Reswara POV
"Tapi ... aku masih terlalu dini rasanya," gumamnya.
"Tapi, Mas sudah tua Inda." Aku menatapnya dengan raut wajah serius.
"Wajahnya muda kok."
"Usianya. Sudah otw tiga puluh tahun." Inda tidak membuka suara.
"Tapi 'kan belum," lirihnya.
Aku mendesah panjang, "Kamu bisa melakukan KB kalau mau. Mas tidak akan memaksa jika kamu tidak ingin."
Aku terlentang dan memejamkan mata. Apa Inda mau menunda hal itu? Di satu sisi aku mengerti akan posisinya yang masih terbilang belia. Bahkan beberapa bulan ke depan, kuliahnya sudah mau mulai. Namun, aku sudah mau menginjak usia tiga puluh. Jika harus menunggunya lulus empat tahun kemudian ... itu akan memakan waktu yang sangat lama.
Inda mematikan lampu tidur di nakasnya. Tumben sekali.
***
Keluar dari kamar mandi, aku melihat Inda tengah berkutat dengan peralatan dapur juga bahan masakan. Entahlah, rasanya canggung sekali menyapa Inda saat ini.
Aku memilih untuk melenggang ke kamar, berganti pakaian.
Ponselku berdering, ternyata panggilan dari Idwan. Sudah ada notifikasi lima belas panggilan sedari tadi. Mungkin Inda tidak mendengar karena ada di dapur.
"Waalaikumsalam, kenapa?"
"Tolong bantu gue! Risti masih marah sama gue gara-gara hari itu," jelasnya.
"Bantu gimana?"
"Cuma lo yang bisa memberikan pengertian sama dia. Gue mohon ...." Tidak biasanya Idwan bersikap sampai seperti ini.
"Jadi gue harus gimana?"
"Lo di mana?"
"Rumah. Rencananya gue mau ke pabrik."
"Gue tunggu kedatangan lo di pabrik. Buruan!"
"Oke."
"Assalamualaikum Pak Guru?"
"Waalaikumsalam." Usai mematikan sambungan telepon, aku segera berpakaian.
"Inda, Mas berangkat sekarang. Assalamualaikum?" ujarku di ambang pintu dapur.
"Mas?!" teriaknya ketika aku hendak melewati ruang tamu.
"Ada apa?"
"Hmm ... aku udah bikin nasi goreng. Mas gak mau sarapan dulu?" gumamnya.
"Idwan sudah nungguin Mas."
"Hmm ... dibekal, mau ya?"
"Boleh."
"Tunggu sebentar, aku siapkan." Setengah berlari Inda ke dapur.
Sedangkan aku, duduk sejenak di sofa.
"Ini, Mas." Inda menyodorkan tas bekal.
"Iya. Makasih. Assalamualaikum?"
"Hm ... Mas?" Aku menoleh kembali.
"Salim," gumamnya. Inda mencium tanganku.
"Waalaikumsalam," sahutnya kemudian. Aku segera berangkat.
"Hati-hati," ujarnya ketika aku hendak menghidupkan mesin motor.
"Iya." Setelah mengatakan hal itu, aku pergi.
***
"Lama banget sih. Gue nunggu dari tadi," geramnya ketika aku baru saja sampai di parkiran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Guru Agama (TAMAT)
Novela JuvenilReswara adalah seorang guru Pendidikan Agama Islam yang dijodohkan dengan Anindya---gadis yang tak lain merupakan anak didiknya sendiri. Keduanya tidak bisa menolak perjodohan tersebut dan harus menerima dengan lapang dada. Namun, bisakah cinta tumb...
