Kita memang tidak bisa memilih harus menjadi siapa ketika lahir, berada di keluarga bagaimana dan mempunyai saudara seperti apa. Tapi bukankah Tuhan sudah merencanakan semuanya dengan baik bahkan sebelum kita lahir?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jadi kamu guru lesnya Emerald?" Tanya Devano setelah menyerahkan air hangat dan duduk di hadapan Yoana.
Yoana mengangguk, "Aku guru lesnya tapi dia udah kayak adek aku sendiri, ya kebetulan aku ini anak tunggal jadi deket sama Arel selama 2 tahun ini udah ngerasa sama adek sendiri. Kayaknya Arel juga ngerasa gitu, cuman dia masih sering nyembunyiin banyak hal dari aku."
Devano hanya mengangguk-angguk mendengarkan dengan seksama.
"Aku udah denger apa yang terjadi, makasih ya udah biarin Arel tinggal disini."
"Its okay, lagian rumah gede ini kerasa sepi banget cuman diisi 3 orang."
Yoana menatap Devano seolah bertanya apa maksudnya, "Ah nyokap bokap udah meninggal, dan Jeno punya 1 kakak lagi, kita cuman tinggal bertiga." Jelas Devano, "Emerald gadis yang ceria, dia baru 2 hari tinggal disini tapi suasana rumah bener-bener jadi beda."
"Arel emang ceria, dia juga cerewet. Tapi dia banyak nyembunyiin sesuatu di balik keceriaannya."
Devano mengangguk menyetujui, "Sebenernya pas pertama kali liat Emerald, aku ngerasa kalo dia itu mirip sama Jeno. Mereka selalu bersikap seolah mereka gak apa-apa, tapi mata mereka gak bisa bohong. Mereka pinter nyembunyiin luka mereka."
"Berarti mereka cocok, saling melengkapi satu sama lain."
Devano kembali mengangguk, entahlah ia merasa keberadaan Emerald benar-benar berpengaruh untuk hidup Jeno. Dan sepertinya Jeno bisa lebih terbuka dan membagi keluh kesahnya pada Emerald.
"Aku udah kenal Arel selama 2 tahun, dan ini pertama kalinya Arel ceria tanpa beban di pundaknya."
"Kalo keadaan di rumahnya belum membaik dan orangtuanya belum juga nyari Emerald, dia bisa kok tinggal disini."
"........"
"Dengan adanya Emerald disini, Jeno juga jadi gak sendirian kalo kakak-kakaknya belum pulang."
"Emang gak ngerepotin?"
"Gak, sama sekali. Dia bisa tinggal disini sampe kapanpun dia mau. Kamu bisa bantu bawain keperluan dia di rumahnya kalo bisa."
"Iya nanti biar aku bawain keperluan dia di rumahnya. Makasih yaa." Yoana tersenyum lega.
"Oh iya, by the way kamu nggak inget aku?"
"Hng?" Devano terlihat berpikir, "Kamu temen kuliah aku? Atau temen SMA?"
Yoana tertawa kecil sudah menduga bahwa lelaki itu tidak akan mengingatnya, "Mungkin sapu tangan ini bisa bikin kamu inget."
Devano berusaha mengingat-ngingat, "Ah cewek yang diputusin pacarnya di cafe itu?"
Yoana memaksakan tawanya karena Devano mengingatnya seperti itu, "Iya bener, cewek itu."
"Gimana sekarang masih sering nangisin dia?"
Yoana menggeleng, "Aku pikir yang kamu bilang ada benernya. Ngapain ngabisin air mata cuma buat cowok brengsek."