Jika bukan karena telpon dari rumah sakit, mungkin saat ini Raiden masih duduk tenang di perpustakaan kampus. Sibuk dengan buku-buku kedokteran, mempelajari materi yang mungkin keluar dalam kuis yang akan dilaksanakan dua jam lagi.
Ia abaikan ajakan teman-temannya berkumpul di kantin. Raiden memang suka bermain-main layaknya anak muda pada umumnya, namun ia akan berubah serius jika keadaan menuntutnya. Dan menyepelekan ujian bisa mengantarkannya mendapat nilai jelek—hal yang tidak akan pernah Raiden lakukan. Ia ingin lulus tepat waktu, menjadi dokter dan menunggu Sachie lulus akademi keperawatan.
Dan untuk pertama kalinya Raiden mengabaikan pendidikan. Setelah berlari kesetanan di lorong rumah sakit, tubuhnya seketika lemas mengetahui adik dan kekasihnya dalam keadaan kritis. Padahal tadi pagi mereka masih tertawa bersama. Ruby yang risih dan Sachie yang malu-malu mau tapi mau saat ia peluk.
Raiden tidak bisa berkata apa-apa melihat Ruby terbaring lemah dengan tubuh penuh alat medis. Ada alat penyangga di leher, goresan luka yang tak terhitung, dan yang terburuk, ternyata ada masalah pada saraf motoriknya. Jika sembuh nanti, kemungkinan besar Ruby harus berteman dengan kursi roda untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.
Raiden mengusap air matanya begitu masuk ke ruangan Sachie. Ia tidak ingin percaya, tetapi obrolan adik dan neneknya Sachie di lorong itu terus menghantui pikirannya.
Raiden pandangi tubuh mungil itu. Luka gores Sachie tidak sebanyak Ruby, namun balutan di kepala, printilan alat-alat penopang hidup dan wajah super pucat, menandakan kondisinya jauh lebih buruk.
Satu bulir menetes lagi. Sachie, Botol Yakult kesayangannya, tidak boleh pergi secepat ini. Mereka berdua belum lama bahagia, baru kemarin mereka mengumumkan hubungannya pada dunia. Dan sekarang, tega-teganya takdir akan memisahkan mereka untuk selamanya.
Tidak boleh. Sachie tidak boleh meninggalkannya. Banyak mimpi yang sudah mereka rencanakan.
Raiden buru-buru mengusap pipinya begitu mata itu terbuka perlahan. "Hai."
Sachie memandanginya dengan kerjapan lemah. Bibirnya mencoba bergerak seiring tangannya yang terangkat.
Raiden meraihnya. "Tidur aja ... istirahat biar cepet sembuh. Tenang ... gue nggak akan kemana-man—"
"B—byby?"
"Jangan pikirkan apapun dulu, lo—" tatapan nanarnya memaksa Raiden menghela napas panjang. "Kondisi Byby ... nggak jauh beda sama lo."
Sachie mengerjap, seketika bulir itu luruh.
Raiden hendak menyuruh Sachie tidur lagi, tetapi rasa takut kembali menjalar. Bagaimana jika gadisnya tidak akan membuka mata lagi?
"Lo tahu? Muka kalian yang udah jelek jadi makin jelek tau." Raiden tersenyum kaku lalu mengusap air mata Sachie.
"Gue yakin Byby lebih kuat dari gue."
"Percayalah, masa kritis ini akan segera berakhir. Gue udah minta dokter melakukan yang terbaik, kalau mereka nggak sanggup, gue akan rubuhkan rumah sakit ini—"
"Mas,"
"Bercanda. Gue akan datangkan dokter-dokter terbaik dari luar. Sabar ya, sebentar lagi lo akan keluar dari tempat mengerikan ini. Lo sama Byby akan sembuh, akan lebih sehat dari sekarang. Kalian bisa bermain lagi, tidur bareng lagi, kuliah—"
"Mas Rai." Dari getaran suara dan bulir yang membanjiri pipinya, ia yakin Raiden sudah mengetahui kondisi dan keputusannya. Pria itu hanya sedang menghibur diri dengan berkhayal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Starlight for Yamaza
Genel Kurgu"Dia bukan cowok most wanted dengan segala pesona yang bikin cewek-cewek alay keganjenan kayak cacing kepanasan. Tapi bukan berarti dia cupu. Dia cuma anak pendiam, yang pasrah dengan kondisinya. Satu-satunya cowok yang selalu bawa bekal ke sekolah...
