Reswara POV
"Kita mau ke mana? Pengajian? Kondangan?"
"Memangnya ... siapa yang undang kita?" tanya Inda beruntun.
"Kita gak ke pengajian," sahutku dengan mata terpokus pada layar ponsel.
"Terus kenapa aku harus berhijab?" bingungnya masih terus mematut diri di depan cermin.
"Memang apa salahnya kalau kamu berhijab? Supaya terkesan lebih sopan dan menjaga pandangan laki-laki lain." Aku mendongkak memperhatikannya melalui pantulan cermin.
"Ya ... itu mah resiko. Siapa suruh punya istri cantik begini," kikiknya.
Aku membuang napas pendek, lalu beranjak mendekatinya.
"Karena itu, Mas gak mau kamu jadi perhatian pria di luar sana. Apalagi ... mereka yang menatap lapar."
"Ih, memangnya aku makanan?" Aku mengerlingkan mata. Dia ini polos sekali.
"Bukan 'lapar' dalam artian sebenarnya."
"Hehehe ... iya iya ...." Inda membalik ke arahku.
"Jadi kita mau berangkat kapan? Subuh?" cibirnya.
"Dari tadi Mas udah siap. Nunggu kamu dandan lama banget."
"Dua puluh menit itu sebentar. Biasanya perempuan lain itu menghabiskan waktu hampir setengah abad," kekehnya.
"Jadinya mau berangkat kapan? Katanya udah gak sabar," cibirku membuatnya cengengesan.
Aku mengendarai motor dengan kecepatan rata-rata. Namun tak hentinya Inda menanyakan ke mana kami akan pergi.
"Dinner ya?"
"Eh, tapi ... ini baru jam empat. Mana ada dinner jam segini." Ia bermonolog.
"Atau ... kita mau jalan-jalan ke Ancol? Hmm ... tapi kesorean," gumamnya lagi.
Aku hanya bisa tersenyum geli membayangkan bagaimana reaksi wajah Inda ketika berusaha berpikir keras.
"Jogging? Gak mungkin. Aku 'kan pake baju gamis begini."
"Jadi kita mau ke mana? Jangan main rahasia-rahasiaan ah," geramnya.
"Kali ini beneran nanya sama Mas?"
"Ya iya. Masa aku nanya pohon di pinggir jalan!" ketusnya.
"Jangan marah-marah dong, Sayang."
"Ya udah jawab ih."
"Nanti juga kamu tahu. Sebentar lagi kita sampai. Mohon bersabar ini ujian," kekehku. Terdengar ia membuang napas kasar.
"Berikan Inda kesabaran dalam menghadapi ujian itu ya Allah," serunya.
Tidak berselang lama kami sampai. Inda turun dan mengernyitkan keningnya.
"Panti Asuhan Melati?" bingungnya.
"Memangnya ada acara apa? Kenapa kita diundang? Apa Mas Ares jadi pendakwah?"
"Kamu bisa diam sebentar? Nanti Mas jelaskan semuanya."
"Ya abisnya dari tadi tuh bikin aku penasaran. Kenapa sih? Ada apa?" Ia menghentak-hentakkan kakikinya geram.
"Ayo," ajakku sambil menuntun lembut tangannya.
"Mas Ares!" seru seorang anak laki-laki sambil berlari ke arahku.
"Azhar?" Aku berjongkok dan merentangkan tangan.
Anak itu menubruk tubuhku. Aku balas memeluk sayang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Guru Agama (TAMAT)
Teen FictionReswara adalah seorang guru Pendidikan Agama Islam yang dijodohkan dengan Anindya---gadis yang tak lain merupakan anak didiknya sendiri. Keduanya tidak bisa menolak perjodohan tersebut dan harus menerima dengan lapang dada. Namun, bisakah cinta tumb...
