Reswara POV
Aku mengusap pucuk kepala Inda yang tengah terlelap. Matanya sembap, hidungnya merah. Apa mungkin dia menangis seharian?
"Hhah ...." Aku mendesah panjang, masih enggan melepaskan tatapan darinya.
"Mas minta maaf," bisikku.
Napasnya masih sedikit tersenggal. Jujur hatiku berdenyut nyeri. Aku sudah membuatnya menangis hari ini. Apa benar yang dikatakannya tentang Dilah? Dia memang mantanku. Namun, ... bukan berarti yang terindah, 'kan? Lagi pula apa salahnya kalau kami sekarang berteman?
Aku merasa tidak mengatakan apa-apa tadi siang, dan aku tidak melihat cincin yang Inda bilang.
~FlashBackOn~
"Apa kabar?" Ia mengulas senyuman.
"Baik. Kamu ... apa kabar?"
"A-aku baik."
"Beberapa hari kemarin aku selalu lihat kamu di sini. Dan baru sekarang aku bisa menyapa kamu."
"Kamu sudah menjadi dokter?"
"Hmm ... iya. Masih magang sih. Kamu sendiri?"
"Aku ... guru." Aku menggaruk kepala tak gatal disertai senyuman aneh.
"Guru? Bukannya dari dulu kamu gak mau jadi guru?" Dilah tertawa pelan.
"Ya ... setelah dipikir-pikir, memang apa salahnya?" Aku mengerdikkan bahu.
"Iya juga sih."
"Selamat ya Dil, sebentar lagi cita-citamu terwujud."
"Makasih Res."
Aku dan Dilah hanya bisa tersenyum canggung menanggapi hal ini.
"Btw ... jangan hanya karena kita mantan, kita jadi musuhan ya," gumamnya disertai tawa kecil.
Aku balas tertawa hambar. Entah kenapa rasanya pertemuan ini akan menyebabkan terjadinya sesuatu.
"Nggak lah. Sekarang kita udah dewasa."
"Udah nikah?" tanyaku.
"Hmm ... belum. Doain aja supaya cepat ketemu jodohnya."
"Iya."
"Kamu sendiri gimana?"
"Aku?"
"Pasti udah. Itu yang di jari manismu cincin nikah, 'kan?" godanya.
"Ini ... iya."
"Sudah aku duga." Ia tersenyum lebar namun seketika merengut.
"Kenapa aku gak kamu undang? Ish jahat banget sih. Pasti nganggapnya musuh," gerutunya.
"Hm ... gak ada resepsi mewah kok. Acaranya cuma ijab kabul, dihadiri keluarga inti aja," jelasku.
"Loh, kenapa?"
"Nggak apa-apa."
Mendengar itu Dilah hanya ber-oh kecil.
"Kalau begitu aku pergi dulu," ujarku.
"Memangnya siapa yang dirawat? Istri?"
"Temanku."
"Dia pasien darurat?"
"Bukan, luka kecil aja. Dokter bilang, lengannya itu gak boleh dulu banyak bergerak."
"Oh oke."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Guru Agama (TAMAT)
Dla nastolatkówReswara adalah seorang guru Pendidikan Agama Islam yang dijodohkan dengan Anindya---gadis yang tak lain merupakan anak didiknya sendiri. Keduanya tidak bisa menolak perjodohan tersebut dan harus menerima dengan lapang dada. Namun, bisakah cinta tumb...
