Kita memang tidak bisa memilih harus menjadi siapa ketika lahir, berada di keluarga bagaimana dan mempunyai saudara seperti apa. Tapi bukankah Tuhan sudah merencanakan semuanya dengan baik bahkan sebelum kita lahir?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sean membuka matanya perlahan dan mencium bau obat-obatan. Ia melihat ke sekeliling dan menemukan Sharene sedang menunduk memegangi tangan Sean sambil terus bergumam mengucapkan kata maaf.
Ah benar, setelah diusir di rumah Sharene, Sean mengalami kecelakaan kecil tak jauh dari rumah Sharene. Sebenarnya tidak bisa disebut kecelakaan, saat hendak berbelok tiba-tiba ada sepeda dari arah berlawanan, Sean kaget dan menghindar setelah itu ia tidak ingat apapun karena kesadarannya hilang, ia hanya merasakan kakinya sakit karena tertimpa oleh motor.
Sean tersenyum kecil melihat gadis yang sudah seminggu ini selalu menghindarinya itu kini malah menangisinya.
"Iya, iya udah gue maafin."
Sharene mendongkak, "Sean? Lo udah bangun? Apa yang sakit?"
Sean menggeleng kemudian menepuk-nepuk dadanya, "Ini Rene, disini yang sakit." Ujarnya, "Hati gue sakit banget di diemin terus sama lo."
Sean mulai berbicara setelah mendudukkan dirinya, "Dari kecil gue tuh punya trauma Rene."
Raut wajah Sharene masih terlihat kesal namun ia tetap mendengarkan Sean dengan baik.
"Nyokap bokap gue meninggal karena kecelakaan mobil, dan itu terjadi tepat di depan mata gue. Waktu itu gue masih kecil banget dan bener-bener syok sama apa yang terjadi, ngeliat langsung kecelakaan mengerikan dan parahnya itu nyokap bokap gue sendiri." Sean tersenyum pahit, "Setelah kejadian itu, tiap kali ngeliat kecelakaan atau bahkan gue sendiri yang ngalamin kecelakaan gue selalu inget kejadian itu dan ya gitu tiba-tiba gue udah ga sadar aja."
"Maaf.."
"Kok jadi lo yang minta maaf?"
"Gue udah nuduh tanpa tau yang sebenernya."
Sean tersenyum kecil, "Its okay, lo gak tau apapun jadi wajar kalo lo mikir gitu."
"......"
"Jadi sekarang kita impas ya, lo maafin gue, gue juga maafin lo. Gimana?"
Sharene hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Jangan ngediemin gue lagi, kalo lo marah mening lo nyumpahin gue atau mukulin gue, itu lebih baik."