Akhirnya cerita ini balik, tadinya hilang dan gue panik, wattpad error keknya, moga gak hilang hilang lagi kek doi
Happy reading...
***
(Namakamu) tengah membeli kebutuhannya di supermarket. Menyusuri koridor demi koridor mencari barang yang ia butuhkan. Setelah selesai, ia berjalan menuju kasir untuk membayarnya.
Selesai membayar, (Namakamu) keluar dari supermarket berniat untuk pulang, karena supermarket ini hanya di depan komplek.
'JEDAR!'
Rintik hujan mulai membasahi permukaan bumi disusul sambaran petir dengan suara keras membuat (Namakamu) terkejut. Ia berdiri di luar supermarket.
"Gimana pulangnya dong? Gak bawa payung lagi!" gerutu (Namakamu).
Hujan semakin deras dan tampaknya tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
(Namakamu) segera menghubungi Iqbaal untuk menjemputnya. Ia sebenarnya tidak mau merepotkan Iqbaal tapi mau bagaimana lagi.
"Baal, boleh tolong jemput aku di market depan?"
"Sebentar ya (Nam), tunggu disana"
(Namakamu) memutuskan sambungan setelah mengiyakan ucapan Iqbaal lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Beberapa menit kemudian udara bertambah dingin menusuk permukaan kulit.
(Namakamu) memeluk dirinya sendiri sambil menenteng kresek berisikan barang barangnya.
"(Namakamu)" (Namakamu) samar samar mendengar seseorang memanggilnya karena suara yang terendam bunyi hujan.
(Namakamu) menoleh. "Kak Junior"
"Kamu ngapain sendirian?"
"Habis beli ini tadi" (Namakamu) menunjukkan kantong kresek ditangannya.
"Oh, kamu mau pulang? Aku anterin ya"
"Gak usah kak, tadi udah telpon Iqbaal biar dijemput"
"Oh"
"Kakak ngapain disini?"
"Tadinya mau beli minum"
"Oh.."
"Emangnya dari mana kak? Kok bisa sampai ke sini?"
"Habis ngebasket di lapangan sebelah tadi" Dilihatnya Junior menggunakan kaos dengan celana pendek.
(Namakamu) mengangguk mengerti. Kemudian Junior hanya berdiri diam di sebelah (Namakamu).
Junior melirik (Namakamu) yang tengah memeluk dirinya sendiri dengan menggosokkan telapak tangannya ke lengan.
Junior langsung merengkuh tubuh mungilnya lalu memeluknya membuat mata (Namakamu) melotot sempurna.
(Namakamu) sedikit mendorong Junior agar melepaskan pelukannya namun malah dipererat.
"Kak lepasin.." lirih (Namakamu) tak enak beberapa orang melihatnya dengan tatapan aneh.
"Biar gak kedinginan" (Namakamu) memejamkan kuat matanya. Astaga, dipeluk seorang pria di tengah hujan seperti ini rasanya..
"(Namakamu)!" (Namakamu) tersentak mendengar suara itu. Dengan segera ia mendorong tubuh Junior. Entah sejak kapan Iqbaal datang. Astaga Iqbaal pasti salah paham, belum lagi Iqbaal orang yang gampang emosian.
(Namakamu) menelan salivanya sendiri ketika melihat kemarahan di mata Iqbaal. Tatapan itu sudah sangat jarang bahkan tidak pernah Iqbaal tunjukan lagi.
(Namakamu) tersentak saat Iqbaal menarik kasar tangannya. Menariknya masuk ke mobil tidak peduli hujan membasahinya.
Iqbaal masuk ke jok pengemudi. Lalu mengambil kantong kresek (Namakamu) di lemparnya jok belakang Wajah kesalnya masih tercetak jelas. (Namakamu) hanya menunduk tidak berani mengucapkan apapun. Iqbaal melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Sesampainya (Namakamu) dan Iqbaal keluar dari mobil. (Namakamu) sampai lupa dengan barangnya. Iqbaal menghampirinya menarik lengannya dengan kasar. Jantung (Namakamu) semakin berdebar, Iqbaal semarah ini?
Iqbaal masih belum mengeluarkan suaranya. (Namakamu) benar benar takut jika sikap Iqbaal yang dulu kembali lagi. Jangan Tuhan, jangan biarkan air mata yang sudah dijaga dengan susah payah menetes lagi.
Sampai dikamar, Iqbaal menghempas (Namakamu) ke ranjang yang menjadi basah. Tuh kan, kumat.
"Kamu sengaja pelukan sama Junior depan aku?! Sengaja minta aku jemput?!" bentaknya. (Namakamu) tak berani menatapnya.
"Enggak" jawabnya.
"Lupa punya suami?!"
"Enggak Baal.."
"Oekk!!" Iqbaal sampai lupa Aciel di kamar, sekarang menangis di kotak bayinya, sepertinya karena mendengar suara Iqbaal.
"Urus anak kamu!" Iqbaal keluar dari kamar dan membanting pintu begitu saja membuat Aciel tambah menangis. Baru setelah itu (Namakamu) mendongak bertepatan dengan air matanya yang menetes.
Iqbaal sudah melanggar janjinya.
(Namakamu) segera menggendong Aciel mendiamkannya.
"Aciel sayang, maafin ayah"
"Jangan nangis nak, ayah gak sengaja kok"
(Namakamu) menimang Aciel yang perlahan menghentikan tangisnya. Menatap bundanya dengan sendu, mungkin Aciel tahu apa yang bundanya rasakan.
Iqbaal keluar rumah, masuk ke dalam mobil dengan baju basah. Ia membanting stirnya.
"Argh! Gue kenapa!"
"Bego! Lo udah bikin (Namakamu) nangis! Bego bego! Brengsek lo!"
"Ah!"
"Gak guna!"
***
Caitlin rela datang ke rumah (Namakamu) hujan hujan karena mendengar isakan (Namakamu) dari telepon.
"Iqbaal kasar lagi?" tanya Caitlin tak percaya.
"Iqbaal kayaknya marah, padahal salah paham"
"Kenapa lo gak jelasin?"
"Gue takut"
"Ya ampun (Namakamu)! Lo kenapa jadi gini? Gue kenalnya (Namakamu) yang kuat dan pemberani!"
"Gue gak tahu Cait, gue takut aja"
"Apa perlu gue yang jelasin hah?"
"Gak usah"
"Kalau gitu, lo jelasin!"
"Iya nanti" Caitlin menghela nafasnya.
"Junior tuh siapa sih? Siapanya elo?"
"Kakak kelas gue Cait"
"Suka sama lo?"
"Iya"
"Gak tahu lo udah bersuami?"
"Tau"
"Kok masih ganjen sih tuh cowok!"
(Namakamu) mengangkat kedua bahunya. Ia menatap Aciel yang memasang wajah datar di kereta bayi mendengar obrolan keduanya.
"Yang namanya Iqbaal tetap Iqbaal. Gak bisa berubah sepenuhnya"
Bersambung..
Haiii maaf baru next hehe, pendek juga nih:(.
Please support lewat vote commentnya biar semangat biar mood bagus karna alurnya ikut mood gue wkwk thankss😂❤
Salam sayang,
Meliyana
KAMU SEDANG MEMBACA
Super Baby (COMPLETE)
RomanceSEQUEL IF YOU KNOW "Bikin dedek buat Natesha yuk" "GILA LO BAAL!"
