Kita memang tidak bisa memilih harus menjadi siapa ketika lahir, berada di keluarga bagaimana dan mempunyai saudara seperti apa. Tapi bukankah Tuhan sudah merencanakan semuanya dengan baik bahkan sebelum kita lahir?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah hari itu, keadaan di rumah keluarga Devano terlihat semakin membaik. Devano sangat senang saat Sean pulang dan tidak pernah menginap lagi di luar. Yah walaupun Sean masih saja bersikap kurang menyenangkan pada Jeno. Sean sering sekali mengabaikan Jeno, tidak menjawab saat Jeno bertanya, dan tidak melihatnya sama sekali bahkan saat Devano mengajak mereka makan bersama. Devano selalu ingin memarahi Sean, tapi Jeno selalu melarangnya dan berkata bahwa ia baik-baik saja.
Malam ini kebetulan sekali Sean dan Devano tiba di rumah di waktu yang bersamaan. Keduanya masuk dan Jeno ada di sana tersenyum sangat lebar menyambut keduanya.
"Kak Sean udah makan?"
Sean mengabaikan Jeno lagi dan memilih untuk langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Jeno hanya bisa tersenyum, "Lagi ngapain? Nggak belajar?" tanya Devano.
Jeno menggeleng, "Suntuk belajar terus jadi cari udara segar di ruang tamu di temenin Jojo." Seolah merasa terpanggil kucing itu menghampiri Jeno yang langsung di pangku olehnya.
"Si Jojo gimana keadaannya? Katanya dia lagi sakit ya?"
"Iya kak kemarin udah dari Dokter hewan katanya Jojo ada masalah di pencernaannya."
"ANJIRRRRRR!!!!!!!" Teriak Sean dari lantai atas. Jeno dan Devano bertatapan kemudian beranjak untuk melihat Sean keatas namun lelaki itu sudah lebih dulu turun dengan berjalan lebih cepat dan raut wajah penuh kekesalan.
"Kenapa Sean?"
"KUCING LO YA?!!!"
"J-Jojo kenapa kak?"
"KUCING LO UDAH NGOTORIN KASUR GUE! DIA POOPS DISANA!!!"
Jeno kaget biasanya Jojo jarang naik ke lantai atas, "M-maaf kak-"
"MAAF LO BILANG? KASUR GUE JADI KOTOR DAN KAMAR GUE BAU SEKARANG! SENGAJA YA LO? LO PENGEN GUE TIDUR LAGI DI LUAR GITU?! INI SEMUA AKAL BUSUK LO KAN?"
Jojo melompat dari pangkuan Jeno karena terkejut dengan suara Sean yang semakin meninggi, sedangkan Jeno mengeratkan genggamannya, "Nggak gitu kak.."
Sean mengacak rambutnya frustasi, "Lo sama kucing lo tuh sama! Sama-sama gak tau diri, seneng banget nyusahin orang-"
"SEAN!" Devano akhirnya angkat suara ia merasa Sean berlebihan hanya karena ulah seekor kucing.
"Apa? Lo mau belain anak ini lagi?!
"Lo berlebihan Sean! Kamar lo bisa di bersihin lo ga harus sampe-"
"Sorry kak malam ini gue tidur di luar lagi." Ujar Sean sambil berlalu meninggalkan keduanya.
"Sean Narendra!"
"Tenang cuma sehari ini. Jangan ceramahin gue terus, gue muak. Dan lo-" Sean menatap Jeno, "Bersihin kamar gue!"
Setelah itu Sean pergi dengan menutup pintu sedikit keras.