Kita memang tidak bisa memilih harus menjadi siapa ketika lahir, berada di keluarga bagaimana dan mempunyai saudara seperti apa. Tapi bukankah Tuhan sudah merencanakan semuanya dengan baik bahkan sebelum kita lahir?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mungkin sudah menjadi turunan keluarga Narendra, ketiga anaknya mempunyai ketampanan dan nilai plus yang tidak semua orang miliki.
Devano mempunyai wajah yang sangat tampan, nilai plusnya adalah otaknya yang sangat jenius. Di usianya yang masih muda ini dia sudah menjadi seorang CEO. Ia sangat populer sejak masih sekolah, hingga saat ini banyak sekali para pemegang saham yang ingin mengenalkannya pada anak perempuannya. Namun selalu Devano tolak, karena sekali lagi ia tidak akan pernah mempunyai waktu untuk memikirkan hal seperti itu.
Sean dengan visualnya yang luar biasa membuat siapapun iri dengan proporsi wajahnya, nilai plusnya yaitu ia bisa membuat siapapun jatuh cinta padanya, sampai beberapa kali management modelling sering menghubunginya agar ia mau bekerja sama dengan perusahaan. Sebenarnya jika harus bergelut dengan berkas-berkas yang membuat kepala pusing, Sean lebih menyukai bergaya dan berpose di depan kamera. Tapi jika bukan Sean, siapa lagi yang akan membantu kakaknya.
Hal itu berlaku juga untuk Jeno, Jeno mempunyai wajah yang tidak kalah tampannya dengan badan yang sangat atletis. Dia mempunyai tubuh bugar, namun wajah yang sangat lembut dengan eye smile miliknya. Sama seperti Devano, Jeno mempunyai otak yang cukup jenius selain itu ia juga mempunyai jiwa kepemimpinan yang besar. Tidak heran jika di sekolahnya saat ini Jeno merupakan murid paling pintar yang juga merangkap menjadi ketua OSIS. Jeno juga sering mengikuti ekstrakulikuler basket dan dia merupakan Ace dalam timnya.
Jeno sangat populer di sekolahnya, banyak sekali siswi yang mendekatinya. Bahkan lokernya saja selalu dipenuhi coklat dan surat dari penggemar setiap harinya. Walau terkesan sangat cuek, sebenarnya Jeno mempunyai hati yang lembut seperti wajahnya. Ia tidak pernah membalas balik sapaan para penggemarnya, namun ia selalu menyimpan dan membaca setiap surat dan hadiah dari penggemarnya.
Meskipun sebenarnya Jeno merasa tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu karena ia tidak pernah melakukan apapun untuk mereka.
Walaupun mempunyai penggemar yang begitu banyak, tetapi tidak ada satupun yang benar-benar memberanikan diri mendekati Jeno secara langsung, Jeno terkenal sebagai Ketua Osis yang tegas dan disiplin. Dia itu bisa terlihat sangat galak jika sudah dalam mode serius.
Kecuali satu gadis.
Namanya Olivia Emerald yang merupakan teman sekelas Jeno sejak kelas 1.
Emerald merupakan satu-satunya gadis yang terang-terangan mendekati dan mengatakan menyukai Jeno sejak di kelas 1. Emerald sebenarnya merupakan gadis yang mempunyai wajah dingin dia juga sangat galak pada siapapun, tetapi apabila sudah di hadapan Jeno ia akan berubah 90 derajat menjadi Emerald yang cerewet dan ceria. Jeno sudah beberapa kali memperingati dan memarahi gadis itu untuk tidak selalu mengikuti dan mendekatinya, namun Emerald tetaplah Emerald si gadis yang sangat keras kepala dan tidak kenal kata menyerah.
"Jen mau kemana?"
Emerald memutari tubuh Jeno dari samping kiri ke kanan sambil berjalan.
"Mau ke kantin ya? Lo mau makan apa? Nih gue kasih rekomendasi ya, lo mau makan Baso? Atau lagi pengen makanan yang bikin kenyang? Berarti harus makan Nasi T.O Ibu Imas. Atau mau Baso Tahu Mang Atep katanya tuh bahan-bahannya made in Korea."
Jeno menghela napas kemudian menghentikan langkahnya.
"Lo gak capek apa?"
"Capek kenapa? Capek belajar? Capek sih, emang kenapa? Lo mau bantuin gue ngerjain PR? Boleh banget tuh Jen!!"
Jeno mengacak rambutnya frustasi kemudian mempercepat langkahnya untuk meninggalkan gadis itu.
"IHHH!!!" Emerald berdecak, "Tungguin gue Jen!!"
Setelah memesan 1 porsi Nasi T.O Jeno duduk di salah satu meja kantin paling ujung, tentu saja Emerald terus mengekorinya dan sekarang duduk tepat dihadapan Jeno.
Sepanjang Jeno makan yang Emerald lakukan hanyalah mengoceh hal-hal yang menurut Jeno tidak perlu ia ketahui. Setelah lelah mengoceh, ia hanya akan menatap Jeno lekat-lekat dengan bertopang dagu.
Menurut Emerald, tidak masalah jika Jeno tidak pernah menjawab setiap kali ia mengajaknya berbicara, karena ia sudah tahu betul Jeno adalah lelaki yang sangat irit berbicara. Ia juga tidak mempunyai banyak teman, hanya Echan, Nana dan Juna saja yang terlihat selalu dengan Jeno. Sebenarnya Emerald bingung mengapa Jeno bisa dekat dengan ketiga orang itu, karena menurutnya mereka sangat berisik dan tidak bisa diam sangat jauh berbeda dengan Jeno, baru ia ketahui bahwa ternyata Nana dan Juna tinggal di kompleks yang sama sehingga mereka sudah dekat sejak kecil, sedangkan Echan baru dekat dengan ketiganya ketika mereka berada di satu sekolah yang sama saat SMP. Kata Echan circle pertemanan mereka itu membutuhkan Echan sebagai mood maker. Dan itu terbukti karena sekarang keempatnya tidak pernah bisa dipisahkan.
Emerald mengetahui banyak tentang Jeno. Jeno yang alergi kucing tetapi memelihara kucing, Jeno tidak menyukai makanan pedas, Jeno tidak terlalu suka bermain media sosial, Jeno tidak suka main keluar ia selalu memilih melakukan apapun di rumahnya, Jeno sangat jago olahraga, setengah hari dari hidupnya ia habiskan untuk belajar dan melakukan kegiatan OSIS atau ekskul, dan masih banyak lagi.
Semua itu Emerald dapatkan dari Echan, Nana dan Juna walaupun mereka harus disogok 2 porsi baso terlebih dahulu. Sebenarnya itu tidak masalah, Emerald berasal dari keluarga berada sehingga berapapun bisa ia bayar untuk ditukar dengan informasi mengenai Jeno.
Kata ketiga sahabatnya, Jeno itu tidak sedingin dan secuek yang orang kira. Ia sangat perhatian dan peduli pada orang-orang, walaupun ia tidak pernah terang-terangan menunjukkannya. Sebenarnya informasi yang ini Emerald sudah mengetahuinya, karena walaupun tidak pernah menggubris dan mendengarkannya, seringkali Jeno menunjukkan kepeduliannya pada Emerald. Jeno juga tidak selalu terlihat galak dan tegas, jika sudah bersama ketiga sahabatnya ia ikut menertawakan hal yang sama dan kadang ia ikut memainkan ajakan aneh ketiganya walaupun itu harus di bujuk sangat lama terlebih dahulu.
Tapi baguslah karena Jeno hanya akan bersikap menyenangkan pada ketiga sahabatnya saja, coba bayangkan jika ia ramah pada semua orang, mungkin dari dulu Emerald sudah mempunyai banyak saingan.
"Ngapain dibeli kalo nggak di makan?" Jeno akhirnya bersuara.
"Gue gak suka ya liat orang yang gak pernah ngabisin makanannya." Nah kan, Emerald tahu sebenarnya itu merupakan bentuk kepedulian Jeno terhadapnya.
"Gak apa-apa yang penting gue tetep suka lo."
"... Kenapa lo buang-buang waktu cuma buat gangguin gue sih?"
"Kalo gangguin lo bikin gue bahagia, gue rela terus buang-buang itu waktu"
Jeno hanya bisa menghela nafas, Emerald sudah seperti itu sejak kelas 1 tapi Jeno masih tetap tidak bisa memahami mengapa gadis itu sangat keras kepala.