Kita memang tidak bisa memilih harus menjadi siapa ketika lahir, berada di keluarga bagaimana dan mempunyai saudara seperti apa. Tapi bukankah Tuhan sudah merencanakan semuanya dengan baik bahkan sebelum kita lahir?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sean menggulingkan badannya ke sebelah kanan saat merasa seseorang sedang berusaha membangunkannya. Tepukan itu awalnya hanya tepukan pelan biasa namun karena Sean tidak juga bangun, tiba-tiba berubah menjadi pukulan yang lumayan keras membuat Sean mengerang kesakitan kemudian bangun untuk memarahi siapa saja yang berani mengganggu tidur nyenyak nya.
"Bundaaa!!!" Sean mundur menjauh begitu melihat seorang nenek sedang menatapnya tajam, "K-kamu siapa? tolong.. tolong jangan ganggu saya." Sean menggesek-gesekkan kedua tangannya seperti sedang memohon.
Sharene menoyor begitu saja kepala Sean, "Yang sopan lo sama nenek gue!!"
Sang nenek hanya tertawa, "Rene siapa anak muda tampan ini?"
"Bukan orang yang begitu penting nek. Dia diusir dari rumahnya karena ketahuan sedang menonton video senonoh." Jawabnya sambil berlalu dan duduk di meja makan.
Sean melototi Sharene hendak memberikan klarifikasi namun sang nenek lagi-lagi hanya tertawa, "Ayo sarapan dulu. Nenek sudah masak makanan enak."
Sean duduk di meja makan menuruti permintaan nenek, nenek duduk di sebelah Sean sedangkan Sharene duduk di hadapannya, "Jadi siapa namamu anak muda?"
"Rafael Sean nek, cuman udah sering dipanggil Sean."
Jawab Sharene dan Sean serempak, "Masih calon nek, tunggu aja bentar lagi Rene bakal jadi pacarku."
Sharene menatap Sean tajam. Tatapan galaknya itu sudah terlihat saja padahal ini masih pagi, namun sialnya itu tidak mengurangi kadar kecantikannya.
Lagi-lagi nenek hanya tertawa melihat keduanya, "Udah. Ayok cepet cobain masakkan nenek." Ujar nenek dengan duduk menyamping menatap Sean, sebelah tangannya terulur untuk terus mengelus-elus punggung Sean saat ia sedang makan, matanya juga tidak pernah lepas menatap Sean penuh kasih.
Perlakuan nenek yang seperti itu membuat Sean menghentikan aktifitasnya, nenek mengingatkannya pada Bunda. Dulu bunda juga sering memperlakukan Sean seperti itu, membuatnya merasa seperti orang yang paling disayangi. Tiba-tiba Sean teringat dengan apa yang diucapkan Devano tadi malam, dan air mata Sean bergerumbul di pelupuk matanya. Jika yang dikatakan kakaknya itu benar, betapa malangnya bunda selama ini.
"Kenapa nak? Masakan nenek gak enak?"
Buru-buru Sean mengusap matanya agar air matanya tidak jatuh, ia kemudian menggeleng, "Enak banget nek." Sean memakan masakan nenek dengan lahap untuk menyembunyikan matanya yang memerah.
Diam-diam Sharene memperhatikan, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun Sharene yakin jika lelaki itu sedang tidak baik-baik saja.