YAMAZA - BAB 26

1K 108 125
                                        

Oska turun dari tempat tidur rumah sakit, menuju jendela yang memperlihatkan pemandangan kota Penang. Matanya terpejam sesaat, lalu terbuka lagi, seolah sedang meyakinkan diri bahwa semua ini bukan mimpi.

Dalam dimensi perspektifnya, tidak mungkin seseorang yang sudah tiga kali terkena serangan dengan denyut jantung yang terus melemah masih mampu membuka mata. Namun, hidup memang selalu menyimpan rahasia, siapapun tidak akan menyangka Oska masih bernapas sampai detik ini, bahkan dirinya sendiri.

Tangannya perlahan membuka kancing baju satu persatu. Bungsu tiga bersaudara itu tertegun memandangi perban putih bersih yang beberapa saat lalu baru diganti. Perban yang menutupi bekas luka operasi yang mulai mengering. Sayatan panjang yang membuat perasaannya campur aduk, bingung harus senang atau sedih.

Tidak ada orang yang tidak senang mendapat kesempatan kedua berupa kehidupan baru. Namun, jika kehidupan barunya harus mengorbankan kehidupan yang lain, apa ia layak merasakan kesenangan?

Oska menutup kembali kancing bajunya. Bersyukur saja rasanya tidak cukup, Oska ingin sekali membuka jendela dan berteriak untuk mengungkapkan rasa bahagia akan hidup barunya, mengatakan pada dunia bahwa sekarang ia tidak takut apapun lagi. Ia sudah memiliki jantung sehat yang sangat diterima tubuhnya. Namun, ada sesuatu tak kasat mata yang mencegah. Entah kenapa hatinya menolak keras.

Baik Mama ataupun keluarga yang lain belum mau bercerita tentang siapa orang baik yang memberinya kehidupan baru. Orang asing, orang sudah tua, masih muda, laki-laki, perempuan ataupun banci sekalipun, Oska tidak tahu. Ia hanya merasa sedih yang teramat dalam setiap kali merasakan detak baru di dalam sana, layaknya seseorang yang baru saja kehilangan orang terdekat.

Oska berharap perasaannya salah. Ia terus merapalkan bahwa rasa ganjil ini hanya efek kegelisahan dari seorang pasien yang frustasi karena berminggu-minggu terkurung di ruangan menyebalkan ini, jauh dari keluarga, sahabat, dan—

"Sayang," Oska menoleh, Mama masuk ruangan dengan senyum singkat. "Urusan administrasi rumah sakit dan lain sebagainya udah beres. Satu jam lagi kita harus sampai bandara untuk bertemu Papa yang sekarang sedang berkemas di hotel."

Kegelisahannya menguap pergi mendengar kabar ia akan segera bebas dari tempat sini. "Demi apapun, setelah ini rumah sakit adalah tempat yang paling, paling dan paling Oska benci. Benar-benar membosankan."

"Sayangnya untuk beberapa waktu ke depan kamu masih harus rutin melakukan check-up ke rumah sakit." Mama mengusap rambut si bungsu yang sedang cemberut. "Gimana, kamu senang akan pulang ke Indonesia?"

Wajah murungnya berubah ceria. "Nggak ada yang Oska inginkan selain itu, Ma." Oska membantu memasukkan baju ke dalam koper. "Oska memang sedih harus melewatkan acara perpisahan dan pengumuman kelulusan, tapi udah nggak penting. Sekarang Oska nggak sabar pengen ketemu teman-teman, terutama Ruby dan Sachie."

Gerakan Mama terhenti, senyumnya redup mendapati wajah tak sabar putranya yang sedang menerawang.

"Hampir setiap hari ketemu dan terpaksa harus terpisah berminggu-minggu? Huh, Mama bisa bayangin sekangen apa Oska sama mereka berdua. Sachie yang selalu ceria, Ruby yang jutek tapi perhatian. Oska kangen semua—Pokoknya sesampainya di Bali, Mama harus siapin makanan enak yang banyak ya, Oska mau undang mereka menginap di rumah. Banyak yang akan Oska ceritakan selama kami nggak ketemu."

Mama hanya memandangi Oska yang tersenyum sendiri. Dalam diam ia sibuk meremas ujung baju untuk mengendalikan emosinya sekuat mungkin.

"Mama tahu apa yang akan Oska lakukan pertama kali saat bertemu mereka?"

Mama mengerjap perih, memalingkan wajahnya. "... memeluk, mereka satu-satu?"

"Memarahi mereka satu-satu." Sambar Oska dengan nada yang dibuat kesal. "Teman dekatnya sakit, tega-teganya nggak ada yang nanyain kabar sama sekali. Emangnya mereka nggak peduli sama Oska? Oska sakit loh, sakit parah yang harus menjalani operasi besar yang bisa saja mati di meja operasi, tapi—benar-benar sulit dipercaya."

Starlight for YamazaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang