Anindya POV
Mataku perlahan terbuka dan sedikit terhenyak ketika menyadari masih berada di dalam mobil Mas Fredy.
"Udah sadar?"
"Eh, i-iya mas."
Aku melihat rumah masih dalam keadaan gelap. Itu artinya Mas Ares belum pulang. Hujan malah semakin menderas.
"Sebentar," cegahnya ketika aku hendak membuka pintu.
Dia keluar, berjalan memutar ke arah pintu kiri bertudungkan jas.
"Ayo!" ujarnya ketika membuka pintu.
Lantas aku ikut berpayungkan jas itu bersamanya. Namun, hanya aku yang terlindung dari hujan. Sebagian kemeja putihnya basah, bahkan mencetak jelas isinya.
Aku menunduk, dan bingung harus bagaimana. Menyuruhnya pulang? Mungkin akan terdengar kasar dalam keadaan seperti ini. Dia pun tampak kedinginan.
"Masuk dulu, Mas?" tawarku pada akhirnya.
Aku membuka pintu dan menyalakan lampu ruang tengah.
"Silakan, Mas. Mau aku buatin kopi atau teh hangat?"
"Kopi hitam aja. Tapi jangan terlalu manis," jawabnya sambil membersihkan kemeja yang terkena percikan air hujan.
"Biar aku keringin jasnya."
Diberikannya jas itu kepadaku. Biar kugantung di belakang. Aku membuatkan kopi dan menyuguhkannya ke depan.
"Terima kasih," gumamnya langsung menyeruput kopi panas itu.
"Aku ... ganti baju dulu sebentar," ujarku sambil melenggang ke kamar.
Sebenarnya sangat tidak nyaman berada di rumah bersama orang yang terbilang asing. Apalagi ... hanya berdua. Aku harap hujan cepat mereda, dan Mas Fredy juga cepat pulang.
Aku harus bagaimana? Duduk bersamanya? Aku memutuskan untuk menghubungi Mas Ares, tetapi nihil. Ponselnya tidak aktif.
Aku kembali ke ruang tengah dan hanya duduk tanpa berbincang. Hujan ... cepatlah berlalu!
"Apa Reswara sudah melakukan kewajibannya sebagai seorang suami?" Pertanyaan yang ia lontarkan itu membuatku sedikit terbelalak padanya.
"Ya ... dia sudah bersikap layaknya seorang suami," jawabku seadanya.
Bukan aku tak mengerti arah pembicaraannya, hanya saja ... kurasa tidak pantas untuk dibahas.
"Saya yakin kamu tahu maksud dari pertanyaan saya."
"Mas Ares mau menunggu kelulusan aku," jawabku pada akhirnya.
"Kamu yakin dia normal?" Aku merasa detak jantungku berhenti seketika. Tentu saja Mas Ares normal. Dia ... pernah menciumku.
"Maksud saya ... mana mungkin seorang pria dewasa bisa menahan diri ketika berada dalam satu tempat tidur bersama perempuan. Yang apalagi ... istrinya sendiri."
"Tapi mana mungkin suamimu begitu." Ia tersenyum kecut.
"I-iya." Hening.
Apa yang diucapkan Mas Fredy tentu saja berhasil membuatku gelisah. Di satu sisi memang menunggu kelulusanku adalah alasan yang benar. Namun, yang dikatakan Mas Fredy juga mungkin ada benarnya. Mana mungkin laki-laki bisa menahan hawa nafsunya? Memikirkan hal tersebut membuat kepalaku sakit.
Tidak berselang lama, hujan mulai mereda. Mataku terus mencuri pandang pada jarum jam yang terus berdetak maju.
"Kamu udah ngantuk?" tanyanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Guru Agama (TAMAT)
Novela JuvenilReswara adalah seorang guru Pendidikan Agama Islam yang dijodohkan dengan Anindya---gadis yang tak lain merupakan anak didiknya sendiri. Keduanya tidak bisa menolak perjodohan tersebut dan harus menerima dengan lapang dada. Namun, bisakah cinta tumb...
