Pertemuan pertama Angel membawa Lisa makan di restoran sederhana. Lumayan juga harganya untuk porsi satu orang. Gadis itu mentraktir Lisa makan tanpa tanggung-tanggung, Lisa sampai kekenyangan. Kini mereka berdua sama-sama sudah menghabiskan makanan. Ia jadi berpikir mungkin Angel sudah berubah sekarang. Gadis itu memang masih sangat jutek mungkin seperti itu sifat aslinya, tapi Lisa merasa Angel memiliki sedikit sisi baik karena habis ditraktir.
"Di mana aja lo selama dua bulan? Dicariin satu kampus lo."
"Hah?" Lisa menatap tidak mengerti, untuk apa sati kampus mencarinya.
"Sohib lo, adeknya Hanbin. Masang pengumuman orang hilang buat nyari lo."
Jennie. Ah, Lisa jadi tidak enak kepada sahabatnya itu. Ia bahkan sama sekali tidak menghubungi Jennie.
"Lo tinggal di mana sekarang-- gak gak. Gue rasa lo keluar bawa-bawa koper kaya orang hilang di jalan ya pasti gak punya tempat tinggal kan."
Angel memang paling mengerti tanpa Lisa jelaskan lagi. Angel mengangguk, bibirnya menunjukkan cibiran yang membuat Lisa merasa tersindir. "Ngapain lo kabur sih? Pengecut," katanya dengan santai.
"Sekarang mau ke mana? Perlu gue telepon suami lo?" tanya Angel lagi.
"Angel!" Lisa memanggil gadis di depannya itu frustrasi.
Tangan Angel yang sedang menggenggam ponsel ia turunkan kembali melihat tatapan Lisa. Selain kawan-kawan Hanbin, Angel juga orang yang mengetahui apa yang terjadi pada Lisa. Posisinya saat itu masih berpacaran dengan Hanbin.
"Hadehh, kenapa gue harus ketemu lo lagi sih. Buruan ikut gue." Terdapat nada keluhan tapi Angel mengajak Lisa untuk mengikutinya pulang.
"Gak usah. Makasih. Makasih banyak traktirannya," kata Lisa menolak.
"Lo mau ke mana emang? Lo gak serem? Di sini banyak orang gak bener, banyak orang mabuk kalo malem. Asal lo tahu aja, gue kemarin kena pelecehan seksual di jalanan depan. Masa dagu gue dicolek sama orang mabuk, ih jijik." Angel seakan meludah mengingat hal yang ia bicarakan.
Lisa mengepalkan jari-jarinya. Ia jadi takut karena perkataan Angel. Jujur saja, selama dua bulan tinggal ia sudah mengalami banyak hal. Ia bahkan sempat kecopetan ketika di angkutan umum, untung tasnya saat itu hanya berisi ponselnya yang hilang dan beberapa brosur lowongan pekerjaan. Tapi akibatnya ia harus memakai uang tabungan untuk membeli ponsel baru.
"Rumah gue kosong. Lo bayar sewa ke gue kalo udah ada duit."
Ya itu adalah awal mula Lisa bertemu dengan Angel. Ia tinggal di rumah Angel yang menurutnya lumayan besar. Angel bilang itu adalah rumah neneknya, ia sedari kecil tinggal bersama neneknya karena orang tuanya yang sibuk bekerja. Hanya saja ketika SMA mereka pindah ke kota lain dan membiarkan rumah ini kosong hingga Angel dikeluarkan dari sekolah dan ia kembali ke sini. Sekarang neneknya sudah berada di dunia yang berbeda dengan mereka. Kisah Angel tentang diabaikan orang tuanya cukup menampar keras hati Lisa.
Pada suatu kesempatan yang serius, Angel sudah meminta maaf atas kelakuan bodohnya dulu. Lisa masih ingat perkataannya yang judes ketika meminta maaf.
"Gue gak biasa memohon sebelumnya. Tapi kali ini gue serius. Gue gak bakal ngulang. Gue tau lo gak bisa lupain kejadian gue bully lo, tapi gue bener-bener minta maaf."
Angel mengatakan itu tepat mereka sudah sebulan tinggal bersama. Lisa cukup paham karakter gadis itu yang judes dan terkesan sombong. Tapi ya memang begitu sifatnya, tapi Lisa tau gadis itu tulus.
Memang benar perkataannya, ia tidak bisa melupakan semudah itu tapi ia sudah memaafkan Angel. Gadis itu sudah terlalu baik juga bagi Lisa. Selama belum mendapatkan pekerjaan bisa dibilang ia berhutang sangat banyak kepada Angel, ia makan tidur gratis di rumah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hanlice - Memory
FanfictionMemory itu terus kembali. Memory yang sangat ingin ia hilangkan dari kepalanya. Ingin menjauh ia justru terus berdekatan dengan Hanbin yang terus menatapnya tak acuh. Ia seharusnya membenci pria itu. Tapi otak dan hatinya tidak bisa bekerja sama. Li...
