12 : Bagian Yang Hilang

1.3K 166 20
                                        


Lisa sudah menyiapkan semuanya. Ia sudah mengemas barangnya. Ia tidak mau tinggal lebih lama lagi di sini. Terlalu menyesakkan. Lisa sudah cukup lelah. Tidak akan ada yang berubah. Hanbin juga akan tetap sama.

Ia tidak mau peduli lagi dengan kuliahnya. Ia tidak akan mendengarkan ibu mertuanya. Ia juga tidak akan menyalahkan orang tua Hanbin atas semua ini. Mungkin jika menjadi orang tua, Lisa akan melakukan hal yang sama untuk melindungi anaknya? Lisa menggeleng, ia tidak akan melakukan hal itu.

Jam menunjukkan pukul dua lewat 35 menit pagi hari. Ia menaruh surat yang ia tulis dengan tangan sendiri di atas meja belajarnya. Tepat pukul tiga ia akan keluar dari rumah ini. Jantungnya berdegup kencang karena gelisah. Ia berharap apa yang ia rencanakan akan berhasil.

****

Hanbin terdiam dibawah tempat tidurnya dengan posisi duduk membungkuk. Perkataan Lisa membuatnya tersadar. Masih ada bagian yang ia lupakan. Ia menjambak rambutnya kasar.

Bodoh!

"Lo cuma mikirin diri lo tau gak! Gue harap lo juga udah inget kenapa akhirnya kita dipaksa nikah."

Perkataan Lisa membuatnya sangat frustrasi. Hanbin ingat, ia ingat kenapa mereka dipaksa menikah.

Hari itu orang tua Lisa datang ke rumahnya tanpa Lisa. Hanbin yang tidak tau apa-apa terpaksa harus ikut duduk bersama mereka.

"Tadinya saya mau mengikuti kata Lisa untuk tidak mempermasalahkan malam itu." Ayah Lisa mulai berkata dengan serius setelah dihidangkan teh dan beberapa camilan.

"Maksudnya?" tanya Bunda Hanbin.

Hanbin menundukkan kepala. Rasa malu dan bersalahnya semakin menjadi dihadapkan dengan orang tua Lisa lagi.

Tangan Ibu Lisa membuka tas yang ia bawa. Wanita itu mengeluarkan sebuah kotak dari sana lalu menaruhnya di atas meja. "Saya gak bisa diam aja liat anak saya tersiksa sendirian."

Mengetahui benda apa itu. Bunda Hanbin menutup mulutnya terkejut. Ia kira semuanya sudah selesai beberapa minggu ini. Nyatanya tidak ada yang selesai.

Hanbin ikut bingung, ia sendiri yang tidak tau apa bemda itu. Rawut wajah orang tuanya membuat ia sangat khawatir.

Bunda Hanbin mengambil benda itu untuk memastikan apakah pikirannya benar adanya. Melihat dua garis terdapat di sana Bunda Hanbin semakin terkejut. Tangannya terulur menyerahkan benda itu kepada Hanbin.

"Apa?" tanya Hanbin hati-hati.

Ketika Hanbin melihat benda asing menunjukkan dua garis di sana tangannya gemetar. Ia memang baru melihat benda apa itu, tapi ia tidak bodoh. Itu adalah test pack kehamilan. "Lisa hamil."

Suara Bunda Hanbin terasa diiringi petir yang menyambar kuat di telinganya dan tubuhnya.

Lisa hamil. Hamil anaknya. Hanbin terduduk lemas.

Mereka dinikahkan walau Lisa menolak keras, Lisa terus berkata akan menjaga anak itu sendirian. Tetapi mereka pada akhirnya dinikahkan secara sah. Mereka menikah karena Lisa hamil.

Karena Lisa hamil.

Kepala Hanbin terasa kosong. Ia tidak tau harus berbuat apa sekarang. Ia mana bisa berhadapan dengan semua orang. Ia harus apa?

Seminggu setelah mereka menikah berita itu sampai kepada pihak sekolah. Lisa dan dirinya dikeluarkan dari sekolah. Usai dari ruang BK saat itu, Hanbin menarik Lisa menuju rooftop sekolah. Ia menyuruh Lisa meminum pil itu berharap Lisa keguguran tapi berakhir ia yang meminumnya. Ia merasa kehidupannya hancur karena Lisa.

Hanlice - MemoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang