Part 7 Perhatian dan Ketakutan

9.6K 627 16
                                        

Reswara POV

"Assalamualaikum?" Salamku tak berbalas.

Rumah ini terasa hening. Setelah kembali menutup pintu, langkah kakiku semakin menjejak ke dalam.

"Inda ...?"

Sebenarnya dia ke mana? Mengapa tidak menyahutku sama sekali? Aku pergi ke kamar dan tidak menemukan sosoknya.

"Aduh ...!" Suara rintihan itu berasal dari arah dapur.

Aku melangkah ke sana dan menemukan pintu kamar mandi setengah terbuka.

"Astagfirullah, Inda?" panikku seraya memburunya.

Gadis itu terduduk lemas di lantai kamar mandi seraya memegangi perutnya. Bisa aku lihat juga keringat sedikit bercucuran di pelipisnya.

"Kamu kenapa?" Aku semakin panik rasanya ketika melihat Inda tampak sangat kesakitan.

"Sakit Mas ...," rengeknya.

Matanya mengerat kuat. Aku merasa kalang-kabut dan memilih untuk membopong tubuhnya ke sofa depan.

Inda berbaring dengan bantalan yang kubuat cukup tinggi. Dia masih saja memegangi perutnya. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa dia hamil ... atau jangan-jangan keguguran? Tapi 'kan kami belum pernah melakukan hubungan itu.

"Mas ...?" rintihnya membuat semua lamunanku buyar seketika.

"Mas ambilkan air hangat, tunggu ya." Aku segera melesat ke dapur untuk mengambilkan air hangat.

Setengah berlari aku kembali menghampirinya.

"Ini." Aku membantu memegangi gelasnya supaya tidak jatuh.

Inda minum perlahan dan kembali pada posisinya; duduk setengah berbaring.

"Masih sakit? Biar Mas hubungi Mas Didit ya?" tawarku berbalas gelengan kepala.

"Tolong ... beliin ... kinanti ...," ujarnya terbata-bata.

"Di mana?"

"Minimarket," ringisnya.

Tanpa basa-basi aku langsung melesat. Sampainya di sana, aku malah bingung sendiri. Kinanti itu yang seperti apa bentuknya?

"Cari apa, Mas?" tanya seorang karyawan wanita yang tengah membereskan beberapa barang.

"Kinanti," sahutku.

"Oh ... sebentar." Ia beranjak dan aku mengekori.

Akhirnya dengan bantuannya aku bisa menemukan benda itu. Ternyata dalam bentuk botol berwarna kuning. Sepertinya jamu beras kencur. Aku kira semacam snack atau apa.

Usai melakukan pembayaran, aku bergegas pulang. Tidak mungkin Inda harus menungguku lebih lama lagi. Jujur saja jantungku terasa sedang menabuh genderang. Aku panik tidak karuan.

"Assalamualaikum?"

Langsung saja aku berlari ke dalam rumah dan memberikan benda itu kepadanya. Inda langsung menerimanya dan ia minum.

Aku hanya bisa duduk di hadapannya dengan segala kecemasan. Sekarang malah aku yang terasa berkeringat dingin sebesar biji durian.

Setelah beberapa saat berlalu, tampaknya Inda sudah lebih membaik daripada tadi. Sekarang napasnya kembali teratur, walau matanya masih enggan terbuka. Aku menungkup tangannya yang sedang memegangi perut.

"Sudah baikan?" tanyaku berusaha untuk tidak terdengar bergetar.

Perlahan matanya terbuka dan menjawab, "iya."

"Alhamdulillah." Aku bisa sedikit bernapas lega.

"Kamu sebenarnya kenapa?" tanyaku lembut. Awalnya Inda terdiam, menatapku kebingungan.

Cinta Guru Agama (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang