YAMAZA - BAB 31

992 130 35
                                        

Satu-satunya keinginan Oska sejak meninggalkan area makam adalah mengembalikan senyum Ruby. Maka, hal pertama yang ia lakukan dengan membawa gadis itu ke rumah.

Mungkin Ruby tidak akan senang dengan kehadiran banyak orang—apalagi semua cucu-cucu Mama yang rusuhnya super MasyaAllah itu sedang liburan. Namun, membiarkan gadis itu sendirian jelas bukan ide bagus. Ruby akan kesepian, menangis, melamun, menangis lagi.

Oska tidak mau itu terjadi.

Lagipula, sebelumnya ia sudah memberi tahu Mama. Tidak banyak yang ibunya katakan, selain keinginannya bertemu Ruby.

Bukan hanya pelukan Mama, semua orang menyambut kedatangan Ruby dan mengerti keadaannya. Kak Naya yang orangnya selalu tidak sabaran, juga tidak mau kalah ambil bagian. Walaupun caranya sempat memperburuk perasaan Ruby, setidaknya kata-kata yang lumayan pedas itu berhasil mempengaruhi pikirannya.

Bukan itu saja. Kehadiran bayi sepuluh bulan yang entah kerasukan roh halus dari mana yang tiba-tiba gampang lengket dengan orang baru itu, juga turut andil memperbaiki keadaan Ruby.

Jam setengah dua pagi, Oska sempat mendengar suara Wibi saat dirinya mengambil minum di dapur. Ia khawatir bayi itu membuat Ruby kewalahan. Namun, dugaannya salah. Dari pintu kamar yang sedikit terbuka, Oska bisa melihat Wibi sedang tiduran memegang dot, sesekali menjeda kenikmatannya menyusu sambil menatap Ruby. Padahal gadis itu hanya memainkan telunjuknya yang digenggam, seolah menggoda Wibi agar melepas genggaman, tetapi bayi itu bisa terpingkal. Dan berhasil menularkan senyumnya pada Ruby.

Sekali lagi Ruby menggoda dengan cara menarik kepalan tangan mugil itu ke mulutnya, berpura-pura siap menggigit. Bukannya takut, justru Wibi semakin tertawa, yang membuat Ruby gemas dan tidak tahan untuk menciumi pipi gembulnya.

Hatinya senang dan menghangat melihat Ruby tersenyum. Oska ikut tersenyum dan berterimakasih pada keponakannya.

Ia terus mengawasi sampai keduanya kembali tertidur. Sebelum kembali ke kasur lipat di kamar Kak Naya, Oska sempatkan untuk menyelimuti kedua 'bayi' itu.

Seperti Seva dan Sena yang tidur dengan tangan saling menggenggam, Ruby dan Wibi juga. Rasanya Oska ingin jadi Wibi lima menit saja biar bisa tidur pelukan sambil menggenggam tangan Ruby. Ihik.

Oska hendak mencium pipi Ruby, tetapi Wibi bergerak dan gadis itu reflek menepuk-nepuk pantatnya dengan mata terpejam. Setelah keduanya kembali tenang, ia letakkan bantal di belakang punggung Wibi dan mengusap rambut Ruby.

Selamat tidur, calon ibunya anak-anak. Hihiii.

Kebahagiaan Oska bertambah pada pagi harinya. Bukan hanya Wibi yang berhasil menghibur Ruby, tetapi ketiga keponakan lainnya juga menyambut hangat kehadiran 'Rapunzel' mereka.

Sorot kesedihan di matanya masih terukir jelas, tetapi Oska tahu Ruby sedang berusaha keras menerima kenyataan pahit ini.

Melihat meja makan dengan delapan kursi itu hanya tersisa satu, Oska mendekati Ruby. "Kita makan di sofa aja ya. Disini penuh."

Ruby mengangguk.

"Ya ampuuunnn~" Tiba-tiba Papa berseru kencang, membuat semua orang berhenti bergerak. "Kayaknya abis ini kita harus telpon IKEA deh, Ma. Ini tanpa Natta sama El aja meja udah nggak cukup. Sekarang keluarga kita bertambah satu."

Ruby terhenyak kaget saat Papa Langit tiba-tiba merangkul bahunya. Satu kata yang menarik perhatian Ruby. Keluarga.

"Belum lagi kalau Wibi udah bisa duduk sendiri, terus adiknya Elka sama Seva Sena lahir, terus Oska Ruby punya anak."

Semua orang melotot, terutama dua nama yang dia sebutkan. Pikiran Papa udah traveling kemana-mana.

"Aduh, aduh! Papa udah bayangin rumah kita bakal rame banget kayak pasar malam. Akhirnya impian Papa punya keluarga besar terwujud. Kita panen cucu, Ma. Pokoknya abis ini Mama harus telpon IKEA, oke?"

Starlight for YamazaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang