Part 12 Aku Bukan yang Pertama

8.9K 563 7
                                        

Anindya POV

Aku merasa kesal setengah mati padanya. Ya ... walaupun itu sebuah kejujuran. Aku menghargai itu, tapi tetap saja aku marah. Dia yang pertama bagiku, tapi aku yang kedua!

"Hari ini kamu ekskul?" Aku hanya menggeleng cepat sembari mengikat tali sepatu.

"Kamu gak mau memaafkan Mas?" Ia duduk di sampingku.

"Kita berangkat, takut kesiangan!" Aku beranjak mendahuluinya.

Terdengar ia menghembuskan napas kasar dan berjalan mengikutiku.

Di sepanjang perjalanan aku hanya terdiam. Bukannya berhenti di tempat biasa, Mas Ares malah terus melajukan motornya.

"Turunin aku," pintaku yang tidak didengarnya.

"Atau aku loncat?" Ancamanku tidak berhasil.

Sudah seperti ratu drama saja aku ini. Jantungku rasanya berdebar kencang ketika kami mulai mendekat ke area sekolahan. Bagaimana jika ada yang melihat? Harus beralasan apa?

Tidak berselang lama kami berhenti. Aku segera berjalan mendahuluinya. Hingga kurasa sebuah tangan menggenggamku lembut dari arah belakang. Sontak aku menoleh ke arahnya.

"Ini sekolah." Aku berusaha menarik tanganku, tetapi Mas Ares malah semakin mengeratkan gegenggamannya.

"Ini masih pagi. Parkiran juga masih sepi," kilahnya.

"Ya tapi 'kan ada penjaga sekolah," geramku sambil menatapnya nyalang.

"Kalau kamu mau maafkan Mas, nanti Mas pergi deh." Apa? Dia mencoba negosiasi?

"Aku pikir-pikir dulu." Aku menghempaskan pegangannya sedikit kasar dan bergegas pergi.

Aku mengisi soal dengan pikiran mencabang ke sana-ke mari. Apa aku harus memaafkan Mas Ares? Lagi pula itu 'kan dulu, jauh sebelum dia mengenalku.

"Jangan melamun," teguran itu membuatku sedikit terhenyak.

Ternyata Pak Willy. Aku balas tersenyum aneh dan kembali pada soal. Pelajaran Agama Islam ... meningatkanku terus pada Mas Ares.

***

"Gue pulang duluan Sis," pamitku pada Siska yang masih duduk bersama Titi di halte depan sekolah.

Mas Ares menungguku di tempat biasa. Namun, kali ini dia harus lanjut pergi ke perusahaannya. Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Namun, bayangan ketika ia berkata jujur ... membuatku merasa waswas. Apa mungkin dia akan melakukan hal itu dengan wanita lain?

"Astagfirullah ...!" Aku memukul pelan kedua sisi kepala, guna mengenyahkan pemikiran buruk itu.

Daripada bosan sendirian juga tidak ada acara bagus di tv, aku memutuskan membuka aplikasi streaming film. Aku menemukan film tentang virus zombie yang menyebar di Korea. Awalnya biasa saja, karena memang belum muncul zombie.

Hari menjelang petang dan aku masih duduk menonton. Semuanya berawal ketika virus menyerang beberapa hewan hingga melebar ke kalangan manusia. Satu persatu dari mereka mulai digigit dan berakhir menjadi zombie.

Korban terus bertambah semakin banyak, bahkan hampir semua orang menjadi zombie. Aku mulai ketakutan, apalagi melihat mereka berlari dikejar-kejar. Untuk dimangsa tentu saja.

Jantungku berdetak cepat dan lampu rumah seketika padam. Aku menjerit cukup keras, bersama dengan ponsel jatuh mengahantam karpet lantai.

"Kenapa gelap?" Aku coba meraba-raba ke bawah meja, berusaha mencari keberadaan ponsel.

"Di mana, sih?" Suaraku semakin terasa bergetar. Aku takut.

"Aawwh." Tanganku sepertinya sedikit tergores, hingga terdapat luka kecil.

Cinta Guru Agama (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang