YAMAZA - BAB 17

1K 103 131
                                        

Oska terhenyak saat membuka mata. Semuanya gelap. Pekat. Seketika jantungnya berpacu kencang. Ada apa ini? Apa dia sudah mati? Apakah waktunya sudah tiba? Apakah secepat ini? Atau—

Oh, ternyata topinya nutupin mata.
Oska membenarkan posisi topi sambil menegakkan tubuh dengan wajah polos tak berdosa. Lengkap dengan muka bantal.

Sudah berapa lama ia terlelap? Oska lupa. Yang ia ingat, matanya mulai perih dan terus menguap karena gadis di depannya masih betah berdiam sambil memandangi aquarium. Rasa kantuk membuatnya kalah dan akhirnya tertidur. Nggak pa-pa lah tidur sebentar, mungkin Mbak Bayi masih butuh waktu sendiri.

Gadis? Mbak Bayi?

Seolah baru ditampar kenyataan, Oska langsung beranjak mengedarkan pandangan, mencari Ruby yang sudah tidak di sana. Beberapa kali dia memanggil seperti balita yang mencari ibunya saat bangun tidur, gadis itu tetap tidak ada. Apa Mbak Bayi pergi saat dirinya tidur? Sial!

Oska merutuki dirinya sendiri. Harusnya ia tidak tidur. Harusnya ia tetap berjaga. Bodoh, bodoh, bodoh. Ada gadis yang hatinya sedang terluka, kenapa kamu malah enak-enakan tidur, Ka? Dimana pikiranmu? Gimana kalau dia marah? Gimana kalau dia benci sama kam—eh, tas Mbak Bayi kok masih disini?

Oska mengambil tas merah milik Ruby, yang baru ia sadari tas itulah yang mungkin jadi pembatas sisi wajahnya dengan dinding. Pantas saja empuk. Tapi, siapa yang menaruh tas ini disana? Apa tanpa sadar tangannya berkeliaran saat tidur, menjadikannya bantal? Atau Mbak Ruby, karena merasa kasihan melihatnya tertidur di lantai seperti gembel?

Oska menggeleng. Ruby tidak mungkin melakukan itu.

Kalau tasnya masih disini, berarti Ruby juga masih disini. Oska langsung membereskan tas ranselnya dan menyambar tas Ruby. Tak lupa mengambil sebungkus permen mint dari saku, takut napasnya bau naga.

"Mbak? Mbak Bayiii... Mbak dimana?" Oska berkeliling Sea World, terus memanggil seperti orang kesurupan.

"Mbak—"

"Hai, Bi. Gue disini." Gadis berseragam sekolah dengan jaket biru itu berlari kecil mendekati Oska. "Udah bangun?" Pake nanya, By. Lo pikir dia lagi masak!

Di bawah terowongan berisi ikan Pari dan ikan-ikan lain, Oska melongo. Dia udah bangun tidur kan? Dia nggak lagi mimpi kan? Ini beneran Mbak Bayinya? Kok mukanya seger banget kayak abis disiram air es. Satu lagi, senyumnya, lebar dan manis kayak balita abis kecebur lautan permen gula.

"Mbak... disini?" Oska mengerjap, menjilat bibirnya sesaat. "Saya pikir udah pergi."

"Mana bisa gue pergi."

"Ya?"

Tadi kan elo sendiri yang larang gue pergi tanpa elo. Ruby memutar bola matanya. "Gimana mau pergi? Tas gue lo pake buat bantal. Sini."

"Oh," Oska memberikan tas merah itu. "Maaf kalau tidur saya muter-muter kayak kuda, sampai nggak sadar ambil tas Mbak."

"Hmm." Ruby memakai tasnya. Tidur lo tenang banget, saking tenangnya sampai nggak sadar kepalanya gue pindah sana sini.

Kalau tidak ada panggilan alam untuk pipis, Ruby tidak akan pernah mengganti bahunya dengan tas. Rasa kebas itu tidak ada apa-apanya dibanding pemandangan wajah teduh Oska. Tapi ada untungnya juga, apa yang terjadi kalau Anak Mama ini bangun dalam keadaan bersandar di bahu gadis yang secara sadar senyum-senyum sendiri, bahkan dengan lancang beberapa kali menyentuh setiap inci wajahnya? Bisa berabe.

"Eh, Bi. Sini deh. Lo harus lihat apa yang gue lihat."

Belum sempat bertanya, Oska dibuat terkejut saat Ruby menarik tangannya, mengajaknya berlari kecil. Asli, ini cewek kerasukan roh ikan jenis apa, sih? Kok tiba-tiba jadi ceria gini.

Starlight for YamazaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang