31 – SETIA
“LEVI LAMA banget ambil sapunya, sih? Ambil sapu di gudang mana dia? Gudang garam?”
Suara menyebalkan barusan keluar dari mulut Rara yang duduk santai. Cewek itu sedang memperbaiki tatanan rambutnya. Matanya menatap lurus HP yang digunakannya sebagai cermin.
“Angke, lo ngomong sama siapa, Anjir?” sahut Davina dari sebelah.
“Ngomong sendiri gue,” balas Rara cuek. Perhatian cewek itu sudah lepas dari HP miliknya. Tatapannya mulai beralih pada Davina, menyadari satu hal. “Angke? Angke siapa?”
Davina mengangkat sebelah alisnya dengan santai. “Lo, lah. Siapa lagi?”
“Nama gue Rara! Bukan Angke!”
“Iya .… Angke—Bangke. Nama yang cocok buat lo, tuh, Bangke!” Davina tertawa lebar, puas sekali melihat wajah Rara yang merah karena kesal. Melinda dan murid lain yang ada di stand ikut tertawa. Rara ini memang sangat menyebalkan, makanya banyak orang yang tidak suka dengannya.
Rara telah berdiri dari tempat duduk dan bersiap menghampiri Davina yang ada tidak jauh darinya. Sampai atensi Rara teralihkan ketika melihat cowok bertubuh tinggi yang berjalan dengan salah satu tangan bersembunyi di balik kantung celana. Berjalan tepat di depan stand mereka.
“Izi!”
Suara panggilan Rara membuat mereka semua yang ada di stand ikut menoleh ke arah cowok itu.
“Izi, mampir ke stand kita dulu, yuk,” ajak Rara dengan genit. Sementara Izi diam tidak meresponnya. Tidak mendapat respon apa-apa dari Izi membuat Rara menghampiri cowok itu, membawa paksa Izi untuk masuk ke dalam stand mereka. “Izi, Sayang, duduk dulu, ya, di sini. Rara mau ambilin Izi camilan sama minuman dulu,” pinta Rara dengan nada yang dibuat semanis-manis mungkin.
Membuat Davina yang melihatnya bergidik jijik. “Gatel banget! Sini gue kasih kalpanax, biar nggak kegatelan!” cibir Davina.
“Sirik!” balas Rara, segera mengambil apa yang dikatakannya tadi.
“Kenapa Levi lama banget, ya?” keluh Melinda. “Mending lo susul dia di gudang, deh,” perintah Melinda pada Davina. Davina tidak menjawab secara pasti, dia hanya menampilkan mimik malas untuk berjalan. Seolah mengatakan kalau dia sangat lelah.
Perhatian Davina berpindah pada Izi yang duduk tepat di depan mereka. “Izi,” panggil Davina, tapi cowok itu tidak menyahut. “Izi! Woy, Izi!” panggil Davina lagi. Kali ini cowok itu menoleh kepadanya. “Lo kenal gue, nggak?” Davina menunjuk dirinya sendiri.
Izi yang bingung hanya menggelengkan kepalanya. Melinda yang melihat hal itu menahan untuk tidak tertawa. Davina mendengkus kecil. Bukannya merasa terkenal. Tapi siapa yang tidak tahu Davina di sekolah ini? Pelukis berbakat yang terkenal cantik.
“Kalau cewek di samping gue ini lo kenal?” tanya Davina lagi, sambil menyikut Melinda. Lagi-lagi Izi menggelengkan kepalanya. Cowok itu memang tidak mengenal siapa mereka. Kali ini Davina yang menahan tawa. Astaga …. apa ada orang di sekolah ini yang tidak mengenali wajah dari kapten tim cheerleaders DES? Hanya Izi orangnya.
“Kalau Mimi Peri, kenal, nggak?”
Izi menggeleng lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
D E T A K [COMPLETE]
Novela JuvenilShanata Levi Azzura punya segalanya, kasih sayang orangtua, hidup berkecukupan, dan kesempatan kedua dalam hidup setelah menerima donor jantung. Sepuluh tahun ia menunggu, hingga akhirnya bisa merasakan indahnya masa SMA, hal yang selama ini hanya i...
![D E T A K [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/219604903-64-k706686.jpg)