Aji membuat pria itu merangkap dua pekerjaan sekaligus—sopir dan teman curhat. Aji orang yang cukup peka untuk melihat situasi.
Saat obrolan santai menuju sekolah kala itu, tiba-tiba dia bertanya tentang Ruby. Oska sempat terkejut. Namun berkat kepolosan hakikinya, ia tidak bisa berkutik saat Aji terus memancingnya dengan pertanyaan-pertanyaan jahil. Sejak saat itu, Aji lah tempat sampah semua cerita Oska.
"Udah aku bilang jangan panggil Bos, Aji, yang gaji kamu itu Mama bukan aku. Lagian umur kamu lebih tua lima tahun, harusnya panggil nama aja."
"Dan keesokan harinya saya dipecat karena mengabaikan asas kesopanan terhadap anak majikan? Enggak, Bos, terimakasih."
"Lebay."
"Kita pulang?"
Di sebelahnya, Oska menjawab malas. "Emangnya mau kemana lagi?"
"Kirain mau belajar jadi maling, soalnya dari tadi Bos lihatin rumah Mbak Ruby terus."
Oska tersentak, salah tingkah sambil membenarkan posisi duduknya. "Jalan."
Mercy hitam itu meninggalkan rumah Ruby.
"Jadi, gimana? Misinya sukses?" tanya Aji karena sudah beberapa menit Oska terdiam. Tidak seperti waktu berangkat tadi yang begitu semangat.
"Sukses."
Mata Aji berbinar, sampai menepuk bahu Oska. "Wah, selamat, Bos. Saya bakal dapat traktir—"
"Sukses ditolak." Oska memotong.
"Hah?"
"Dan kabar buruk lainnya, Ruby mutusin persahabatan kami. Hebat, kan? Bukannya dapat pacar, malah kehilangan orang penting."
"Kok bisa? Bukannya Mbak Ruby juga suka Bos—Ngg—maksudnya, menurut pandangan saya, dia itu kelihatan perhatian sama Bos lebih dari sahabat. Bukankah itu pertanda suka, ya?"
"Bukan cuma perhatian, semua barang pemberian aku, dia simpan dengan baik, foto-foto kami berdua dipisahin di file khusus. Bahkan aku bisa ngerasain emosi rasa sayang dia waktu kita ciuman—"
"HAH?!"
"AJI?!" Oska tersentak. "Kamu mau bikin leher aku patah setelah hati aku? Kebiasaan banget ngerem ngedadak." Oska mengusap leher belakangnya setelah kepalanya terhuyung ke depan, lalu ke belakang lagi dengan gerakan cepat.
"M—maaf, Bos. Saya kaget denger—jadi, Bos sama Mbak Ruby tadi ciuman? Beneran?!"
"Kenapa? Aku cowok normal yang udah akil baliq, bukan hal aneh kalau hormon orang dewasa udah mulai bekerja, Aji Saka. Tapi, udahlah, toh, endingnya Ruby nolak aku."
Mobil kembali berjalan.
"Bukan itu, maksud saya—gini, kalian ciuman, tapi Mbak Ruby nolak cintanya Bos? Kalau kalian dua orang dewasa yang udah biasa dengan hal seperti ini, mungkin ciuman bukan masalah besar. Tapi, kalian masih remaja tanggung. Saya bukan baru kemarin nemenin Bos, Mbak Ruby, Mbak Sachie. Hampir kemanapun saya nemenin kegiatan Bos bersama mereka. Dan saya yakin hal ini masih baru buat kalian, kan?"
Oska meremas rambutnya. "Aji, bisa to the point nggak? Kepalaku lagi mumet, jangan bikin makin ruwet."
"Intinya, aneh aja Mbak Ruby nolak, tapi mau diajak ciuman. Harusnya tolak, ya, tolak aja, ngapain pakai acara ciuman segala. Udah bikin baper anak orang, nolak, trus ninggalin kesan manis. Itu namanya nyiksa batinnya Bos. Kecuali dia juga ada rasa, tapi terpaksa nolak karena alasan tertentu. Baru deh, dua-duanya kesiksa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Starlight for Yamaza
Ficción General"Dia bukan cowok most wanted dengan segala pesona yang bikin cewek-cewek alay keganjenan kayak cacing kepanasan. Tapi bukan berarti dia cupu. Dia cuma anak pendiam, yang pasrah dengan kondisinya. Satu-satunya cowok yang selalu bawa bekal ke sekolah...
