Ruby kembali bergabung dengan keluarganya, menaruh ponsel di meja makan, menarik kursi yang sempat ia tinggalkan lalu menerima kupasan jeruk dari Sania sebagai pencuci mulut makan malam ini.
"Makasih, Ma."
"Mas Raffi bilang apa, By?" tanya Raiden sambil menusuk potongan apel.
"Keluarga Jogja nggak bisa datang semua. Nenek udah nggak kuat perjalanan jauh, Mbak Dina hamil tua, terus yang lain sibuk nyiapin acara pengajian peringatan meninggalnya kakek. Jadi Mas Raffi doang yang bakal datang sebagai perwakilan."
"Risiko bikin acara dadakan ya gini, bentrok sana sini."
"Nggak masalah. Aku udah bilang akan ke sana setelah acara di sini selesai."
Sania menahan tangannya yang memegang jeruk. "Kamu sama Oska mau honeymoon ke Jogja?"
Ruby menggeleng. "Aku udah dapat tiket bulan madu ke Yunani dari Kak Naya."
Semua orang menunggu kelanjutannya.
"Sebelum kalian kembali ke Jepang, aku mau kita semua ke Jogja, termasuk Mama dan Julius."
Senyum Sania menyamar. Bagaimanapun juga, mereka adalah keluarga Ivana. Selain tidak enak, ia tidak mau dianggap wanita tidak tahu diri. Atau yang lebih buruk, perebut suami orang.
Izanagi mengerti perubahan ekspresi istrinya. Maka ia berpaling kearah anaknya. "Byby..."
"Aku tahu apa yang kalian pikirkan." Ruby tersenyum, menarik tangan Sania yang memegang jeruk agar menyuapinya. "Mereka nggak nyalahin siapa-siapa atas apa yang terjadi sama mama, karena mereka jauh lebih mengenal kepribadian mama dan mengerti dengan keanehan mama sejak masih muda. Begitu kan yang nenek bilang ke Papa setelah pemakaman?"
Izanagi terdiam. Ucapan Ruby benar, mertuanya memang tidak menyalahkan dirinya. Beliau cukup bijak menanggapi kejadian itu. Tapi bagaimana tanggapannya tentang Sania? Sejak kejadian itu ia tidak pernah berkomunikasi dengan keluarga Ivana. Penolakan Ruby selama bertahun-tahun membuatnya tidak bisa memikirkan hal lain.
Ruby melanjutkan. "Nenek bilang, Mama Sania pernah kan diajak mama ke rumah, dulu?"
Sania mengangguk ragu. "Hanya sekali, dan itu sudah lama."
"Dan Nenek masih ingat." Ia raih tangan Sania yang di atas meja. "Beliau nanyain temen mama Ivana yang suka makan gudeg buatannya, juga nanyain menantunya yang dari dulu pengen bisa manjat pohon kelapa tapi susah sekali diajarin..."
Pasangan suami istri itu tampak tercengang.
"Benarkah?" tanya Sania menyakinkan.
"Yup. Termasuk nanyain cucu laki-lakinya yang nggak pernah betah setiap kali ke Jogja karena rumah nenek nggak ada AC."
Raiden melotot. "Heh! Gue nggak semanja itu ya. Gue nggak betah karena di sana banyak kucing, setiap ada kucing liar meong-meong selalu nenek kasih makan, sampai rumahnya jadi basecamp kucing. Lo tahu gue alergi bulu kucing."
"Jadi, deal." Ruby merapatkan telapak tangannya sampai mengeluarkan bunyi. "Kita akan berkunjung ke rumah nenek setelah acara aku, sekalian liburan. Tunggu sebentar."
Ia mengambil ponselnya lagi, kurang dari setengah menit Ruby menyerahkannya kepada Izanagi. "Request nenek mau video call dengan Papa dan Mama Sania." Sebenarnya itu saran Ruby yang ingin hubungan antar keluarganya kembali terjalin baik. Dan tentu saja agar tidak canggung saat bertemu nanti.
Lihat saja betapa kikuknya Izanagi saat wajah sang mantan mertua muncul di layar, apalagi Sania, suaranya terbata. Untung saja neneknya pintar mencairkan suasana, membuat kecanggungan itu perlahan menghilang walaupun belum sepenuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Starlight for Yamaza
Ficção Geral"Dia bukan cowok most wanted dengan segala pesona yang bikin cewek-cewek alay keganjenan kayak cacing kepanasan. Tapi bukan berarti dia cupu. Dia cuma anak pendiam, yang pasrah dengan kondisinya. Satu-satunya cowok yang selalu bawa bekal ke sekolah...
