LIMA• murid pindahan

1.1K 286 54
                                        

---

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-
-
-

Tepat di paling pojokan kantin SMA Bima sakti duduklah Marsel dengan tangan yang terus aktif menekan ponselnya. cowok itu sangat suka ketenangan dan suasana sepi jadi wajar dia selalu nimbun di pojokan. Namun, seperti yang terlihat dia sebuah maha karya indah yang tak bisa berada di pojok. Bagaimana pun Marsel ingin menyendiri fansnya selalu ada mengitari. Wanita-wanita centil menyerbu seakan tak punya malu.

Namun kali ini tak ada orang karena sebentar lagi upacara hari senin akan dimulai, jadi wajar suasana kantin sangat sepi karena ya tadi seluruh murid sedang sibuk baris membaris di lapangan. Berbeda dengan cowok kuyuk ini dia acuh dan santuy dia dengan tenang duduk di kantin. Dan perlu di garis bawah, ini kebiasaan buruk yang sudah dia lakukan 1 tahun ini. 

"Lo gak ikut upacara?" tanya Rama yang tiba-tiba muncul dari belakang Marsel.

"Ngapain ga penting!!" jawab Marsel singkat dan jelas.

Rama menggelengkan kepalanya heran akan jawaban kawannya itu, apa? bermain game lebih penting dari pada ikut serta dalam upacara? Kadang Rama gedeg juga, mau dia lempar kepalanya tapi sayang otaknya masih bisa di pake.

"Mungkin di minggu-minggu sebelumnya lo bisa gak ikut, namun hari ini lo harus ikut. Asal lo tau aja bapak kepsek mau mengumumkan sesuatu yang penting." Rama pun menarik bangku dan duduk tepat di samping Marsel.

Marsel masih tak peduli akan omongan Rama dia tetap fokus akan gamenya. Begitu lah, Marsel kalau sudah main game langit runtuh pun dia gak akan sadar.

"Wah bangkee... Main keroyokan.." jerit Marsel kesal dan frustasi akan gamenya. Rama hanya bisa tersenyum sendu, hilang sudah semangatnya untuk menghadiri upacara.

Sampai, seorang murid perempuan berlari kencang, terhenti tepat di depan Marsel dan Rama.

Gadis itu tak berani menatap wajah kakak-kakak kelasnya dia memilih menundukkan wajahnya kebawah, dengan sopan dia berkata "kalian berdua harus segera kelapangan sekolah tempat upacara pak agung menunggu kalian."

Yap.. gadis itu bagai burung merpati yang di suruh pak agung, si kepala sekolah. Untuk menyampaikan pesan pada Marsel dan Rama.

"I..ih...." Decak sebal marsel. Jujur saja hatinya masih berat beranjak dari tempat duduknya, dia begitu sangat malas untuk mendengar pidato dari pak agung yang sama sekali gak pernah ia fahami.

Dengan berat hati Marsel berjalan menuju lapangan upacara, dan ia berjalan beriringan dengan Rama. Walau pun para siswi SMA Bima sakti sudah sering melihat Marsel. tetap saja mereka selalu histeris kala Marsel tiba, si cowok super cool bak dewa yunani berjalan dengan gagah didepan mereka. Marsel dan Rama pun kini berdiri tepat dibarisan depan.

30 menit sudah upacara hari Senin berlalu, sampai lah ke momen paling gak penting didunia ini menurut Marsel. Apalagi kalau bukan mendengarkan pidato dari Agung bapak kepala sekolah yang terkenal pemarah itu.

Marsella (1)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang