YAMAZA - BAB 12

1K 92 76
                                        

Sachie tidak menyangka efek kejadian kemarin begitu terasa pagi ini. Semua orang tahu dirinya cuma nyungsep, tidak sampai guling-guling seperti improvisasi pemain sinetron dalam adegan pasaran ketabrak mobil—padahal mobilnya masih jauh, tapi malah diam aja di tengah jalan.

Luka yang Sachie dapat pun sesuai dengan kejadian, hanya lecet di lutut dan memar di bahu. Hasil pemeriksaan detail yang dilakukan dokter sesuai permintaan Ruby, juga menunjukkan kalau semua tulangnya aman dan tidak ada luka dalam yang berarti. Tapi sumpah demi tulang lunaknya Mimi Peri, saat ini badannya sakit sekali. Benar kata Ruby, dari ujung kepala sampai ujung jempol rasanya seperti habis digebukin orang se-Bali.

Jangankan berangkat sekolah, untuk bangun saja rasanya malas. Maka terkutuklah tangan yang dari tadi sibuk menggoyang-goyangkan lengannya.

"Apaan sih, La?! Hari ini gue nggak sekolah. Udah, pergi sana." Sachie menarik selimut sampai menutupi kepala, kemudian mengumpat kesal saat Nala menariknya lagi.

"Uang jajan lo hari ini buat gue ya, Kak."

"Gue nggak masuk, mana ada uang jajan." Sachie menarik lagi selimutnya.

"Ada. Nih." Nala mengeluarkan uang 20 ribuan dari saku seragam. "Sebelum ke pasar, Nenek nitip ini buat elo. Katanya kuota lo mau abis."

Sachie membuka selimutnya cepat. "Gue nggak pernah bil—" mungkin Nenek dengar waktu gue ngeluh semalam. "—ya udah siniin."

Nala langsung menjauhkan tangannya. "Buat gue aja ya. Pulang sekolah teman gue mau traktir makan di cafe, rame-rame. Masa gue nggak ada pegangan."

"Pegangan aja sama tembok." Sachie bangun untuk duduk. "Elo kan punya uang jajan sendiri, La. Dan, kenapa nggak makan-makan di warung aja? lumayan kan buat larisin dagangan Nenek. Lo juga bisa bantu-bantu disana."

Nala memutar bola matanya malas. "Jangan ngajak gue bercanda deh, Kak. Ya kali gue rekomendasiin tempat makan pekerja proyek ke teman-teman gue."

"Heh, mulutnya." Sachie menepuk mulut Nala pelan. "Dari tempat-makan-pekerja-proyek itu kita bisa makan, tau. Dan setahu gue, teman-teman lo nggak sultan-sultan amat, sok-sokan banget makan di café. Byby yang duitnya bisa beli semua café di Bali aja lebih suka makan di warung pecel lele pinggir jalan."

"Kenapa jadi lo yang ribet sih? Urusan teman gue lah mau traktir dimana. Udah ah, gue mau sarapan. Noh, sarapan lo juga udah siap." Nala beranjak sambil memasukkan uang ke saku.

"Heh, uangnya kesiniin, mau gue pakai beli kuota. Nalaaaa~"

"Minta aja sama Byby-Byby lo itu. Minta beliin perusahaan provider sama towernya sekalian." Teriak Nala yang sudah keluar kamar.

Sachie balas berteriak yang berakhir sia-sia. Nala tidak menyahut dan tidak mungkin juga mengembalikan uang jajannya. Anak itu memang menyebalkan, tapi Sachie sangat menyayangi adik satu-satunya itu.

Sachie mendengus, badan sakit, kuota hampir habis, tidak ada uang jajan. Apes banget hidupnya. Tapi sekepepet apa pun, Sachie tidak akan meminta pada Ruby. Gadis itu sudah banyak berjasa. Apalagi kemarin, ia yakin Ruby habis banyak untuk membayar tagihan rumah sakit.

Dalam keadaan seperti ini, biasanya yang Sachie lakukan hanya berdoa semoga ada orang gila yang salah mengetik nomor sendiri saat mengisi pulsa yang berakibat nyasar ke nomornya. Dan tidak jarang Tuhan masih berbaik hati pada makhluk yang tidak alim-alim amat ini. Bukan sekali dua kali doanya dikabulkan, tapi seringkali Sachie menerima pulsa nyasar dengan jumlah yang lebih dari cukup buat daftar internet sebulan.

Dan sekali lagi Makhluk Tuhan Yang Tidak Alim-alim Amat itu akan mencoba peruntungan dengan berdoa. Siapa tahu pagi ini ada orang gila yang—

Suara ponsel menunda ritual absurb Si Fakir Kuota. Sachie buru-buru meraih ponselnya di samping bantal. Siapa tahu Tuhan mengerti keapesannya dan mengirim apa yang ia inginkan sebelum doa terucap. Hihii.

Starlight for YamazaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang