Cemburu

907 96 1
                                        

"Wah, wah ada apa ini ko kalian dateng ke sekolahnya barengan?" Seru Echan saat melihat Emerald dan Jeno jalan berdampingan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Wah, wah ada apa ini ko kalian dateng ke sekolahnya barengan?" Seru Echan saat melihat Emerald dan Jeno jalan berdampingan.

"Tadi ketemu di depan." Jeno berusaha tetap tenang.

"Aniya, aniya. Gue nyium sesuatu yang mencurigakan. Kemarin lo juga bela-belain gak masuk cuman buat nemenin dia?"

"Jangan-jangan.... kalian-"

"Kak Jevan!"

Jeno bernafas lega saat seseorang memanggil namanya.

"Kenapa, Ra?" Jeno mengalihkan fokus Echan pada Nadira. Nadira adalah adik kelas Jeno, dia itu calon ketua Osis yang nantinya akan menggantikan Jeno.

"Eh Neng macan-" Echan menggelengkan kepalanya, macan itu panggilan murid lain kepadanya karena gadis itu galaknya melebihi Emerald, "Maksudnya Neng Rara, kenapa atuh yang di cari teh si Jeno mulu? Kapan-kapan kalo ke kelas teh nanya nya, Ada Aa Echan yang ganteng ga, atuh?"

Nadira hanya tersenyum canggung pada Echan, jika tidak ada Jeno sudah Nadira habisi lelaki itu. Ia kemudian memfokuskan dirinya pada Jeno lagi.

"Kemana aja kak? Udah dua hari gak masuk tanpa kabar, bikin khawatir tau gak?"

Emerald memutar bola matanya malas, sebenarnya Emerald sudah tahu jika sejak dulu Nadira itu saingannya untuk mendapatkan Jeno. Gadis berkedok calon ketua Osis itu selalu berbicara lembut hanya pada Jeno. Ia juga sering sekali mencari Jeno di kelas dengan berdalih urusan Osis. Untung saja Jeno tidak pernah menyadari maksud dari gadis itu.

"Kemarin aku ada urusan. Sorry lupa ngasih tau."

"Aku udah beresin proposal buat acara nanti kak, bisa di periksa dulu ga? Soalnya siang nanti udah harus beres." Jeno mengangguk kemudian Nadira menarik tangannya.

"Gak bisa nanti aja ya? Sekarang masih terlalu pagi buat ngurusin Osis sialan itu." Emerald menahan tangan Jeno yang di pegang Nadira.

Jeno menoleh kekiri dan kekanan dimana Emerald dan Nadira berada, "Lo duluan aja ke kelasnya sama Echan, yaa." Jeno memilih melepaskan tangan Emerald. Bukan apa-apa, membuat proposal itu harusnya tugas Jeno jadi setidaknya ia harus memeriksanya dan berterimakasih pada Nadira karena sudah membantunya.

Emerald meninju-ninju tangannya ke udara saat Jeno berjalan semakin menjauh dengan Nadira, "ASGFJKARFFAJHY KESEL BANGET GUE!!"

"Ral, lo beneran belum ada perkembangan apapun sama si Jeno?"

"NGGAK! LIAT AJA TADI DIA LEBIH MILIH NENEK SIHIR ITU DARIPADA GUE!!"

Echan mengerjap-ngerjapkan matanya, memang benar pepatah yang mengatakan jangan mengganggu harimau yang sedang lapar itu. Bedanya harimau membutuhkan daging sedangkan Emerald haus akan cinta.

Kekesalan Emerald berlanjut hingga jam istirahat, karena Jeno memilih untuk melewatkan makan siangnya dan menghabiskan waktunya di ruang Osis. Nafsu makan Emerald hilang dan ia lebih memilih diam di kelas. Emerald merogoh tasnya untuk membawa ponselnya namun ia malah menemukan bekal makan dengan sebuah notes kecil.

Step Brother (✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang