Kita memang tidak bisa memilih harus menjadi siapa ketika lahir, berada di keluarga bagaimana dan mempunyai saudara seperti apa. Tapi bukankah Tuhan sudah merencanakan semuanya dengan baik bahkan sebelum kita lahir?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sean benar-benar mengikuti kemana pun Sharene pergi. Ini pertama kalinya Sean menaiki angkot, jujur saja Sean tidak menyukai berada di dalam mobil itu karena ia merupakan cowok yang sangat suka kebersihan.
Mukanya selalu di tekuk memandang ke kiri dan kanan, "Kalo gak suka turun aja."
Sean menggeleng, "Gue harus suka kalo itu berhubungan sama lo."
Sean tiba-tiba mencubit sebelah pipi Sharene, yang langsung di tepis oleh si empu.
"Ngapain!?"
"Abis lo gemes banget kalo udah kesel gitu."
Sharene mendengus tambah kesal.
Akhirnya mereka turun dari angkot dan tiba di sebuah cafe kecil, cafe itu mempunyai gaya minimalis tapi cukup untuk membuat pengunjung betah berlama-lama di sana apalagi sudah tersedia wifi.
"Rene kalo urusan lo itu mau ngopi cantik di cafe kan bisa sambil ngerjain tugas."
"Gue kesini bukan jadi pembeli."
"Terus?"
Sharene mulai memasuki ruangan yang bertuliskan 'staf only', sebelum benar-benar masuk ia menoleh ke arah Sean, "Menurut lo?!"
Ah sepertinya Sharene bekerja sambilan di cafe itu. Sean menghela nafas, kemudian memilih untuk duduk di salah satu meja di cafe itu.
"Kalo gak mau beli mening lo pulang, ganggu aja." Celoteh Sharene setelah ia menggunakan celemek yang sama dengan karyawan cafe lainnya, aneh saja memakai baju seperti itu pun wajah Sharene tetap sangat cantik.
"Gue mau nunggu lo."
"Gue kerja sampe malem."
"Sampe subuh pun gue tungguin."
Sharene memutar bola matanya malas dan membiarkan lelaki itu melakukan apapun yang dia mau.
Sekitar 3 jam Sean masih setia menunggu di sana, Sharene memperhatikan lelaki itu di meja kasir. Sean menghabiskan waktunya dengan bermain game di ponselnya, atau sesekali terus memperhatikan Sharene, dan beberapa kali ia terlihat mengantuk.
Sharene tersenyum kecil saat melihat Sean berusaha menahan matanya agar tidak tertutup menahan kantuk.
Sharene juga tersenyum saat melihat Sean memakan kue yang ia pesan dengan satu suapan. Mulutnya yang sedang mengunyah itu terlihat sangat lucu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.