Part 3 Lebih Dari Sekedar

11.1K 806 12
                                        

Anindya POV

"Pernikahan adalah menyatukan seorang pria dan wanita di dalam ikatan yang sah. Nikah itu ada tiga macam. Yang pertama pernikahan yang kita ketahui tentunya, pernikahan yang sah baik dalam agama maupun negara. Yang kedua nikah mut'ah atau nikah kontrak. Ketiga nikah siri, pernikahan yang sah di mata agama, tapi tidak secara hukum."

"Nikah kontrak itu gimana, Pak?" tanya Sesil.

"Nikah yang menggunakan barang sebagai bayaran dan dalam kurun waktu tertentu. Misalnya perjanjian menikah selama setahun, dan harta apa saja yang akan salah satu pihak terima. Namun, nikah kontrak ini tidak dibenarkan dalam agama, atau bisa disebut haram. Sedangkan nikah siri itu, maksudnya tidak sah secara hukum karena tidak terdaftar di KUA. Dan apabila istrinya melahirkan, anak tersebut tidak berhak mendapat warisan."

"Kenapa gak dapat warisan, Pak? Kan anak kandung."

"Karena pernikahannya tidak terdaftar di negara, jadi tidak ada bukti untuk menggugat."

"Kalau perceraian?" tanya Dina.

"Perceraian juga ada dua. Cerai hidup, dan meninggal. Masa idah seseorang yang cerai hidup itu selama tiga bulan, sedangkan jika meninggal adalah empat bulan sepuluh hari."

"Laki-laki itu boleh punya istri lebih dari satu 'kan, Pak?" tanya Iwan yang langsung mendapat sorakan dari kubu siswi.

"Boleh saja asal harus bisa bersikap adil," jawab Pak Ares.

Jujur saja sedari tadi aku hanya menunduk mendengarkan. Sesekali mendongkak dan mendapat balasan tatapan dari Pak Ares. Sepertinya dia juga kurang nyaman menyampaikan materi tentang pernikahan kepadaku.

"Pak ... istri idaman Bapak itu memangnya gimana?" tanya Putri yang jujur saja membuatku merasa kesal. Apa tidak ada pertanyaan lain?

Bunyi bel membuat kegiatan pembelajaran harus terhenti seketika. Putri yang tidak mendapat jawaban dari Pak Ares lantas merengut kesal.

"Sampai sini dulu materi yang saya sampaikan. Untuk pertanyaan yang lainnya, nanti kita bahas di pertemuan selanjutnya. Assalamualaikum?" Ia melempar senyuman lalu melenggang pergi.

"Waalaikumsalam," jawab kami serempak.

"Liat tuh si Putri udah gercep aja dia nyosor Pak Ares." Titi malah memanas-manasi.

Aku memutar mata jengah dan memasukkan buku agama, menggantinya dengan buku Bahasa Indonesia.

"Lo harusnya ngerti. Pak Ares itu lagi ngode," bisiknya.

"Titi berisik!" cicitku malah membuatnya tersenyum geli.

"Lo gak mungkin gak paham, 'kan?" Kedua alisku mengerut karenanya.

"Lo yakin Pak Ares bisa tahan?"

"Maksud lo apa?" geramku.

"Dia 'kan laki-laki dewasa. Mana mungkin bisa menahan diri ketika tidur satu tempat dengan perempuan ... yang apalagi udah halal," jelasnya membuat wajahku memanas seketika.

"Pak Ares gak mungkin begitu," kilahku sembari membuka buku catatan.

Titi diam, tidak berbicara apa pun lagi karena gurunya sudah datang.

Kenapa pemikiran Titi bisa sampai ke sana? Ish ... pikiranku jadi berkelana ria. Astagfirullahaladzim.

Aku meliriknya sekilas, mendapati dia yang tengah senyum-senyum sendiri. Dasar Titi.

***

"Assalamualaikum?" ucap kami serempak ketika memasuki rumah.

Aku duduk di sofa, sedangkan Pak Ares melenggang ke dapur mengambil minum. Kenapa perkataan Titi terus terngiang di benakku? Menyebalkan sekali rasanya. Aku menepuk kepala sedikit kasar, guna mengenyahkan pikiran kotor itu. Sekarang otakku menjadi terkontaminasi karenanya.

Cinta Guru Agama (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang