YAMAZA - BAB 9

997 95 10
                                        

Dengan satu tangan membekap hidung, tangan lain Ruby menjangkau kotak tisu di atas meja. Sedetik kemudian dibanting sampai terpelanting ke lantai. Sial, tisunya habis.

Ruby panik.

Ekor matanya menangkap banyak mata pengunjung kantin yang menatap kearahnya. Ia benci menjadi pusat perhatian, apalagi dalam keadaan menjijikkan seperti ini. Belum lagi—

"Mbak."

Ruby mendongak. Iya, satu orang di depannya ini. Osk—maksudnya Bian. Kenapa selalu ada dia saat dirinya mengalami sesuatu yang mengenaskan? Dan semuanya berhubungan dengan darah. Kemarin darah mens, sekarang darah mimisan. Lalu darah apa lagi yang harus cowok itu lihat keluar dari tubuhnya? Darah perawan?

"Mbak Ruby."

Ruby melihat kekhawatiran di wajah itu. Ekspresi yang sama seperti saat pertama kali mereka bertemu di toilet.

"Pergi, Bi." Sudah cukup sekali saja Ruby terlihat lemah di depan orang asing. Ia tidak mau lagi.

Oska menggeleng. "Saya carikan tisu du—"

Krek.

Ruby mendorong cepat kursinya ke belakang. Kalau Oska tidak mau, maka dirinya yang akan pergi. Ia juga tidak mau semakin malu dan membuat semua orang jijik melihat keadaannya yang berantakan mirip rumah tangga artis.

"Mbak! Mbak Ruby mau kemana?"

Kemana aja, kalau perlu terjun ke perut bumi.

Sambil berjalan cepat, Ruby mengusapkan tangannya asal ke jas. Sesekali berdecak mengutuk dirinya sendiri, sudah lama sekali ia tidak mimisan, kenapa harus terjadi lagi? Tidak mungkin kan penyebabnya hanya karena masalah yang menurutnya tidak penting itu?

Kekesalan Ruby semakin bertambah melihat antrian di toilet, dimana wastafel dipenuhi siswi-siswi sedang memoles ulang wajahnya.

Darahnya belum berhenti, dimana ia harus membersihkannya?

Ruby berlari ke belakang sekolah, duduk di rerumputan bawah pohon. Mau tidak mau ia harus merelakan jas almamater kebesarannya kotor. Dan ternyata seragam putihnya pun juga terkena bercak darah. Ck. Penampilannya saat ini lebih mirip zombie di acara Halloween Party dari pada bocah SMA yang sedang mimisan.

Banyak sekali pertanyaan 'kenapa' di kepala Ruby. Salah satunya, kenapa ia bisa sepanik dan sejorok ini sampai mengelap darahnya ke seragam? Jorok, tidak tenang. Ini bukan Ruby banget.

Harusnya dia sudah tahu kalau darah mimisan itu tidak sebanyak darah mens, yang jika tidak segera ditahan dengan pembalut, akan bocor kemana-mana. Menurut buku yang ia baca dan pengalamannya selama ini, hanya satu sampai dua sendok makan darah yang mungkin keluar dari hidung. Kalau bisa lebih tenang, mungkin jas kebanggaannya tidak akan menjadi korban. Kalau bisa lebih tenang, harusnya ia membeli tisu di koperasi dari pada—

"Pakai ini aja, Mbak."

Baru satu lengan jas biru terlepas, Ruby menoleh kaget. Dia lagi. Kemudian menunduk sambil menutup hidungnya.

Oska duduk disebelahnya dengan mengulurkan gulungan tisu. "Maaf, adanya tisu toilet—eh, tapi Mbak jangan khawatir. Ini masih baru kok, barusan plastik kemasannya saya buang di tong sampah. Mau beli tisu wajah, stok di koperasi abis."

Ruby hanya melirik Oska dan tisu bergantian.

Meyakini darah masih keluar dari hidung gadis itu, Oska menarik beberapa gulungan tisu, mengarahkan ke wajah Ruby. "Maaf ya, Mbak."

Oska tidak tahu dari mana datangnya keberanian mendekati gadis yang galak dan selalu membuat gugup karena tatapan lasernya. Semua bergerak begitu saja, hati yang ingin membantu dan langkah kaki yang membawanya sampai menemukannya disini.

Starlight for YamazaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang