Janji Abadi

3.1K 336 10
                                        

Temen temen part sebelumnya udah baca belum? Coba liat dulu, di gue jumlah pembaca ga kaya biasa, kayanya error, siapa tau terlewat belum baca..

Happy reading...

Iqbaal terus melajukan mobilnya. Sialnya taksi yang di tumpangi (Namakamu) mempercepat lajunya

Iqbaal berdecak kesal. Matanya terus tertuju pada mobil biru di hadapannya. Sayangnya, saat taksi tersebut mempercepat jalannya, mobil dari belakang menyalip Iqbaal. Iqbaal membanting stirnya. Iqbaal menginjak gasnya lebih cepat, tak lama ia berhasil menyalip mobil di depannya.

Taksi (Namakamu) lolos dari lampu merah. Iqbaal tidak memperhatikan lampu yang menyala merah tersebut dan malah melajukan mobilnya karena sudah tertinggal sedikit jauh dengan (Namakamu).

Mobil di sebelah kiri melaju kencang.  Bunyi klakson menyadarkan Iqbaal yang kemudian panik belum sempat memutar stir mobil tadi juga tidak sempat mengerem dan menabrak kencang mobil Iqbaal terpelanting satu putaran.

*Iqbaal POV on*

Aku hanya menggenggan kuat stir hingga mobil ini terasa bergelinding. Kepalaku membentur kuat kaca jendela, aku merasakan nyeri luar biasa dan sepertinya darah segar mulai mengalir di pelipisku, sebelum akhirnya aku merasakan cedera pada leherku, ku pikir leherku patah.

Aku sadar, mobil ini dalam posisi terbalik, demikian juga aku. Aku mendengar keributan dari luar. Yang aku pikirkan hanya (Namakamu). Aku bahkan tak memikirkan bagaimana nasibku? Apa aku akan mati?

Sebelum akhirnya aku kehilangan kesadaran

*Iqbaal POV off*

Semua yang menyaksikan kejadian tersebut terkejut bukan main. Beberapa diam. Beberapa turun dari kendaraan masing masing dan menyelamatkan korban di kedua mobil tersebut.

Junior yang berada di lajur lain menjadi salah satu saksi kejadian. Ia yang tengah menelpon Julian akhirnya memutuskan sambungannya terlebih dahulu.

Ia terus memandangi korban yang sedang berusaha di bawa keluar oleh orang orang. Mata Junior membulat ketika melihat jelas itu Iqbaal, dengan kepala yang berdarah. Tangannya bergetar hebat bahkan hanya untuk memegang ponsel. Ia gelagapan bingung ingin menelpon siapa? Bodoh, tentunya (Namakamu). Sebelumnya ia menepikan mobil.

Sial. Ponsel (Namakamu) tidak aktif. Junior tak bisa berpikir tenang, hingga satu nama yang terlintas, Caitlin.

"Cait... Iqbaal...!"

"Hallo kak? Kenapa?"

"Iqbaal tabrakan!"

"Kakak ngeprank?"

"Serius Cait!!" mendengar nada serius dari Junior membuat Caitlin tentunya panik.

"Dimana??"

"Jalan Antasari Cait, tapi udah di tolong sama orang sekitar, kayanya di bawa ke rumah sakit terdekat, gue mau nelpon (Namakamu) tapi gak aktif"

"Thanks kak infonya!"

Caitlin langsung menelpon Bastian. Bastian yang tengah sibuk mencuci piring kotor bekas sarapan anak anak tadi kini merogoh ponsel di saku.

"Hadeh kenapa dah!"

"Hallo Bas!"

"Cait lo kenapa? Kan udah gue bilang.."

"Iqbaal Bas, kecelakaan! Ponsel (Namakamu) ga aktif, gimana?"

"Serius lo Cait"

"Seriuss!!!"

"Ya Tuhan! Iya iya, biar gue coba telpon (Namakamu)"

Bastian menelpon Salsha hingga Steffi namun mereka sedang tidak tau (Namakamu) dimana. Sampai yang terakhir..

Super Baby (COMPLETE) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang