Oska tak berniat meredupkan senyum saat memandangi mobilnya yang sudah kinclong. Bukan hanya body, ban-nya pun juga ia poles sampai mengkilap seperti baru. Tidak setiap hari gadisnya mengajak jalan-jalan, maka segalanya harus dipersiapkan dengan sempurna. Masa penumpangnya bening, tumpangannya butek. Nenek buta main jailangkung bisa ketawa sampai salto kalau tahu.
Kening Oska tiba-tiba mengeryit melihat dirinya di pantulan kaca spion. Ia menggerakkan dagu ke kanan ke kiri seperti model iklan sabun cuci muka. Wajahnya masih tampan walaupun belum mandi, justru kadarnya bertambah dengan butiran keringat yang muncul. Tapi Ruby tidak boleh melihatnya seperti ini. Aib.
Maka dibanting lah lap itu dan bergegas masuk rumah.
Selesai membersihkan diri, Oska mendekati kakak iparnya yang berada di dapur.
"Udah semua, Kak?"
Kak Kasih mendekatkan beberapa box makanan. "Tupperware biru isinya potongan melon, hijau semangka, pink mangga, kuning anggur. Kakak juga buatkan beberapa potong sandwich. Ada lagi?"
"Makasih udah mau Oska repotkan. Tapi, susu Dancow-nya mana?"
Subuh tadi wanita berperut buncit itu cukup terkejut dengan permintaan Oska yang satu itu. Dia pikir hanya si bungsu yang sampai sebesar ini masih menyukai susu cokelat, ternyata Ruby lebih parah. Dancow? Demi apa, Dancow, By. Hello. Jangan-jangan cemilan wajibmu biskuit Regal.
"Gimana dengan Milo? Masih ada stok punya Elka. Masalahnya Dancow yang kamu beli semalam udah di minum Sena. Dia bagi-bagi ke yang lain. Mau Kakak cegah, tahu-tahu sedotannya udah ditancepin."
Oska berdecak sebal. "Isshhh ... Sena lagi Sena lagi. Ya udah, Milo nggak pa-pa deh. Nanti punya Elka Oska ganti." Kemudian ia masukkan semua kotak satu persatu, sambil menoleh kearah tangga. "Ngomong-ngomong Ruby udah siap belum ya."
"Mungkin sebentar lagi." Wanita itu menoleh ke samping untuk memastikan Ruby belum turun. "Ka, kamu tahu kalau Ruby masih sering melamun? Bahkan semalam Kakak lihat dia berdiri di balkon lumayan lama."
"Tahu. Oska nungguin dia sampai ketiduran di tangga."
Kak Kasih sedikit terkejut. "Kamu nggak melakukan sesuatu?"
"Menghibur maksudnya? Ruby akan semakin sedih kalau kita terus-terusan mengungkit soal Sachie, yang dia butuhkan cuma waktu dan—"
"Bukan." Sergahnya. "Ruby sudah berusaha menerima kenyataan saat kita membicarakan Sachie, Kakak tahu itu. Tapi Kakak merasa ada hal lain yang dia pikirkan."
Oska tertegun. Hal lain?
"Apa kalian punya masalah lain selain Sachie?"
Oska menggeleng, kemudian tersenyum jahil. "Mungkin dia lagi mikir; betapa beruntungnya aku dicintai pria ganteng tiada tara seperti Bian, sampai nggak bisa tidur."
Kak Kasih langsung memukul lengannya.
Oska tertawa. "Kakak nggak usah khawatir, Oska akan pastikan Ruby baik-baik aja." Ruby harus baik-baik aja. "Dan kalau nggak salah, feeling Kak Kasih itu nggak kuat-kuat amat, terakhir Kakak salah nebak kalau Elka itu cowok, eh pas lahir ternyata cewek."
Wanita itu mengusap perutnya. "Kali ini Kakak benar. Cowok, sesuai USG."
"Aku doain cewek lagi. Hahahaa." Feeling-ku cowok sih.
Oska membawa keranjang makanannya ke mobil sambil memikirkan ucapan Kak Kasih. Apa benar ada yang mengganggu pikiran bayi-nya selain Sachie? Masih soal Nala-kah? Nggak mungkin. Dia bilang sudah tidak memikirkan perdebatan di dapur itu sejak bertemu nenek. Lalu masalah apa?
KAMU SEDANG MEMBACA
Starlight for Yamaza
General Fiction"Dia bukan cowok most wanted dengan segala pesona yang bikin cewek-cewek alay keganjenan kayak cacing kepanasan. Tapi bukan berarti dia cupu. Dia cuma anak pendiam, yang pasrah dengan kondisinya. Satu-satunya cowok yang selalu bawa bekal ke sekolah...
