Selama ini aku selalu mengalah dan selalu percaya akan ada masanya aku bahagia dan tertawa, namun nyatanya? Aku terlalu percaya sampai tak sadar telah lelah karena memiliki banyak luka
~Quotes41~
~oOo~
Jam sudah menunjukkan pukul 10.15, Aurora hanya duduk dimeja makan dengan mengaduk asal susu coklat dingin yang dibuatnya
"Aduh," gadis itu merasakan sakit yang amat pada tulang keringnya, dan kembali terjerit saat kepalanya merasakan hal yang sama
"Gua kenapa ya, kok pada sakit semua," lagi-lagi ia menjerit kesakitan, "Non kenapa?" mbok berlari kecil melihat anak majikannya merintis kesakitan
"Aku gatau mbok, sakit banget kepala sama tulang keringku," Aurora hampir menjipratkan air mata menahan sakit
'Sumpah, perasaan gua gaenak' - Aurora
"Non tunggu sini ya biar mbok ambilin batu es buat kompres,"
"Eh gausah mbok, Ora berangkat nanti kasih tau mommy sama daddy ya mbok bilang juga Ora ga sakit lagi kok," belum sempat simbok menjawab Aurora sudah berlari kecil menuju kamarnya dengan menahan sakit
Ia mengambil ponsel dan menghubungi nomor yang tertera paling atas, "Hayolah Ara angkat please!" Aurora semakin khawatir karena Aura tidak juga mengangkat telfon nya
"Argh! Persetan dengan fake nerd!" ia mengeluarkan salah satu mobil dan melaju diatas rata-rata
Mang ujang yang melihat ikut mengernyitkan kepala pasal anak majikannya yang entah karena apa sampai berani ngebut bahkan belum melalui pagar
Keringat bercucuran diwajah Aurora, entah kejutan apa yang akan didapatkannya saat sampai disekolah
Gadis itu sudah lebih dari seratus kali untuk menghubungi kembarannya namun masih tidak ada jawaban
"Arrgh! Bangsat! Kenapa harus macet sih!" ia menggigit bibir bawahnya dan mengusap dahi yang penuh keringat, padahal AC didalam mobil tersebut tidak mati
"Kenneth," gumamnya sembari mencari nomer Kenneth, cukup lama masih tidak ada sahutan sedari tadi ia berusaha menahan sakit yang menjadi di tulang kering dan kepalanya
"Ck ga diangkat," ia kembali berfikir sedangkan macet disana masih sangat lama sepertinya
Ia mengingat satu nama lagi di otaknya Aline. Kurang lebih dari dua kali barulah terdengar suara sahutan diseberang sana
"Al-"
"Ora hiks, Ar- Ara hiks,"
Deg.
Jantungnya berdegup kencang kejadian apa ini? Aurora menarik nafas dalam dan mencoba berfikir positif
"Lo nangis? Ara dimana?"
"Hiks, ki kita di Rs. Garcia hiks,"
Aurora mematikan telfonnya sepihak tak tau harus memikirkan apa tapi satu yang saat ini harus ia lakukan, menembus kemacetan.
Ia menggebrak stire mobilnya dan berlari keluar mobil, Ia berlari sekencang mungkin tanpa memikirkan pandangan sekitar
"Ara kamu kenapa?" begitulah gumaman Ora disela sela larinya, sesekali ia berhenti karena lelah
Drrt! Drrt!
Mommy is calling...
"Sa hiks sayang segera kerumah sakit!"
KAMU SEDANG MEMBACA
AURORA : Beautiful but Dangerous!
Teen FictionAurora Huelva Garcia dan Aura Huelvi Garcia, gadis beruntung yang terlahir dari keluarga terhormat Mereka terpaksa pindah dari Perancis ke SMA favorite di Jakarta. Karena suatu hal, kedua gadis cantik itu harus berpenampilan nerd di sekolah yang dim...
