Part 33 Sapa Dari Masa Lalu

4.6K 365 1
                                        

Reswara POV

"Mas gak pergi ke pabrik?" Inda sedikit menggoyangkan tubuhku.

"Nggak. Ada Dian," jawabku malas.

Jujur saja kalau mataku rasanya berat. Mungkin karena beberapa hari menginap di rumah sakit, alhasil kekurangan tidur.

Bukan sofa itu tidak nyaman, hanya saja aku tidak tahan dengan aroma dan suasana khas ruang inap. Semoga saja aku tidak pernah menginjak tempat seperti itu lagi.

"Hmm ... kalau begitu makan dulu, aku udah siapin makan."

"Sebentar lagi. Lima menit," gumamku masih dengan mata yang enggan terbuka. Berbicara pun malas menanggapi rasanya.

"Aku tunggu lima menit." Inda setengah kesal.

"Hmmm."

Sepeninggalan Inda, aku malah kembali merasuk dalam dunia mimpi.

"Mas ...!" serunya lagi. Bedanya sekarang tubuhku sedikit ia guncang.

"Sebentar. Lima menit."

"Iya lima ... lima puluh!" ketusnya.

"Bangun ...!" Sekarang dia malah menarik-narik tanganku. Aku balas menarik tubuhnya, membuat Inda jatuh ke dalam pelukanku.

"Ih kok malah peluk aku sih?"

"Biar kamu gak mengganggu terus. Ya udah tidur lagi."

"Nggak mau. Aku gak ngantuk, malah disuruh tidur," gerutunya.

"Ya kalau begitu temenin aja."

"Nggak mau ah." Inda berusaha menyingkirkan tanganku yang dengan erat memeluk tubuhnya.

"Lepasin!"

Aku merenggangkan pelukan.

"Kenapa? Kok diam? Katanya mau dilepas," ejekku.

"Iya ini juga mau turun," kilahnya.

"Memangnya gak mau dipeluk suami?"

"Y-ya ... gitu deh." Aku yakin seribu persen kalau pipinya kini bersemu merah.

"Ya makanya diam aja."

"Tapi aku gerah." Inda bangkit, duduk bersandar di kepala ranjang.

Aku mendongkak sesaat lalu memeluk pinggangnya dengan sebelah tangan.

"Mas kok jadi manja banget gini sih? Heran aku tuh."

"Gak tau. Mas sendiri juga ngerasa aneh," kekehku.

"Ish ngeselin jawabannya."

"Sayang ... jangan marah-marah dong. Nanti cepet tua."

"Memangnya kalau aku tua ... Mas gak mau lagi sama aku?" Nadanya terdengar sinis.

"Sebelum kamu tua ... Mas udah tua duluan." Mendengar itu Inda malah tertawa pelan.

"Heran. Mau-maunya kamu sama om-om."

"Ya ... awalnya sih gak mau. Bahkan aku sempat berpikir buat kabur dari rumah, tapi gak mungkin. Soalnya di sekolah pasti ketemu Bapak," polosnya.

Mataku terbuka sempurna karenanya. "Jadi kamu mau kabur?"

"Hehehe ... iya. Tapi itu 'kan pa-da a-wal-nya."

"Kalau sekarang?"

"Aku ... jadi gimana-gimana gitu ya Om. Aku masih kecil sekarang sukanya om-om." Ia sedikit bersenandung lalu diakhiri tawa kecil.

"Terserah deh." Aku kembali memejamkan mata.

"Memangnya ... Mas gak pernah berpikir buat kabur?"

"Kalau kita gak berjodoh, mungkin iya. Saya bisa kabur atau menolak perjodohannya."

Cinta Guru Agama (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang